Kamis Masa Biasa XVIII, 5 Agustus 2010

Yer 31: 31-34  +  Mzm 51  +  Mat 16: 13-23

 

"Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?", tanya Yesus kepada para muridNya.  Jawab mereka: "ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi". Mengapa tidak ada yang menyebut Yesus sebagai Musa secara khusus, bukankah Musa mendapat tempat di hati banyak orang Israel?

"Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" tegas Yesus.

Jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Kata Yesus kepadanya: "berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga", karena 'tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya' (Mat 11: 27). Pengenalan Petrus terhadap Yesus benar-benar merupakan anugerah yang luhur dan mulia.

Yesus masih menambahkan: "Aku pun berkata kepadamu: engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga". Pemberian kuasa yang sungguh luar biasa, anugerah istimewa; Petrus menjadi batu dasar terbentuknya Gereja, di mana Kristus sendiri sebagai Pendirinya, Dialah Pembangun dan Arsiteknya.

Dan Yesus tetap melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.  

Mengapa?

Apakah Yesus sendiri yang akan memberitahukanNya, sebagaimana dikatakanNya kali lalu bahwa 'tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya'? Apakah pengakuan itu memang harus keluar dari dalam isi hati seseorang yang setelah beroleh perkenananNya, bukankah dalam diri setiap orang telah tertanam hokum Allah sendiri, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi: "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka"?

Apakah orang harus menunggu sampai sang Mesias itu mencapai puncak penyelamatanNya di kayu salib? Bukankah kehadiranNya semenjak awal sudah menampakkan bahwa Dialah Mesias, sebagaimana dikatakan Yesus sendiri ketika ada orang yang bertanya Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? JawabNya pada waktu itu: 'pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik' (Mat 11: 3-5).

Itu kemauan Tuhan Yesus!

Namun yang jelas, "sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga".

"Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau", tegur Petrus sambil menarik Yesus ke samping. Saya telah diberi kepercayaan, maka saya harus melindungi Yesus, pikir Petrus.

"Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia", tamparan Yesus bagi Petrus. Dia yang telah dipuji, kini mendapatkan tampara. Pikiran dan kemauannya dilihat Yesus sebagai kemauan kuasa kegelapan, setan yang menolak karya penyelamatan Allah!

Ya Yesus, kuasailah kami dengan Roh KudusMu, agar kami dapat mengenal dengan lebih baik, lebih tepat dan benar, sebagaimana kehadiranMu sendiri, dan bukannya berdasarkan kemampuan dan kemauan diri kami sendiri.

Yesus, semoga kami pun semakin berani menyatukan pikiran kami dengan pikiranMu sendiri, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening