Jumat XXI, 27 Agustus 2010

Peringatan Santa Ibu Monika

1Kor 1: 17-25  +  Mzm 33  +  Mat 25: 1-13

 

Gadis-gadis yang bodoh itu, sebagaimana diceritakan dalam Injil tadi, datang dan berkata: "tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!", tetapi sang tuan rumah itu menjawab: "aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu". Apa yang kita dengar ini persis sama dengan Injil yang kita dengar hari Minggu lalu dan hari kemarin. Pintu sudah tertutup dan terkunci tidak mungkin dibuka lagi; tidak ada tawar-menawar dalam keselamatan, tidak ada  mafia kasus dalam mendapatkan keselamatan, keselamatan tak bisa dijual-belikan.

"Karena itu", tegas Yesus, "berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya", 'berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu dating, Dia Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga'. Salah satu tindakan berjaga-jaga yang dimaksudkan dalam Injil hari ini adalah "membawa pelita dan juga minyak dalam buli-buli" seperti "gadis-gadis yang bijaksana".

Kesengajaan untuk datang secara tiba-tiba; kesengajaan ini juga, menurut pengamatan kami, untuk melawan sikap yang kurang serius dalam mengharapkan dan mendapatkan sesuatu, kurangnya perhatian terhadap sesuatu yang kita usahakan. Seringkali kejadian seperti ini: saya mengharapkan tante Aiwa datang dan mengunjungi saya, karena memang kebetulan dia sekarang ini masih di Semarang untuk beberapa waktu, ada yang hendak kami bicarakan; seharusnya saya terus berkontak dengan dia dan menanyakan kapan dia akan pulang, saya harus bertanya dan bertanya, tetapi tidaklah saya lakukan, sampai dia sudah tiba di rumahnya di Malang, saya tidak mengetahuinya; saya memang kurang berharap; demikian juga, saya meminjam buku bacaan, bila selesai membacanya baiklah segera mengembalikannya sebagai  ungkapan rasa terimakasih, tetapi tidaklah demikian, saya mengembalikan ketika dia sang pemilik datang untuk mengambilnya, saya memang kurang serius.

Berjaga sambil 'membawa pelita dan juga minyak dalam buli-buli' berarti melakukan sesuatu dengan penuh perhatian dan siap sedia dengan segala kemungkinan yang akan dan bisa terjadi, jauh dari segala yang sudah direncanakan. Waktu terus berjalan, segala aneka kegiatan terus berlangsung, segala peristiwa kehidupan akan terus berlanjut, terik matahari terus bersinar dan mega mendung tiba-tiba datang sembari melemparkan guyuran air, semuanya itu bisa terjadi, tanpa harus ada persetujuan kata-kata ataupun anggukan kepala saya. Berjaga dengan bijak berati membekali diri dengan segala hal yang bisa kita lakukan, dan kiranya sesuai dengan dia sang tamu yang dinanti-natikan; kiranya gadis-gadis yang bijak tadi tidak sepantasnya membawa dua drum air atau bahkan membawa senjata tajam untuk menyambut sang pengantin yang akan datang.

Kita semua diajak untuk berjaga-jaga sambil membawa bekal.

Apa bekal kita?

Salib Kristus!

Menyambut Dia yang datang tidaklah perlu 'membawa dua drum air atau bahkan membawa senjata tajam', tidak perlu membawa kekayaan dan harta warisan, tak perlu berbadan atletis ataupun badan yang bersusuk aneka vitamin suplemen, tidak perlu membawa kepandaian dan keharuman nama, bukan pula rosario dan buku puji syukur. Salib yang dibutuhkan Dia!

Karena itu, dalam bacaan pertama tadi Paulus menegaskan bahwa dia tak henti-hentinya mewartakan salib Kristus, walau "pemberitaan tentang salib merupakan kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah", "memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia".

Salib yang dibutuhkan Dia!   Yesus pun menegaskannya: 'barangsiapa mau menjadi muridKu, ia harus berani menyangkal diri, memanggul salib dan mengikuti Aku'.

Santa Monika, yang kita peringati hari ini,  tahu apa yang dibutuhkan anaknya untuk beroleh keselamatan, dia pun tahu apa yang berkenan bagi Tuhan sang Empunya keselamatan;  Monika tahu benar bekal apa yang diperlukan anaknya, dan dia hendak membekali anaknya; apa yang pernah dilakukan anaknya, Agustinus, memang menyakitkan hatinya sebagai seorang ibu, dia sempat dibuat menderita oleh anaknya, tetapi santa Monika tidak kehilangan 'hati seorang ibu', ia hanya berdoa dan berdoa untuk pertobatan anaknya. Iman dan doa Monika meluluhkan hati Tuhan Yesus untuk menerima kembali anaknya yang hilang, dia 'yang mati telah hidup kembali'.

Santa Monika, ibu yang berbelaskasih, doakanlah kami semua agar kami berani membekali diri dengan doa dan matiraga.

Yesus, buatlah kami selalu berjaga akan kehadiranMu di tengah-tengah kami, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening