Selasa Masa Biasa XVII, 27 Juli 2010

Yer 14: 17-22  +  Mzm 79   +  Mat 13: 36-43

 

Kiranya kita ingat sungguh akan keterangan yang diberikan Yesus perkenaan dengan perumpaan yang kita renungkan kemarin. Hari ini Yesus dalam injilNya menegaskan: siapatah Orang yang menaburkan benih baik, siapatah benih yang baik, siapatah para penuai, apatah ilalang, apatah ladang dan apatah waktu tuai.

Dari rangkaian uraianNya tadi terjadi dua pemisahan satu dengan lainnya, yang satu  adalah "mereka yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi". Apakah Yesus menakut-nakuti? Apakah memang demikian kelak terjadi pada orang-orang  yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan di akhir jaman? Kiranya sekedar memberi gambaran kepada kita semua bahwasannya: perlawanan dan penolakan akan kasih Allah, pengingkaran dan ketidakmauan bergabung dengan keselamatan adalah kebinasaan dan petaka, yang memang sejak semula tidak dikehendaki oleh Allah.

Sebaliknya, "pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa". Matahari dan aneka bintang yang gemerlapan, terang bersinar dan cahaya kemilau adalah tanda dan lambang kemuliaan Allah sendiri. Mereka bercahaya karena mereka bersatu dengan Allah sendiri, mereka berada dalam kemuliaan Yesus. Sukacita yang membahagiakan dan berkepanjangan inilah yang membuat orang rindu tinggal di dalamnya sebagaimana ketika dialami oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes, ketika bersatu dan memandang Yesus yang 'wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang'. (Mat 17: 2)

"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!", tegas Yesus!

Bagaimana dengan kita?

Pertama, kita masuk dalam kategori yang mana? Kiranya kita berusaha terus menerus menjadi orang yang benar di hadapan Tuhan, tetapi janganlah kita merasa diri orang yang layak seperti orang muda yang menonjolkan diri dan berkata: 'semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?' (Mat 19: 20). Tiada orang yang sempurna di hadapan Tuhan. Kalau ada 'keberhasilan' yang kita rasakan dalam diri kita seperti yang dialami oleh orang muda dalam Mat 19 tadi, baiklah itu menjadi bekal bagi kita untuk semakin berani melangkah ke depan ke arah yang lebih baik. Keberhasilan team sepak bola yang mampu membobol kandanag lawan, semakin membuat team giat bekerja guna mendapatkan hasil yang lebih besar lagi.

Kedua, kiranya semangat kekeluargaan perlu kita tonjolkan juga dalam mengejar kesempurnaan; dalam arti kita juga berani mendoakan orang lain sesame kita yang mungkin tidak semujur kita dalam menikmati kebaikan Tuhan; siapa mereka: orangtua kita, anak-anak kita, saudara-saudari kita, teman-teman di sekeliling kita atau mereka yang jauh di sana? Ada baiknya kita merunduk dan mengakui diri di hadapan Tuhan Allah yang berbelaskasih seperti pengalaman nabi Yeremia tadi, dan berseru: "Ya TUHAN, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu, dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?".

Pemazmur hari ini juga mengajak kita untuk memohon belaskasih bagi orang-orang yang kita kasihi, khususnya orangtua kita. "Ya Tuhan, janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!". Sebab hukuman dan denda dosa itu sangatlah bersifat pribadi, hanya mengena para orang-orang yang bersangkutan, tidak dapat dapat ditularkan ataupun diturunkan kepada orang lain atau kita anak-anaknya. Tidaklah tepat adanya anggapan bahwa hukuman dosa seseorang itu  dikenakan dan ditularkan kepada keluarga anak-anak yang ditingalkan sebagaimana dikumandangkan dalam Perjanjian Lama; anggapan adanya penularan ala 'pohon keluarga' mengembalikan iman kristiani kepada iman akan Allah Perjanjian Lama; tidaklah demikian iman kepada Putera Bapa yang tunggal yakni Yesus Kristus!

Yesus, kasihanilah kami.

Hanya padaMulah, kami bermohon dan bermohon yang Tuhan. Yesus, kasihanilah kami orang yang berdosa, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening