Sabtu Masa Biasa XV, 17 Juli 2010

Mi 2: 1-5  +  Mzm 10  +  Mat 12: 14-21

 

'Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang'. Itulah yang kita renungkan seminggu yang lalu; dan dalam Injil hari ditampakkan kepada kita adanya dua kubu: di satu pihak banyak "orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia", dan di pihak lain ada "banyak orang mengikuti Yesus". Ada dua kenyataan orang-orang dalam berhadapan dengan sang Keselamatan itu sendiri, dan memang Dia datang membawa pedang untuk memisahkannya, bukan karena kemauanNya tetapi karena kemauan mereka sendiri yang mendengarkan Dia. 'Sebab firmanNya hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun' (Ibr 4: 12).

Dan kepada orang-orang yang mengikutiNya, "Ia menyembuhkan mereka semuanya, tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia".  Mengapa begitu?  Karena memang kedatangan Yesus bukan sebagai tabib atau pengusir setan, Ia datang untuk mewartakan keselamatan, Dia tidak mau bermain kekerasan dalam penyampaian kabar sukacita, Ia membawa pedang hanya dalam arti akan terjadi pemisahan sikap orang-orang yang menerima dan menolakNya, dan bukannya kekerasan. Ia hanya mengundang dan mengundang agar setiap orang berani datang kepadaNya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap tenaganya.

PerutusanNya telah dinyatakan jauh-jauh sebelum kedatanganNya, sebagaimana firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa". Penyataan ini menegaskan bahwa hanya Yesuslah memang Orang yang diutus Tuhan Bapa di surge, dan tidak ada yang lain; Bapa di surge menyatakan : hanya 'kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya'. Ini berarti Allah sendiri hadir dan menguasai Yesus. Hidup Yesus adalah hidup Allah sendiri. 'Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa' karena memang segala bangsa adalah umat milikNya, Dialah sang Pencipta umat manusia.

KehadiranNya memang tak bersuara, Ia tidak berteriak-teriak seperti Yohanes Pembaptis yang berseru-seru di padang gurun; "Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap". Dan dengan sengaja Ia mengundang dan mengundang orang untuk datang kepadaNya. 'Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan".

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mau mendengarkan? Bagaimana dengan mereka yang tidak mau datang kepadaNya?

Ketidaksetujuan orang-orang yang mendengarkan suaraNya dan tidak mau datang kepadaNya memang selalu terungkap dalam sikap dan tindakan mereka. Mereka selalu mencari kepuasan diri dan mencelakakan orang lain. Mereka tidak segan-segannya menindas sesamanya, terlebih mereka yang lemah dan tak berdaya. Terhadap orang-orang semacam itu, Tuhan yang berbelaskasih selalu menantang dan mengingatkan mereka, katanya sebagaimana dikutip dalam kitab Mikha pada bacaan pertama tadi: "celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar, sebab hal itu ada dalam kekuasaannya; yang apabila menginginkan ladang-ladang, mereka merampasnya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya!  Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku merancang malapetaka terhadap kaum ini, dan kamu tidak dapat menghindarkan lehermu dari padanya; kamu tidak dapat lagi berjalan angkuh, sebab waktu itu adalah waktu yang mencelakakan".

Apakah Tuhan Allah sungguh-sungguh akan mencelakakan mereka?

Tidak!  Dia hanya mengingatkan dan mengingatkan mereka semua. Pertobatan dan kembali kepada kehendak dan belaskasihNya akan meluluhkan kemarahan hati Tuhan. SabdaNya: 'basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! Marilah, baiklah kita beperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba' (Yes 1: 16-18). Inilah kelembuatan hati Tuhan. Inilah 'kelemahan' Tuhan yang berbelaskasih!

Ya Yesus, kehadiranMu sungguh nyata dalam hidup keseharian kami. KehadiranMu yang tanpa suara seringkali membuat kami enggan menanggapiNya, bahkan mengabaikanNya. Yesus, ingatkanlah kami selalu, dan pertajamlah suara hati kami, agar kami semakin hari semakin peka mendengarkan suaraMu yang lembut itu.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening