Senin Masa Biasa XIV, 5 Juli 2010

Hos 2: 13-19  +  Mzm 145  +  Mat 9: 18-26

 

Iman itu menyelamatkan!

Sulit memang menerangkan bagaimana iman itu menyelamatkan, bagaimana konkritnya, bagaimana pelaksanaannya. Kita harus berani mempraktekkan memang, kita harus melakukannya, tidak bisa sekedar diterangkan. "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup" kata seorang kepala rumah ibadat. Dia orang Yahudi. Inilah iman! Ada keyakinan, ada kepercayaan bahwa Yesus mampu menghidupkan kembali. Kepala rumah ibadat memang belum pernah mendengar bahwa Yesus mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati, dan memang Matius belum pernah menuliskan peristiwa seperti itu. Dia yakin, dia percaya: Yesus bisa dan mau menghidupkan anaknya perempuan.

Demikian juga seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan ini. Dia mempunyai iman. Katanya: "asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh". Bernada mistis memang, tapi itulah kepercayaan dia. Namun kalau kita teliti lebih dalam: kiranya dia sudah memikirkan betapa sulitnya menyapa dan berteriak kepada Yesus dalam kerumunan orang banyak itu, dia amat lemah dan sakit, apalagi dia seorang perempuan! Kemudahan kondisi memang masih  dialami si Bartimeus, dia seorang laki-laki, kondisi budaya masih memungkinkan dia tampil, walau didiamkan oleh masyarakat (Mrk 10: 46-52). Tidaklah mudah bagi si perempuan itu. Yang dijamah juga bukanlah tumpukan jubah yang tergeletak rapi di suatu tempat yang disakralkan. Perempuan itu sebenarnya menjamah Yesus sendiri, karena Dia memang mengenakan jubah!

Iman mendatangkan keselamatan!

"Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau" kata Yesus, dan sembuhlah perempuan itu! Demikian pula sesuai dengan permintaan kepala rumah ibadat: 'datanglah dan letakkanlah tangan-Mu', "Yesus masuk ke rumah itu dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu". Tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.

Iman mendatangkan keselamatan!

Mengapa?  Karena dengan beriman seseorang memohon bantuan Tuhan, beriman berarti mengakui ketidakberdayaan, ketidakmampuan dan kelemahan diri untuk mengatasi sesuatu hal dan meminta Tuhan sendiri yang membantu. Dengan beriman, seseorang merindukan Tuhan, seseorang berarti mengkondisikan diri untuk selalu berkomunikasi dengan Tuhan, ingin selalu dekat dengan Dia. Beriman berarti membiarkan diri dikuasai dan diatur oleh Tuhan, beriman berarti membiarkan diri diselamatkan oleh Tuhan!

Iman mendatangkan keselamatan, karena memang itulah kemauanNya!

Bacaan pertama menegaskan pernyataan ini. Sabda Tuhan: "sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya. Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku! Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN". Tuhan secara pribadi menghendaki agar kita selalu ada di dekatNya, ada di sampingNya, ada bersamaNya. Tuhan tidak ingin umat milikNya jauh daripadaNya.

Ya Tuhan Yesus, syukur kepadaMu karena Engkau selalu memperhatikan kami, karena memang Engkau dekat kepada kami. Bersama pemazmur kami berseru: "aku hendak memuji Engkau setiap hari, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Sebab  TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya".

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening