Jumat XX, 20 Agustus 2010

Yeh 37: 1-14  +  Mzm 107  +  Mat 22: 34-40

 

"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?", tanya seorang Farisi kepada Yesus.

Jawab Yesus: "kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

Penyataan Yesus ini menegaskan bahwa 'mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi itu satu kesatuan dengan mengasihi sesame manusia seperti diri sendiri'. Yang satu mengandaikan lainnya, tidak bisa dipisahkan satu sama lain, atau melakukan yang satu dan mengabaikan lainnya.

Tapi apakah memang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya?

Bisa!  Namun demi kedewasaan pribadi dan kesempurnaan hidup tidaklah demikian, yang satu mengandaikan yang lain. Adalah suatu kebohongan dan sia-sia, bila orang hanya mengedepankan hidup doa dan mengabaikan orang-orang yang ada di dekatnya. Bagaimana dia bisa membuktikan dan menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, kalau dia sendiri tidak pernah berbagi kasih terhadap sesamanya; bagaimana dia akan menegaskan bahwa Tuhan itu Mahamurah kalau dia sendiri tidak pernah melemparkan senyum kepada orang-orang yang dijumpainya dalam keluarga dan komunitasnya, dia tidak menampakkan wajah Allah yang memandang dan menyapa kepada setiap orang yang dijumpainya.

Demikian juga mereka yang menekankan karya humaniora dan sosial; bagaikan air dalam tandon yang terus-menerus dialirkan, tandon akan kering dan habis, bila tidak berani mengisinya dari Sumber Air yang tak mengering. Sapaan dan belaian tangan akan semakin dirasakan oleh mereka yang membutuhkan, bila disertai dengan kasih ilahi, limpahan Kasih yang sejati.

'Jangan membunuh!', sekedar contoh: salah satu dari hokum sepuluh perintah Allah, decalog, sebagaimana tertera dalam hokum Taurat.

Hanya satu dua orang yang tidak takut akan kematian atau siap mati. Namun lebih banyak orang yang tidak mau dibinasakan, dimatikan atau dibunuh, apapun alasannya, karena memang dia mencintai kehidupan, dia mempunyai hak untuk hidup, sebaliknya tidak ada orang yang berhak mematikan hidup sesamanya, apapun kesalahannya. Demikian juga Allah menegaskan ketidakmauannya bila manusia membunuh sesamanya. 'Jangan membunuh' adalah perintah Allah supaya seseorang tidak semena-mena terhadap sesamanya, malahan sebaliknya harus menghormati dan mengasihinya.

Karya-karya sosial dewasa ini menerapkan aneka spiritualitas kehidupan dalam karya pelayanan mereka, karena pengalaman telah membuktikan sekuat apapun seseorang melayani sesamanya akan jatuh juga dalam kelelahan mental. Banyak motivator pun mereka datangkan dan memang mereka banyak menimba semangat dari mereka, tapi tak ada yang mampu menyirnakan kepanasan hati dan jiwa bila bergejolak. Pengakuan AdaNya Dia yang memberi kehidupan membuat orang berani berharap, Ada yang diharapkan, Ada tempat jiwa untuk mengeluh, Ada telinga hati yang mendengarkan jeritan hati, Ada tangan yang terbuka dan bertepuk bila memang kaki dan tangan ini bergerak lebih cepat dan riang.

Ya Tuhan Yesus, cinta kepadaMu tidak bisa mengabaikan orang lain, karena memang cinta kepadaMu dapat kami buktikan hanya dengan memperhatikan sesame. Tak jarang kami melakukan yang satu mengabaikan yang lain, karena memang kecerobohan kami dalam hidup. Ingatkanlah kami ya Yesus dengan sabdaMu yang menyapa agar kami tetap melihat kehadiranMu dalam diri sesame kami dan memandang sesame kami dalam kasih dan cintaMu.

Yesus bantulah kami selalu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening