Sabtu XX, 21 Agustus 2010

Yeh 43: 1-7  +  Mzm 85  +  Mat 23: 1-12

 

"Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu", tegas Yesus kepada para muridNya. Dengan menduduki kursi Musa berarti para ahli Taurat menduduki struktur kepemimpinan. Mereka adalah sintua yang harus dihormati dan disegani; mereka mempunyai suara atasnama dan dalam pembinaan masyarakat.

"Tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka", tambah Yesus, "karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya". Apa yang telah mereka lakukan sekarang ini?

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang,

tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang;

mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;

mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan

               dan di tempat terdepan di rumah ibadat;

mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil guru.

Itulah contoh yang diberikan Yesus kepada para muridNya agar mentaati apa yang diajarkan para ahli Taurat, tetapi tidak boleh mengikuti kelakuan dan perbuatan  mereka. Mereka sungguh-sungguh orang-orang munafik, mereka adalah orang-orang yang mencari muka. Tentunya kelakuan mereka tidak perlu dicontoh! Hanya memang juga agak sulit mengikuti pengajaran mereka, karena adanya kesatuan kata dan perbuatan. Bagaimana mengikuti para pemimpin yang jelas-jelas bersikap munafik dan hanya mencari muka? Bagaimana orang sekarang ini diyakinkan harus membayar pajak kalau ternyata uang pajak dimakan oleh oknum-oknum pegawainya? Adanya mafia kasus, di mana hokum dapat dibelokkan ke mana saja sesuai dengan kemauan orang-orang yang mempunyai milyaran rupiah. Alasan HAM, seorang koruptor klas kakap diberi grasi dan bebas dari hukuman di hari kemerdekaan ke-65 ini. Namun walau tahu kalau hidup itulah adalah hak azasi manusia, seenaknya saja hukuman mati diperlakukan untuk mereka yang bersalah. Hukumlah mereka yang bersalah, namun jangan memberangus hak orang untuk hidup. Ada kemunafikan juga dalam penegakaan keadilan di tengah-tengah bangsa kita.

"Dan  kamu", tegas Yesus, "janganlah kamu disebut guru; karena hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara, janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga, dan janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias".

Dengan penyataanNya ini, Yesus menegaskan bahwa kita semua para muridNya adalah saudara, kita semua mempunyai profesi yang satu dan sama yakni sebagai saudara. Kita hanya mempunyai satu Guru dan Pemimpin yakni Kristus Yesus sendiri, yang mengarahkan kita semua kepada Bapa yang ada di surge, Empunya kehidupan ini. Bacaan pertama pun mengingatkan betapa mulia dan luhurnya Tuhan yang selalu menjaga dan memperhatikan umatNya. FirmanNya: "hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus".

Kepemimpinan yang hanya satu sangat menguntungkan banyak pihak. Kita Gereja umat Allah sendiri dapat merasakannya, demikian mereka saudara-saudari kita semua. Kepemimpinan yang satu tidaklah diartikan tidak adanya kebebasan dalam bersuara dan berpendapat, malahan justru kemandirian Gereja amatlah diperlukan dan diwujudkan, kesamaan profesi sebagai saudara itulah yang menyatukan. Keterkaitan kita satu sama lain sebagai amat membantu kita dalam bersikap dan bertindak; ada yang lain, yakni dia yang adalah bagian dari hidupku membuat aku tidak sembarangan saja berlari mengejar cita-cita; tak mungkin saya menyuruh orang menceburkan ke ombak lautan agar perahu kita tidak tenggelam, agar sampai labuhan batu.

Penyataan Yesus tadi juga mengingatkan kita semua yang mempunyai jabatan structural dalam hidup bersama. Kita harus menggunakan semuanya itu untuk melayani sesame dengan sebaik mungkin; dengan adanya jabatan structural, seseorang diundang untuk melayani dan memperhatikan sesame dengan lebih baik lagi; semakin tinggi jabatan seseorang seharusnya semakin terpanggil dia melayani. Walau tak dapat disangkal, bahwa setiap orang dipanggil untuk mengasihi sesame seperti dirinya sendiri, seperti Kristus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Karena itu, Yesus menegaskan dalam ajaranNya tadi: "barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan".

Ya Yesus, tanamkanlah dalam diri kami semangat pelayanan dalam diri kami, dan semoga semakin hari semakin tumbuh dan berkembang. 'Apa yang kamu lakukan untuk saudaraKu yang paling hina ini, engkau telah melakukannya untuk Aku'; semoga penyataanMu ini kami sadari sungguh dalam karya-karya kami, sehingga kami mampu melihat kehadiranMu yang menyelamatkan dalam karya pelayanan dan tugas-tugas sehari-hari.

Tuhan Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening