Minggu XXI, 29 Agustus 2010

Sir 3: 17-20.28-20  +  Ibr 12: 18-24  +  Luk 14: 1.7-14

 

Yesus, dalam Injil hari ini, diceritakan diundang makan bersama oleh seorang pemimpin orang-orang Farisi, dan dalam pesta makan itu Ia melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan. Atas dasar penglihatan itu, Yesus membuat suatu pengajaran, tetapi bukan tentang pesta, kataNya:

'Kalau engkau pergi ke pesta, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin  ada orang lain yang lebih terhormat dari padamu, dan kalau itu terjadi dan dikatakan kepadamu: berilah tempat ini kepada orang itu, engkau pasti malu. Sebaliknya, pergilah duduk di tempat yang paling rendah dan jangan mengharapkan yang lain; dan apabila tuan rumah datang dan berkata kepadamu: sahabat, silakan duduk di depan, dengan demikian engkau menerima kehormatan di depan mata semua orang'.

'Demikian juga, apabila engkau mengadakan perjamuan, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, tetapi undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta, engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar'.

Sekali lagi Yesus tidak mengajarkan bagaimana orang harus berpesta!

Sekedar interupsi saja: banyak pesta perkawinan sekarang ini sebagai ajang bisnis, entah sadar atau tidak setelah pesta usai terucap 'untung atau rugi pesta kemarin?', pesta perkawinan anaknya bukanlah sebagai rasa syukur, melainkan sekedar program kerja tahunan; sebaliknya ada yang mengadakan pesta besar-besaran dengan biaya pinjaman atau hutang, ini tentunya suatu kebodohan; sekarang ini pesta perkawinan seringkali menjadi ajang tukar-menukar kado, sebesar kado yang kuterima, sebesar itulah hutangku padamu, aku harus membalasnya; ada orang yang merasa jengkel mengapa dirinya tidak diundang di suatu pesta, dia lupa mungkin bahwa yang berhak mengundang adalah mereka yang berpesta, bukan yang diundang, sebaliknya ada orang merasa jengkel dan terbeban karena terus-menerus mendapatkan undangan pesta, yang satu belum terlaksana, undangan lain sudah datang, kapan bernafas sejenak menikmati hasil kerja.

Yesus tidak mengajarkan bagaimana orang harus berpesta! Yesus hanya menegur dan mengingatkan orang-orang umatNya, agar tidak mencari muka dan harga diri dalam hidup bersama, sebaliknya orang diminta agar berani merendahkan diri dalam kehidupan sehari-hari. "Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan", tegas Yesus dalam perumpamaan tadi. Sebab memang sejauh orang selalu mencari kehormatan diri dan selalu minta dilayani dalam aneka bidang, dia tidak pernah akan terpuaskan. Seseorang tak akan pernah mampu memuaskan keinginan inderawinya.

Sebaliknya, orang yang ingin mendapatkan keselamatan ia harus berani melayani, sebagaimana Kristus datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, bahkan menyerahkan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20: 28). Orang-orang yang mencari kehormatan diri mendapatkan peringatan dari Yesus, karena orang-orang semacam itu berhenti pada diri sendiri, ia tidak membutuhkan orang lain, ia juga tidak membutuhkan Tuhan Allah lagi; akhir dari sikap pemberhentian diri adalah diri atau bleger orang itu sendiri, yang kodratnya tidak bersifat kekal dan termakan kebinasaan. Peringatan Yesus adalah agar orang meninggalkan sikap yang berhenti pada diri sendiri dan mengajak mereka semua untuk kembali pada cita-cita semula: 'tinggal bersama dengan Dia di mana Dia berada'.

Yesus memuji bahagia pemungut cukai yang merundukkan diri, dan 'Aku berkata kepadamu: pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan' (Luk 18: 14). Yesus pun  mengaburkan permohonan kedua muridNya yang mencari kedudukan dengan mengatakan: 'cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya' (Mat 20: 23).

Mengikuti Yesus berarti mengikuti dan meneladan gaya dan penampilan Dia;  kalau Yesus saja tertuduh sebagai 'seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa' (Luk 7: 34), demikian juga kita orang-orang yang mengikutiNya harus berani bergaul dengan mereka orang-orang yang terpinggirkan dan terbuang, karena memang itulah perutusanNya, dan Ia sendiri menegaskan: 'Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang' (4: 18-19); kalau Yesus saja harus memanggul salibNya, demikian juga kita orang-orang yang mengikutiNya harus berani 'menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku' (Mat 16: 24).

Meninggikan diri berlawanan dengan spiritualitas hidup Yesus!

Bagaimana dengan kita?

Sama! Tidak boleh meninggikan diri!

Bagaimana hidup kita ini yang harus bergaul dalam dunia birokrasi sekarang ini, yang saling bersaing satu sama lain, bila perlu menjegal teman sendiri, yang harus pasang nama dan pangkat, yang harus pakai jas hitam dan wangi-wangian?  Kalaupun tokh 'pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka, tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu' (Mat 20: 25-27). Segala bentuk kesempatan dan pekerjaan, dan bahkan pelbagai anugerah yang kita terima, malahan hendaknya membuat kita tetap semakin harus berani melayani. "Lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, ya anakku, maka engkau akan lebih disayangi dari pada orang yang ramah-tamah. Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan", itulah nasehat dalam bacaan pertama tadi.

Ya Yesus, kuasailah kami dengan kasihMu, agar hati kami semakin menjadi hati yang penuh belaskasih seperti hatiMu sendiri, berani merundukkan diri di hadapanMu dan siap sedia menjadi pelayan rendah hati bagi sesame.

Yesus, kuasailah kami dengan kasihMu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening