Minggu Masa Biasa XVIII, 1 Agustus 2010

 

Pengk 2: 21-23 + Kol 3: 1-5.9-11 + Luk 12: 13-21

"Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku" kata seseorang kepada Yesus. Siapakah orang itu yang meminta demikian? Tidak disebut memang siapakah dia; namun dia kemungkinan besar adalah orang yang kaya, dan kiranya warisannya tidak sedikit sehingga terjadi sebuah perebutan; ia berani meminta begitu karena sepertinya dia tidak mempunyai hak penuh atau berkuasa atas harta benda yang dimiliki bersama, kemungkinan besar dia bukan anak sulung, sebab seandaianya dia anak sulung maka dia tidak akan menuntut, karena dialah yang berkuasa membagi-bagikannya bersama-sama dengan adik-adiknya.

Yesus adalah seorang Guru yang bijak, pasti Dia mempunyai wibawa dalam pembagian harta, dan Dia pasti didengar dan disegani oleh saudara-saudaranya, pikir orang yang memintaNya tadi.

"Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?", sergak Yesus kepada orang itu. Yesus tidak mau menjadi hakim dan pengantara atas mereka, Yesus tidak mau masuk dalam perebutan dan pertengkaran dalam keluarga mereka. Adanya permintaan dari orang yang bukan anak sulung mengandaikan adanya pertengkaran, ada perebutan harta kekayaan, ada ketidakberesan dalam relasi keluarga!

Sebagai keluarga kaya, tentunya kehidupan mereka sudah terjamin, mereka hidup tidak dalam kekurangan suatupun. Kenyamanan hidup sosial mereka tidak meredakan atau menenangkan bathin dan jiwa mereka, harta warisan tidak dilihatnya sebagai hadiah atau anugerah, malahan sebagai ajang kesempatan untuk berebut dan berebut harta benda. Yesus tahu situasi mereka, karena itu kata-Nya kepada mereka: "berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu".

Tamak, serakah atau rakus adalah sikap atau nafsu yang menghanguskan jiwa! Nafsu-nafsu ini mengabaikan, meniadakan dan membinasakan lingkungan hidup dan sesame manusia, arah hidupnya hanyalah kepuasan diri. Tak terpikir olehnya bagaimana merawat alam semesta dan dunia, ia hanya mengeruk dan mengeruk kekayaan, tak tercerna juga perhatian kepada sesamanya, akulah segala-galanya. Ketamakan, keserakahan atau kerakusan akan melampaui batas-batas moral insane, bila orang yang tenggelam dalam kekayaan tadi sudah mulai mengabaikan dan meniadakan Tuhan Allah.

Hidup tidaklah tergantung dari pada kekayaan! Hidup yang menyenangkan adalah hidup yang bebas dari malapetaka, kesehatan terjamin, dapat bergaul berdampingan dengan sesame dalam sebuah lingkungan korelasi sosial, terlebih bila berani bersekutu dengan sang Sumber dan Empunya kehidupan itu sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan agar kita tidak melupakan atau meniadakan Tuhan Allah, jangan pula berkata " hei jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!". Meniadakan Tuhan berarti binasa!

Firman Allah: "hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?".

Tuhan Yesus main hakim sendiri!

Ya benar!

Karena keselamatan hanya ada dalam Tuhan! Di luar Tuhan hanyalah kebinasaan! Yesus main hakim karena Dia menghendaki keselamatan semua orang tanpa terkecuali. Hidup tidaklah tergantung dari pada kekayaan; karena itu, "demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah".

Kiranya Injil hari menegaskan kepada kita semua, agar kita tidak tenggelam dalam kekayaan, karena memang hidup tidak bergantung pada kekayaan; Kristus Yersus tidak melarang kita mempunyai kekayaan, tetapi hendaknya kita tidak 'mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri', hanya dirinya sendiri yang dipikirkan dan mengabaikan yang lain, melainkan juga ingat akan Tuhan sang Empunya kehidupan, ini berarti kita 'kaya di hadapan Allah', kita menikmati kekayaan sembari memandang kepadaNya. Santo Paulus dalam bacaan kedua membahasakan sikap ini dengan: "mencari perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi".

Kenapa kita harus memandang Allah atau mencari perkara yang di atas?

Sebab kita telah menyatukan diri dengan Kristus, kita "telah mati dan hidup tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah"; memberikan diri berarti mengikuti kehendak dan kemauanNya, dan bukannya mengikuti kemauan diri dan mencari kepuasan diri. "Karena itu", tegas Paulus, "matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah".

Kalau hidup tidaklah tergantung dari pada kekayaan, maka ini berarti "kesia-siaan belaka", kata Pengkhotbah dalam bacaan pertama, "kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia", sebab "apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?".

Kalau hidup tidaklah tergantung dari pada kekayaan, maka marilah kita mengandalkan Allah, mencari perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

Ya Tuhan Yesus, teguhkanlah hati kami untuk selalu berpaut kepadaMu, semoga kami pun berani menggunakan kekayaan itu sebatas kelayakan dan kepantasan dalam hidup ini, agar kami tidak tenggelam dalam kekayaan, melainkan semakin terbuka akan kenyataan hidup ini.

Yesus, ajarilah kami berani bersyukur kepadaMu di setiap kami menerima anugerah daripadaMu. Yesus, terimalah selalu rasa syukur kami kepadaMu, amin.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening