9 Agustus 2010

Senin Masa Biasa XIX

Yeh 1: 2-5.24-28  +  Mzm 148  +  Mat 17: 22-27

 

"Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan", kata Yesus kepada murid-muridNya, dan mereka berdiam semua, tak ada yang komentar sedikitpun sebagaimana dilakukan Petrus kali lalu (Mat 16: 22), mungkin semua semakin memahami siapakah Dia; namun sebaliknya "hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali" mendengar semua yang dikatakan Yesus tadi.

Mengapa demikian? Wajar kiranya mereka bersedih, karena siapa rela menerima deraan, terlebih kematian yang harus dihadapi. Namun demikian, melihat pengalaman kali lalu, sikap dan pikiran mereka sebetulnya tidak jauh berbeda dengan Petrus yang memang masih memikirkan diri sendiri, mereka masih berpikir dengan tata pola pikiran manusiawi, mereka belum mampu berpikir sebagaimana pikiran Allah sendiri. Mereka belum masuk dalam dunia kontemplasi yang sebenarnya!

'Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: apakah Gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?'. Pertanyaan itu amat perlahan, tetapi didengar dan dimengerti oleh Yesus, maka komentarNya: "apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? dari rakyatnya atau dari orang asing?". Bukan hal yang baru bagi mereka sepertinya pemahaman tentang kewajiban masyarakat, maka dengan spontan Petrus langsung menjawab: "dari orang asing!" dan Yesus membenarkannya; dan kemudian Yesus menambahkan: "tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga".

Apa yang dilakukan Yesus adalah sebuah tindakan yang mengatasi kewajiban seorang anggota masyarakat, sebab memang sebagai anggota masyarakat ia tidak terikat untuk membayar pajak pada waktu itu, kewajiban itu hanya dibebankan pada orang-orang asing! Bertindak sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang pada umumnya adalah sebuah kewajiban masyarakat, namun bertindak lebih dari biasanya karena memang ada hati untuk berbuat baik adalah sebuah panggilan yang perlu ditumbuhkembangkan bagi setiap orang yang berkehendakbaik.

Dalam kaitan dengan sikap kontemplasi yang melihat segala sesuatu dengan cara pandang Allah, kemauan Yesus yang tidak mau menjadi batu sandungan bagi orang lain, atau kemauan yang tidak mau membuat orang lain terbeban merupakan sikap belaskasih dan perhatian baik kepada semua orang tanpa terkecuali. Ia tetap memberi perhatian penuh dan kasih karuniaNya kepada setiap orang, entah itu orang yang baik ataupun yang jahat, mereka yang benar atau pun yang salah. Dan sikap Allah yang penuh belaskasih inilah juga yang amat berbeda dengan sikap dan pemikiran ala Petrus yang sebenarnya dan benar-benar 'irihati bila melihat Dia itu murah hati'. Justru sikap Allah yang penuh belaskasih inilah yang kiranya menjadi teladan dan panutan, bahkan sebagai pedoman hidup bagi semua orang yang berkehendak baik. Inilah kontemplasi!

Kontemplasi adalah sebuah sikap hidup.

Sebuah langkah awal bagi setiap orang yang mau menghayati sikap dan pola hidup kentemplasi adalah kebenarian untuk mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan, dan kepercayaan kepada Tuhan yang Mahabaik dan mulia bagi setiap orang merupakan sikap dasar dalam usaha bersikap seperti Allah sendiri. Mazmur dalam Ekaristi hari ini mengajak kita untuk berani memuji-muji kebaikan Tuhan bagi semua orang, sebab Dia itu tinggi luhur dan mengatasi segala. Karena itu, ajak Pemazmur: "hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit. Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya, menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya, bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya. Haleluya!".

Apa yang dapat kita buat?

Ya Yesus, ajarilah kami untuk selalu berpikir dan bersikap seperti Engkau sendiri yang memang berbaikhati kepada semua orang; Engkau tahu dan sadar akan apa yang hendak terjadi pada diriMu, Engkau maju terus, pantang mundur karena cinta. Yesus, ajarilah kami selalu, sebab hanya dengan demikianlah kami akan semakin mendalami diri sebagai anak-anak Bapa yang di surge.

Yesus, bantulah kami yang lemah ini, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening