Selasa, 10 Agustus 2010

Pesta Santo Laurensius

2Kor 9: 6-10  +  Mzm 112  +  Yoh 12: 24-26

 

Yesus mengingatkan para muridNya, kataNya: "Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah". Jatuh ke tanah dan mati adalah rumusan sebuah biji sesawi, bila hendak tumbuh dan berkembang, bahkan bila ingin menghasilkan banyak buah. Namun bukannya khusus untuk biji sesawi, melainkan bagi semua makhluk hidup.

 Mengapa harus begitu?  Ya memang itulah kiranya proses kehidupan yang harus bertumbuh dari nol, berkembang dan berkembang; bukannya kehidupan yang mengharapkan mukjizat dan keajaiban melulu. Kemungkinan untuk mendapatkan mukjizat dan keajaiban memang sangatlah terbuka lebar, ada keistimewaan, ada kekhususan sebagai 'hadiah pemberian', tetapi bukanlah jalan kehidupan yang riel dan nyata, yang tumbuh dari sebuah usaha dan perjuangan. Yang istimewa haruslah hanya satu dari seribu yang lain; inilah aturan main dalam kehidupan bersama. Guna mendapatkan kesuksesan dan kemapanan hidup, setiap orang harus berjuang dan berjuang, membanting tulang, memeras keringat dan berakit-rakit ke hulu, dan berenang-renang ke tepian.

Demikianlah, kata Yesus, "barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal". Penyataan ini bukanlah dimaksudkan sebagai pelemahan atau menyepelehkan kehidupan, bukan! Kehidupan harus dijaga dan diperhitungkan! 'Mencintai nyawa' yang dimaksudkan dalam perikop in adalah mereka yang mau mencari kemapanan dan keselamatan diri sendiri, mengabaikan yang lain dan bahkan membiarkan orang lain binasa, yang penting diri sendiri selamat. Mereka hanya 'mencintai nyawa' hidup yang sekarang ini, mereka tidak memikirkan dan tidak merindukan nyawa hidup yang tidak berkesudahan, yang kekal.

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa". Orang yang menghendaki keselamatan kekal adalah mereka yang mau mengikuti Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Mereka harus berani kehilangan nyawa karena mereka harus berani meneladan dan mengikuti Kristus yang rela mati dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seseorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Mengikuti Kristus bukanlah  menjadi penonton Dia yang mati di kayu salib, melainkan menjadi serupa dengan Dia yang tidak menyayangkan nyawaNya bagi sesamaNya.

Seberapa jauh kita harus menyerahkan nyawa?

Melihat jaman sekarang ini, tampaknya tidak akan ada lagi usaha mempertahankan iman yang harus sampai menyerahkan nyawa; perjuangan sampai berakhirnya nyawa itu memang harus! Namun mempertahankan atau mengedepankan iman haruslah terus-meneruskan dilakukan oleh semua orang yang memang sungguh-sungguh mencintai kehidupan abadi bersama Kristus. Orang-orang yang percaya kepada Kristus harus berani sungguh memberi diri untuk mendapatkan keselamatan kekal. Apa yang diminta Tuhan Yesus, bukan untuk Dia, melainkan untuk diri kita sendiri, kita harus berani memberikannya. Bila kita diminta sabar untuk menghadapi ulah anak kita yang sungguh-sungguh makan hati dan mencoreng muka, kita harus sabar dan sabar sungguh, kita diminta sabar yang tiada batas! Bila kita diminta untuk merawat seorang isteri yang sakit berkepanjangan dan tak kunjung sembuh, kita harus tabah dan tabah, kita harus setia dan tidak berkesudahan! Bila kita harus taat kepada seorang pimpinan yang kebetulan kita tahu benar siapa pimpinan kita itu, bagaimana tingkah lakunya, atau  apalagi kita tidak suka dan tidak cocok dengannya, kita harus tetap taat dan tunduk kepadanya, dan memegang segala rahasia jabatan yang kita emban, kita harus berikan semuanya itu!

"Camkanlah ini: orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga". Ucapan Tuhan Allah melalui Paulus ini tidak diartikan bahwa Yesus main hitung-hitungan dalam karya penyelamatan, malahan dengan pernyataan ini hendak ditegaskan bahwa Allah menghendaki kita berani memberikan diri dengan sepenuh hati. Pernyataan ini adalah suatu ajakan dan peringatan agar setiap orang berani member diri dengan sepenuhnya, bahkan berani menyerahkan nyawa bagi sesamanya. "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita". Orang yang berani memberikan diri sepenuhnya, ia tidak akan berkekurangan, sebab "Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan".

Keberanian untuk memberi diri dan tidaka menyayangkan jiwanya itulah yang telah dilakukan santo Laurentius dalam perjalanan hidupnya. Ia seorang martir yang ulung dalam mengejar kesempurnaan hidup dengan memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan Yesus, bahkan nyawanya sendiri ia berikan dan persembahkan kepada Tuhan yang berbelaskasih.

Yesus, ajarilah kami untuk tidak hanya memikirkan kehidupan keseharian kami. Memang itu semua penting adanya, tetapi ajarilah kami untuk berani memikirkan perkara di atas di mana Engkau bertakhta dan siap sedia berjaga dan mengikat pinggang guna melayani Engkau yang datang setiap saat dalam hidup kami.

Yesus teguhkanlah kami, amin.

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening