Sabtu XXI, 28 Agustus 2010

Peringatan Santo Agustinus

1Kor 1: 26-31  +  Mzm 33  +  Mat 25: 14-30

 

"Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat". Administrasi Kerajaan Surga tertata rapi dan berjalan sebagaimana mestinya; masing-masing anggota diberinya talenta seturut kemampuan dan kesanggupannya masing-masing; dalam bahasa Paulus bahwasannya rahmat dan karunia itu dilimpahkan kepada semua orang tanpa terkecuali, dan semuanya itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama.

Sehabis pulang berpergian, diberilah kesempatan kepada mereka semua untuk mempertangungjawabkan harta benda yang dipercayakan kepada mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: "tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta", sahut sang tuannya itu kepadanya: "baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu". Demikian juga hamba yang memperoleh dua talenta, ia melaporkan dan mempertanggungjawabkannya, dan ia pun mendapatkan pujian dan berkat.

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: "tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam; karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: ini, terimalah kepunyaan tuan!". Kenapa hamba itu berkata demikian? Kalau memang dia sudah tahu bahwa tuannya adalah seorang yang kejam, mengapa dia menerima talenta itu semenjak semula?

Jawab  tuannya itu: "hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya". Kalau pun hamba tadi mengetahui bahwa sang tuannya adalah orang yang kejam, seharusnya dia menitipkan talenta tadi kepada orang lain, itulah ketaatan dalam hidup bersama; ia menerima talenta, tetapi tidak konsekuen, ia tahu bahwa talenta itu adalah titipan kepercayaan dan bukannya pemberian, tetapi tidak dikembangkannya, sepertinya pada jaman itu kebiasaan menitipkan harta benda sudah ada dan berjalan sebagaimana adanya.

"Sebab itu", lanjut tuan itu, "ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi".

Pernyataan ini membuktikan bahwa ternyata sang tuan itu bukanlah orang yang kejam dan tidak menuai di ladang orang lain, sebab ternyata laba lima talenta tadi tidak dinikmatinya sendiri, melainkan dibawakan dan dipercayakan kembali kepada hamba yang telah mengembangkan, hamba itu sekarang telah 'mempunyai sepuluh talenta'; bersyukurlah hamba itu karena 'dia sekarang termasuk orang yang mempunyai, kepadanya akan terus diberi, sehingga ia berkelimpahan', sedangkan kepada hamba yang menyembunyikan satu talenta disebutkan 'campakkanlah hamba yang tidak berguna ini ke dalam kegelapan yang paling gelap; di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi'.

Kesalahan total hamba yang memegang satu talenta ini adalah ia mengenal tuannya, bukan berdasarkan kenyataan hidup sang tuannya, melainkan berdasarkan konsep pemikirannya sendiri. Inilah yang sering terjadi juga dalam hidup sehari-hari: kita berusaha mengenal orang lain, bukan berdasarkan kenyataan orang itu, melainkan berdasarkan pemikiran dan perkiraan diri kita sendiri. Seingat dan setahu saya, sering kali yang terjadi seperti ini, Holanho itu orang yang suka makan rawon, padahal Holanho sama sekali tidak suka dan tidak ingin makan rawon; saya memperkirakan dan memastikan dia suka rawon karena memang saya pernah melihat dia masuk mobil di depan persis rumah makan Nguling. Saya mengenal Holanho seturut gambaran dan perkiraan saya, dan bukannya dari kenyataan hidup Holanho sendiri. Saya melihat dan memandang dia seturut kacamata optic saya sendiri. Mungkin perlu pengenalan fenomenologis!

Pengenalan yang tidak tepat terhadap sesuatu di luar kita memang tidak memberi kebenaran pada diri kita, terlebih bila itu kita kenakan pada Tuhan Allah. Saya mengenal Tuhan Allah sebatas dan menurut gambaran saya pribadi atau komunitas yang saya ikuti, dan lebih parah lagi kalau saya memaksakan gambaran tentang Allah yang saya miliki ini kepada orang lain. Itulah hamba yang memegang satu talenta tadi.

Amat baik memang mengenal Allah, dan memang harus kita usahakan! Namun kiranya harus semakin berani membuka diri untuk mengenal Dia apa adaNya, sangat tidak tepat berusaha mengenal Allah hanya seturut kemauan dan sebatas daya kemampuan nalar akal budi. Ingat pengalaman Petrus ketika ia menarik Yesus ke samping karena Dia menegaskan bahwa Dia akan mati, Yesus menegurnya: "enyahlah, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia' (Mat 16:21-23). Mengenal Allah adalah berusaha mengenal keberadaan dan kehendak Dia sebagaimana AdaNya, mengenal Allah berarti mengikuti dan meneladan Dia yang murahhati terhadap semua orang (Mat 5).

Keterbukaan diri adalah prasyarat utama dalam mengenal Dia; keterbatasan diri kita memang tidak cukup menampung kemahakuasaan Dia, tetapi keterbukaan diri, itulah iman, yang memampukan seseorang mengenal Dia sebagaimana AdaNya. Santo Agustinus, buah hati seorang ibu, berkat doa sang  ibu yakni santa Monika, pernah diingatkan seorang anak anak kecil dalam mengenal Allah. Ketika berjalan di pantai, dia melihat dan berjumpa dengan seorang anak kecil yang sedang menggali tanah untuk membuat sumur mainan, anak itu hilir mudik ke pantai mengambil air dengan sebuah ember dan memasukkannya ke sumur itu, dan tak penuh-penuh juga dengan air sumur itu. 'Tidak mungkin bisa penuh' tegur Agustinus kepada anak kecil itu, anak itu menoleh dan memandangnya, sahutnya: 'demikian juga engkau, tak mungkin mampu memasukkan Allah ke dalam pikiranmu'.

Ya Yesus Kristus, terima kasih atas segala anugerah yang telah Engkau berikan kepada kami, ajarilah kami untuk berani menggunakan dan memanfaatkannya, ajarilah kami untuk membagikannya dalam kasih kepada sesame kami.

Yesus, semoga semua pemberianMu ini mendorong kami untuk semakin berani mengenal Engkau sebagaimana Engkau Ada, demikian juga kehadiranMu dalam diri sesame kami. Yesus, bantulah kami.

Santo Agustinus, doakanlah kami, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening