Sabtu Masa Biasa XVII, 31 Juli 2010

Yer 26: 11-16  +  Mzm 69   +  Mat 14: 1-12

 

Kata Herodes tentang Yesus kepada para pegawainya: "Dia ini adalah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya". Mengapa ia berkata demikian?  Karena memang hanya sampai di situlah kemampuan dia mengenalNya. Pengenalan akan Yesus dimiliki orang yang satu berbeda dengan lainnya. Pengenalan akan Allah adalah semata-mata anugerah dari Allah sendiri, sebab memang 'tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa', dan sebaliknya 'tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak', dan juga hanya kepada 'orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya' (Mat 11: 27). Anugerah Allah yang dinikmati Herodes tentang Yesus hanya sampai di situ.

Terlebih beban dosa yang dimilikinya mengingat kasus pembunuhan terhadap Yohanes Pembaptis yang dilakukannya. Memang dia pernah "ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi"; dia marah dan jengkel karena tegoran Yohanes Pembaptis sendiri kepadanya, suatu teguran yang amat menggelisahkan dirinya: "tidak halal engkau mengambil Herodias!".

Namun ketika ia termakan janji dan sumpahnya sendiri di hadapan para tamu, Herodes pun akhirnya 'memberikan kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam' kepada anak perempuan Herodias yang telah menarik perhatian dengan tariannya yang gemulai.

Janji dan sumpah memang mengikat semua orang tanpa terkecuali, pengingkaran terhadap janji dan sumpah berarti ketidaksetiaan seseorang terhadap apa yang dikatakan dan diikrarkannya sendiri. Apakah janji dan sumpah harus ditaati? Ya memang harus! Yang semuanya itu menunjukkan keteguhan hati seseorang, kesetiaan janji dan sumpah seseorang menunjukkan kepribadian seseorang dalam kata dan perbuatan; kesetiaan seseorang akan janji dan sumpahnya menujukkan kepahlawanan seseorang dalam membela kebenaran!

Bagaimana dengan janji dan sumpah Herodes dalam persitiwa anak Herodias tadi? Janji dan sumpah Herodes sebetulnya dalam konteks hiburan yang tak mengikat seseorang, sumpahnya tadi adalah bukan untuk sebuah kebenaran yang diagung-agungkan. 'Kepatuhan' Herodes pada sumpahnya adalah ketidakmampuan dirinya mengendalikan emosi diri yang takut dipermalukan di hadapan banyak orang, ketakutan akan gengsi pribadi atau jaim (jaga image) yang turun drastis di hadapan banyak orang. Herodes takut pada sumpah dan janjinya bukan karena kebenaran melainkan karena kebodohan dan kebinasaan! Janji dan sumpah akan kebinasaan bisa dan bahkan harus dibatalkan demi keselamatan hidup banyak orang.

Yohanes Pembaptis adalah Martir kedua dalam sejarah iman kristiani setelah penumpasan anak-anak balita yang tidak tahu apa-pa di saat kelahiran dan kedatangan sang Mesias. Kemartiran seseorang yang dicintaiNya membuka kehidupan baru bagi umatNya; sebab 'sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah' (Yoh 12: 24), demikian juga dengan kemartiran Yohanes Pembaptis, yang mendatangkan sang Mesias tampil dan mewartakan pertobatan kepada bangsaNya sebab Kerajaan Surga sudah dekat.

Ada di antara kita yang terikat dengan janji dan sumpah yang mengarahkan kepada kebinasaan?

Tinggalkan itu, kita tidak berdosa atau bersalah bila mengingkarinya, malahan sebagai keberbalikan diri kepada Tuhan sang Empunya keselamatan. Sabda Tuhan melalui Yeremia dalam bacaan pertama juga meneguhkan kemauan ini, kataNya: "perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu". Kepatuhan ala Herodes malahan mendatangkan malapetaka terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya, sebab dia telah melawan nabi yang diutus Tuhan, sebab 'jika dengan membunuh seorang yang diutus Allah, itu berati mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kota ini dan penduduknya'.

Kiranya tidaklah demikian di antara kita!

Sebaliknya, mari kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus sang Kebenaran, sebab pengenalan kita belumlah sempurna, pengenalan kita amatlah sangat subyektif, kita belum mengenal Dia dengan sebenarnya.

Yesus Kristus, tambahlah iman kami kepadaMu agar kami semakin mengenal Engkau sesungguhnya. Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening