Jumat XIX, 13 Agustus 2010

Yeh 16: 1-15  +  Mzm   +  Mat 19: 3-12

 

"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?", tanya orang-orang Farisi kepada Yesus guna mencobai Dia. Pahit kali pertanyaan orang-orang Farisi ini; mereka sebenarnya sudah tahu jawabnya walau benar entah salah, tapi sekali lagi hanya untuk mencobaiNya. Lagi-lagi perempuan 'disepelekan' dalam kasus ini! Mengapa mereka tidak bertanya:  'apakah diperbolehkan orang menceraikan suami atau isterinya dengan alasan apa saja?' Tidak adakah hak sama sekali pada diri perempuan? Itulah situasi di jaman Yesus! Sekarang ini tidaklah separah itu. Perempuan harus semakin berani berbicara.

Jawab Yesus: "tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?  Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia".

Penyataan Yesus amat jelas!

Perkawinan itu bersifat kekal, satu kali untuk selama-lamanya. Tidak ada perceraian! 'Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging' ini berarti bahwa perkawinan itu monogami, satu lawan satu. Konsekuensi juga bagi keluarga orangtua adalah harus adanya keberanian untuk ditinggalkan anak-anaknya. Orangtua terpanggil untuk mendidik dan membina putera-puterinya, tetapi juga harus siap dan berani ditinggalkan oleh mereka. Orangtua harus menjadi menjadi pengantar yang budiman bagi putera-puterinya.

"Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" serbu mereka kepadaNya. Kata Yesus kepada mereka: "karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian". Dengan penyataan ini Yesus menegaskan apa yang dicari manusia dalam perkawinan, sebab perkawinan itu amatlah luhur, bukan saja kehendak kedua insane manusia yang berbeda jenis kelamin untuk menyatukan diri sebagai suami isteri, perkawinan juga menjadi kehendak Tuhan, dan Tuhan Allah sendiri yang menjadi saksi utama. Allah menyatukan perempuan dan laki-laki dalam sebuah perkawinan, dan tidak ada kuasa manusia yang berhak menceraikannya. Menceraikan perkawinan adalah pelanggaran terhadap kehendak Allah!

Kalau demikian, perkawinan adalah kewajiban setiap orang. Bagaimana dengan mereka yang tidak mengikatkan diri dalam sebuah perkawinan? Bagaimana mereka yang tidak menikah? Apakah mereka melanggar kodrat?

Yesus menegaskan: "ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga". Mereka ada yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, yang semuanya ini tentunya karena kelainan fisik, yang memang tidak dikehendaki oleh semua orang, dan memang semacam itu bisa saja terjadi. Kita teguhkan mereka dengan doa-doa kita. Ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, yang semuanya dilakukan dengan kekerasan, suatu tindakan yang sulit dimengerti dan tidak bermoral; akibat tindakan kekerasan semacam itulah akhirnya mereka terhalang tidak bisa menikah; ketidakmampuan mereka untuk menikah karena kejahatan manusia. Juga ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga; orang ini memang secara sengaja tidak mau menikah karena kemauan diri yang hendak mengabdikan diri kepada Tuhan. Kemauan diri untuk tidak menikah adalah juga sesuai dengan kehendak Tuhan!

Keputusan untuk menikah ataupun tidak menikah adalah sebuah tindakan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan sendiri, sebab keputusan seseorang menikah ataupun tidak menikah adalah sesuai dengan kehendak dan kemauan Tuhan sendiri!

Keputusan untuk menikah ataupun tidak menikah menuntut juga kesetiaan, sebagaimana Allah sendiri setia, sebab memang Dia tidak bisa mengingkari diriNya sendiri. Kesetiaan Allah sebagaimana dilukiskan dalam bacaan pertama kiranya menjadi pedoman bagi setiap orang yang terikat dalam perkawinan, bila menghadapi persoalan hidup dalam kaitannya dengan relasi mereka.

Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah keluarga-keluarga kami, khususnya keluarga muda dalam menjalani kehidupan ini, semoga mereka semakin sehati sejiwa dalam mengabdi kehidupan ini.

Yesus berkatilah keluarga-keluarga kami, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening