Senin Masa Biasa XV, 19 Juli 2010

Mik 6: 1-4.6-8  +  Mzm 50  +  Mat 12: 38-42

 

Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu". Tidak diterangkan oleh Matius mengapa mereka meminta tanda, lagi pula untuk apa. Namun Yesus tahu betul maksud mereka, sebab Ia mengenal isi hati umatNya, maka jawab-Nya kepada mereka: "angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus". Ternyata ada maksud jahat mereka meminta daripadaNya suatu tanda, dan Yesus tidak mau memberinya!

"Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam". Yang dimaksudkan Yesus adalah kematian dan kebangkitanNya sendiri, di mana Dia masuk dalam dunia kematian selama tiga hari dan Dia bangkit dari sana kepada kehidupan baru bersama Bapa.  

Apakah kematian dan kebangkitanNya ini bukan tanda dan awal dari kehidupan baru bersama Allah?

"Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!" tegas Yesus.

Yesus mempertentangkan: hanya karena Yunus, orang-orang Niniwe berani bertobat, demikian juga hanya karena Salomo, ratu dari Selatan itu datang, tetapi kini sang Empunya kehidupan datang dan mengunjungi mereka, mereka tidak mau bertobat dan datang kepadaNya. Karena kedegilan hati dan ke' tidak setia'an mereka itulah, Yesus tidak memberi tanda baru selain tanda nabi Yunus.

Selain ketidaksetiaan mereka, apakah karena sikap Yesus yang 'tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya' sebagaimana kita renungkan hari Sabtu kemarin juga membuat mereka tidak mau mendengarkan dan datang kepadaNya?

Kiranya masih kita pertahankankah suara Yesus yang 'tidak memperdengarkan suaraNya di jalan-jalan' itu mengingat orang-orang jaman kita sekarang ini yang menghendaki budaya popular dan monumental? Kiranya Yesus memang akan tetap dengan halus mengundang dan mengundang umatNya datang kepadaNya, sebaliknya Gereja harus semakin reformis dalam pembinaan umatNya dengan: menjaga keotentikan dan kemurnian Tradisi, namun tetap terbuka dan bahkan membuka diri dalam katekese baru, virtus stat in medio (=Latin), kebijaksanaan berjalan di tengah

Yesus memang tidak memberi tanda baru kepada orang-orang sejamanNya, sebab Ia sendiri telah menjadi tanda keselamatan bagi dunia, yang dikerjakan satu kali untuk selama-lamanya, yakni kematian dan kebangkitanNya sendiri, yang juga telah dirayakan secara ritual-liturgis dalam perjamuan malam bersama para muridNya. Paulus menuliskan: 'kematian Kristus Tuhan adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah' (Rom 6: 10), sebab Ia adalah Imam Agung untuk selama-lamanya 'yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban' (Ibr 7: 27).

Injil hari ini mengajak kita untuk memandang Tanda agung dan mulia yang menyemarakkan dunia, kita diminta untuk semakin berani mendekatkan diri padaNya, terlebih kita yang menyebut diri orang-orang yang percaya kepadaNya. Segala kebaikan  yang kita terima dari Allah kiranya semakin membuat kita berpaut kepadaNya. Bacaan pertama mengingatkan hal ini. " Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel. Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku! Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu". Israel diingatkan akan kebaikan dan kesetiaan Tuhan dalam membimbingnya, yang memang tak jarang mereka menjauh dan berpaling daripadaNya.

Suatu refleksi di akhir renungan kita ini, kalau 'seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya' (Yun 1: 17), karena dia berpaling dari tugas perutusanNya, apakah 'gunung-gunung dan dasar-dasar bumi yang mendengarkan pengaduan Tuhan yang ingin beperkara' seperti dikatakan bacaan pertama tadi, juga ikut bersikap seperti seokor ikan besar tadi, jika memang umatNya, GerejaNya yang kudus menjauhi pula kehendak Dia yang menjadi Tanda agung dan mulia?

Kiranya tidaklah demikian, sebab "Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim", demikianlah dikatakan pemazmur tadi. Kasih Tuhan dan keadilanNya melebihi angkasa raya, melebihi alam pikiran kita, sebab memang Dia itu bermurahhati dan penuh belaskasih. Kiranya Engkau mengampuni segala kelemahan kami ya Yesus, dan kuasailah kami dengan RohMu yang kudus agar kami semakin berani mendengarkan dan mendekatkan diri kepadaMu. Yesus bantulah kami selalu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening