Rabu XXI, 25 Agustus 2010

2Tes 3: 6-10.16-18  +  Mzm 128  +  Mat 23: 27-32

 

Injil hari kembali melanjutkan cerita Yesus yang mengecam orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan mereka orang-orang munafik. KataNya: 

Celakalah kamu,

sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

Celakalah kamu,

sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu, tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Yesus mengecam sungguh mereka orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, mereka ini benar-benar orang-orang munafik, karena hidup dan perbuatan  mereka itu seperti makam yang dilabur putih tapi di dalamnya berisikan kebusukan, mereka hanya mempercantik penampilan mereka, bahkan membela diri bahwa mereka tidak ikutserta pada pembunuhan para nabi; benar memang, tetapi kata-kata dan nubuat para nabi tidak mereka hiraukan.

Kemunafikan dikecam oleh Yesus, karena pertama orang yang munafik itu menutupi diri dan bertindak tidak dengan sejujurnya, ia hanya berpura-pura. Ia hanya bermanis rupa dan kata, tetapi  hatinya tidak mengungkapkan kemanisan dan keindahan. Orang yang bertindak demikian, ia bukanlah orang yang bertindak dengan bebas, ia adalah orang-orang yang terkekang, karena dia harus berwajah ramah walau hatinya penuh kepahitan, ia berdoa tapi hatinya tidak bersuara, ia menghias wajah supaya tidak seindah warna aslinya, dan semuanya itu membutuhkan biaya tinggi; ia adalah orang yang tidak pernah bersukacita. Kenapa hidup harus terkekang terus? Hidup menjadi beban!

Kedua, kemunafikan juga mencelakakan orang lain dalam pergaulan sehari-hari, karena seorang munafik itu selalu bermain tipu daya dengan sesamanya, ia hanya mencari kepuasan diri dan tidak pernah memikirkan orang lain. Ia menjadikan sesamanya sebagai kurban! Orang lain yang ingin mengenal baik diri saya tidaklah tersampaikan, karena memang saya menutupi wajah saya dengan topeng ketopong yang tebal dan bajuzirah yang menutup rambut kepala sampai ujung kaki; karena kemunafikan saya, orang tidak mengenal sungguh siapakah saya. Orang terhalang ingin mengasihi dan mendoakan saya; sayang memang?

Yesus Tuhan perlu turun langsung menegur mereka, karena Dia menghendaki setiap orang itu hidup bebas dan bebas dari kungkungan. Yesus menghendaki setiap orang hidup dalam sukacita dan damai. Yesus pun tidak menghendaki salah seseorang umatNya dijadikan kurban dari sesamanya yang mementingkan diri itu; tindakan ini tidak sesuai dan bertentangan dengan pola hidup Yesus sendiri yang menjadikan dirinya sendiri sebagai kurban tebusan bagi banyak orang.

Kemunafikan membuat orang lain menjadi kurban. Celakalah kamu orang-orang munafik! Paulus bukan saja setuju dengan ucapan ini, justru ia menasehatkan, jangankan membuat orang lain menjadi kurban tindakan kita, sebaliknya kata-kata dan tindakan kita saja hendaknya malahan jangan menjadi beban bagi orang lain, dalam hal sekecil apapun jangan. Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya yang seharusnya Paulus mendapatkan upah dalam pekerjaannya, ia tidak mau memanfaatkan semuanya itu, ia malahan bekerja dan bekerja tangan supaya tidak menjadi beban bagi umatnya. Ia menegaskan: "sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti".

Kehadiran seseorang hendaknya menjadi sukacita dan damai bagi sesamanya, dan bukannya beban bagi mereka, apalagi sandungan bagi orang lain. Bagus kali bila seusai membacakan renungan ini kita mengakhirinya dengan mendoakan Puji Syukur no. 221: Tuhan jadikanlah aku pembawa damai.

Semoga.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening