Rabu Masa Biasa XIX,

Yeh 9: 1-7  +  Mzm 113  +  Mat 18: 15-20

 

Menasehati sesame adalah kewajiban setiap orang! Kita perlu menasehati orang lain karena memang kita ingin hidup bersama itu berjalan dengan baik; kita tidak ingin orang lain sesame kita jatuh dan tenggelam dalam kesalahan yang berkepanjangan. Tenggelamnya seseorang dalam kesalahan membuat dia menjadi orang yang tidak lagi bebas dan merdeka, jauh dari kedewasaan dan kemandirian hidup, ia dikuasai oleh dosa dan mengarah kepada kebinasaan. Kita pun perlu dinasehati karena kita adalah makhluk ciptaan yang serba terbatas, dikuasai oleh kelemahan diri. Keterbatasan diri itulah yang membuat kita tidak bisa melihat diri kita secara utuh, kita hanya merasa diri benar. Kita perlu dinasehati karena kita ingin hidup lebih baik, kita memerlukan bantuan orang lain untuk mengkritik dan menyempurnakan diri kita.

Karena itu, tegas Yesus: "apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali". Nasehat itu menyelamatkan seseorang! Nasehat mengembalikan seseorang ke dalam persekutuannya, ke dalam komunitas kehidupannya. Nasehat perlu didengarkan dan dilaksanakan!

Namun, "jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai".

Sepertinya orang yang tidak mengenal Allah mempunyai kebebasan untuk tidak dinasehati dan tidak ada kewajiban untuk menjadi baik, sebab Allah itu Mahabaik dan sempurna, maka tentunya mereka yang percaya kepadaNya terarah dan terikut menjadi baik adanya, sedangkan mereka yang tidak mengenalNya tidak terikut dalam kebaikanNya. Hendaknya engkau kudus sebab Allah itu kudus, dan 'jadilah kudus', sabda Tuhan, 'sebab Aku ini kudus' (Im 11: 45).

Apakah demikian juga dengan para pemungut cukai yang senang main kuasa dan mencari menangnya sendiri?

Harus kita akui memang bahwasannya: tidak banyak orang yang berani menasehati sesamanya, malahan menasehati sesamanya dianggapnya sebagai beban yang akan merusak relasi dengan dirinya, terlebih bila dikaitkan dengan tingkat sosial dalam hidup bersama; padahal sebenarnya nasehat diberikan agar semakin terjalin relasi yang baik sebagai komunitas yang hidup. Banyak orang malahan berbalik mencari pembenaran diri dengan mengatakan: 'mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?' (Mat 7: 3). Nasehat dibutuhkan dalam pembangunan diri, dan kiranya setiap orang terpanggil untuk mencarinya dan yang mempunyai terpanggil juga untuk memberikannya. Menasehati adalah pemberian diri, dan bukannya mencari selumbar diri yang tertangkap dalam diri sesame kita.

Nasehat berguna dalam pembangunan diri dan pembangunan komunitas, sebab komunitas kehidupan sejati bagaikan rumah dan tempat tinggal bersama di mana setiap orang masuk dan tinggal bersama merasa krasan dan betah. Nasehat adalah sapaan senyum bagi setiap orang yang ingin tinggal dalam sebuah komunitas, yang pada akhirnya dalam komunitas itu sendiri, seseorang bukan saja terbawa dalam relasi pribadi yang membangun dan menguntungkan, malahan terarah pada relasi dengan Dia sendiri sang kehidupan yang memang hadir dalam diri ciptaanNya; kasih dan perhatian kepada sesamanya menuju puncak pada kasih pada Allah sendiri, dan sebaliknya kasih akan Allah meneguhkan relasi antar mereka. Karena itu, Yesus menegaskan keindahan dalam hidup persaudaraan dengan mengatakan: "di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka, sehingga jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga".

Yesus Tuhan kami, buatlah kami senang tinggal dalam komunitas, sebab di situlah kami dapat tumbuh dan berkembang, bahkan menghasilkan banyak buah, sebab dalam kebersamaan kami disempurnakan dan mendapatkan peneguhan, sehingga kami menjadi pribadi yang utuh.

Yesus ajarilah kami untuk berani melengkapi satu sama lain dalam mengenal kehidupan ini, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening