Rabu XX, 18 Agustus 2010

Yeh 34: 1-11  +  Mzm 23  +  Mat 20: 1-16

 

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya", kata Yesus mengawali ajaranNya dengan menyampaikan sebuah perumpamaan itu.

Tegas kali, bahwa Kerajaan Surga boleh dinikmati oleh semua orang yang sudah mengadakan perjanjian dengan sang PemilikNya, semua orang diundang untuk menikmatinya, yang penting sudah bersepakat dengan sang PemilikNya. Kesepakatan itu tentunya berisikan segala bentuk persyaratan agar dapat memiliki dan tinggal dalam Kerajaan Surga.

Apakah persyaratan itu bersifat umum? Pasti tentunya! Persyaratan yang bersifat umum itu biasanya bernilai standard, ukuran minimal yang harus dipenuhi setiap orang, sehingga dengan demikian amat terbukalah bagi semua orang untuk mengikutinya. Namun demikian, ada juga orang-orang yang perlu mendapatkan keistimewaan, karena memang keadaan. Hal yang biasa! Lampu merah pada traffic light berlaku bagi semua orang, namun tidaklah demikian bila ada sebuah mobil ambulance yang harus segera mengantar orang yang sakit, kita harus mendahulukan dia.

Indahnya cerita perumpaan tadi: ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Cerita mulai naik tensinya: mereka yang masuk terakhir yakni mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.

Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: "mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari". Pernyataan yang wajar dalam menuntut hak dan keadilan sebagai seorang pekerja yang patut mendapatkan upah. Kita wajib memberikan hak yang dimiliki oleh setiap orang.

"Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah" jawab sang tuan itu. Benar, mereka telah sepakat satu dinar sehari; itulah memang kesepakatan mereka semenjak awal. Itulah keadilan! Terasa menyakitkan memang, ketika ada orang yang nyelonong masuk dengan mobil putih dan membunyikan sirine melewati lampu merah, padahal kita telah antri mulai tadi.

"Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" tegas sang empunya kebun anggur. Inilah hak dan kebebasannya!

Memang harus kita akui mereka yang datang pukul sembilan dan duabelas siang atau tiga dan lima sore bukanlah orang sakit, bukankah sang tuan kebun anggur bisa memberikan sedikit bonus kepada mereka yang masuk semenjak pagi? Benar memang, hanya saja bukan hal itu yang menjadi penekanan dalam perumpamaan ini. Yesus dalam perumpamaan ini mau menegaskan bahwa betapa besar kasih Allah kepada umatNya, Ia mengasihi dan mengasihi. Yang menjadi ukuran awali bagiNya adalah bukan lamanya seseorang mau mendengarkan dan mengikuti Dia, melainkan keberanian orang untuk datang kepadaNya dan bekerja padaNya itulah yang menjadi nilai standard bagi setiap orang yang menginginkan keselamatan daripadaNya. Berani datang kepadaNya sudah mendatangkan berkat bagi orang yang melakukannya, sebab 'Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang' (Mat 18: 13).

Itulah gambaran kasih Allah yang sungguh mahabesar dan kuasa, Ia mencari dan mencari mereka umatNya. Allah tidak menunggu mereka datang dan datang, Allah justru mencari dan mencari sehingga menemukan mereka. Allah tidak bertindak reaktif dalam karya penyalamatan, melainkan aktif dan mendahuluinya semuanya. "Dan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya", tegas Allah sendiri dalam bacaan pertama tadi.

Ada baiknya kita berani terus-menerus memperbaharui kesepakatan kita dengan Tuhan, sebagaimana kerinduan kita untuk menikmati Kerajaan Surga. Kemurahanhati Tuhan malahan hendaknya semakin memberi kepastian kepada kita bahwa Tuhan itu sungguh baik dan baik, Ia tidak memperhitungkan kelemahan dan keterbatasan kita dalam mengikutiNya, dan bukannya irihati dan jengkel, bila Tuhan membuka tangan dan belaskasihNya kepada orang-orang yang tidak kita kehendaki; bukankahkah Tuhan yang memberi, Dialah yang berhak menentukan dan bukannya kita; justru keberanian kita untuk mengikutiNya haruslah menjadi modal abadi bagi kita untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Yesus, buatlah kami orang-orang akan setia dan taat kepada kesepakatan yang telah Engkau berikan kepada kami, dan ingatkanlah kami ya Yesus, agar kami ini tidak mudah irihati dan cemburu bila melihat keberhasilan kesuksesan orang dibanding usaha diri kami. KerajaanMu memang benar-benar berbicara tentang keadilan, ya Tuhan.

Yesus, teguhkanlah kami selalu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening