Senin Masa Biasa XV, 12 Juli 2010

Yes 1: 11-17  +  Mzm 50  +  Mat 10: 34-42

 

"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang" kata Yesus kepada para muridNya. Apa maksudnya? Bagaimana dengan sukacita kehadiranNya yang menyampaikan 'damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya?' (Luk 2: 14) tidakkah bertentangan satu sama lain pernyataan-pernyataan ini?

Yesus menegaskan: "Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya". Penyataan ini sungguh menegaskan bahwa pertentangan terjadi karena ada perbedaan sikap dalam suatu keluarga; pengenalan yang sejati akan kebenaran bukanlah suatu doktrinasi terhadap sebuah individu, pengenalan akan kebenaran adalah sebuah pilihan bebas dari sebuah hati yang 'tahu dan mau', karena itu resiko dari sebuah pengenalan itu bisa saja menimbulkan pertentangan, dan bahkan sebuah pemurnian dalam sebuah keluarga yang jauh-jauh sebelumnya tampak mapan dan serasi. Pengenalan akan Kristus Yesus memungkinkan terjadinya suatu perbedaan dalam sikap hidup: ada yang berani langsung mengikuti seperti Matius, ada yang mengabaikanNya sebagaimana orang-orang Farisi, ada juga yang masih menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang.

Yesus memberi ketegasan bagi orang-orang yang mau mengikutiNya: pertama "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku". Yesus harus menjadi pilihan utama dalam kehidupan, bukan yang lain!

Kedua  "barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku". Mengikuti Yesus bukanlah untuk bersenang-senang, dengan mengikuti Yesus malahan seseorang harus berani memanggul salib kehidupan dan bukannya mencari hal-hal yang menyenangkan dan kepuasan diri; seseorang juga harus berani mengikuti dan meneladan Dia, melakukan apa yang dikehendaki Yesus.

Ketiga  "barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya". Pilihan pada Yesus harus diutamakan, dan pilihan itu bisa-bisa mendatangkan resiko 'akan kehilangan nyawa'. Namun barangsiapa berani 'kehilangan nyawanya', ia akan mendapatkannya kembali, dan barangsiapa bertahan sampai akhir ia akan selamat,  sebaliknya orang yang mempertahankan dan menyembunyinya, ia akan kehilangan.

Ketiga rumusan inilah yang kiranya dimaksudkan Yesus dengan mengatakan 'Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang'. KehadiranNya akan menimbulkan pertentangan dan perlawanan. Dia harus diutamakan karena memang Dialah sang Empunya kehidupan, dan hanya dalam Dialah ada keselamatan, sebab memang Dialah Yesus, Allah yang menyelamatkan! Allah yang egois baru bisa menyelamatkan umatNya

Keegoisan Yesus memang tidak diarahkan kepada kultus individu,  karena memang tidaklah dimaksudkan demikian dengan tugas perutusanNya. Ia hanya melaksanakan kehendak Bapa yang mengutusNya, dan Ia pun menyatakan kehadiranNya sendiri pada orang-orang yang diutusNya. Egoisme Yesus itu mengandaikan keterpautan seseorang kepada kehadiran dari Kerajaan Allah sendiri. Karena itu, Ia menegaskan: "barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku"; dan bahkan "barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya", karena memang apa yang kita lakukan untuk saudara kita yang hina itu kita telah melakukannya untuk Yesus sendiri.

KehadiranNya dalam diri saudara kita yang hina memang sungguh ditampakkan Yesus; bukan saja pelayanan kita terhadap mereka yang hina itu merupakan pelayanan kita terhadapNya, perlawanan dan ketidakperhatian kita terhadap mereka yang hina juga merupakan perlawanan kita terhadap Tuhan Yesus sendiri. Perlawanan dan pengabaian terhadap kaum lemah itu berarti perlawanan kepada Tuhan sendiri; perlawanan ini tidak bisa digantikan dengan aneka persembahan dan syukur. Bacaan pertama telah menceritakan semuanya itu.

"Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku" sabda Tuhan. "Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!".

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami dan ingatkanlah kami agar kami selalu mempunyai hati kepada siapapun juga terlebih untuk saudara-saudari kami yang berkekurangan.

Yesus, kami juga berdoa bagi mereka yang turun dalam bidang politik dan bisnis, semoga apa yang mereka kemukakan dalam doa-doa mereka, mereka wujudkan juga dalam karya dan bakti mereka. Tuhan, berkatilah mereka selalu, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening