Selasa Masa Biasa XVIII, 3 Agustus 2010

Yer 30: 12-22  +  Mzm 102   +  Mat 14: 22-36

 

"Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang dan menyuruh orang banyak pulang, Ia naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri".  Sepertinya memang Yesus mengasingkan diri, sebagaimana kit baca dalam Injil kemarin, adalah untuk berdoa. Acara doaNya tertunda karena banyaknya orang yang datang kepadaNya memohon belaskasihanNya.

Hanya kecerdasan spiritual dan terbiasa dalam pembedaan roh yang membuat seseorang dapat bertindak sebagaimana yang dilakukan Yesus tadi. Ia menunda acara doaNya, bukan untuk melarikan diri. Yesus adalah seorang pendoa sejati. Doa adalah 'bagian terbaik yang tidak dapat diambil dari seseorang' (Luk 10: 42), sebab doa adalah pembicaraan pribadi seseorang, yang tak mungkin diwakilkan kepada orang lain.

Diceritakan tadi, ketika hari sudah malam, perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air, dan ketika murid-murid-Nya melihat semuanya itu, berteriak-teriaklah karena takut: "itu hantu!". Ketakutan yang wajar!

"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!", tegur Yesus.

"Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air" sahut Petrus. Ia ingin membuktikan kebenaran kata-kata Gurunya. Namun apakah Petrus juga memikirkan bahwa apa yang dilakukan seorang guru pasti juga bisa dilakukan oleh para muridnya? Namun kiranya juga maksud baik Petrus perlu kita kagumi, karena memang dia seorang pemberani, dia tentunya bukan ingin mencobai Gurunya.

"Datanglah!" jawab Yesus. Maka Petrus turun dari perahu, dan pasti bisa! Petrus pun berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

"Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: Tuhan, tolonglah aku!". Itulah hidup manusia. Itulah jiwa kita, mudah terombang-ambing badai kehidupan, lautan hidup keseharian. Petrus sudah mampu berjalan di atas air, karena memang kepercayaannya akan panggilan Tuhan Yesus, sang Guru, namun karena ketidakteguhan hati dirasakannyalah tiupan angin, maka takutlah ia dan mulai tenggelam. Hati menentukan kehidupan seseorang!

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?", tegur Yesus sembari mengulurkan tangan-Nya memegang Petrus. Sekali lagi, hati menentukan kehidupan seseorang; kekurangpercayaan diri, kebimbangan dan kekuatiran melemahkan langkah hidup seseorang, tak jarang bahkan mengubah dan membinasakannya.

Bacaan pertama juga sedikit memberi gambaran tentang pengalaman Israel yang menolak dan tidak percaya kepada kehendak dan kemauan Tuhan, dosa dan salah mereka mendatangkan petaka dan bencana. "Sungguh, beginilah firman TUHAN: Penyakitmu sangat payah, lukamu tidak tersembuhkan! Tidak ada yang membela hakmu, tidak ada obat untuk bisul, kesembuhan tidak ada bagimu! Semua kekasihmu melupakan engkau, mereka tidak menanyakan engkau lagi. Sungguh, Aku telah memukul engkau dengan pukulan musuh, dengan hajaran yang bengis, karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar. Mengapakah engkau berteriak karena penyakitmu, karena kepedihanmu sangat payah? Karena kesalahanmu banyak, dosamu berjumlah besar, maka Aku telah melakukan semuanya ini kepadamu".

Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah, dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "sesungguhnya Engkau Anak Allah". Sebuah pengakuan iman siapakah sebenarnya Yesus itu. Ia bukan saja Orang yang mampu menyembuhkan orang sakit dan mengadakan mukjizat, Ia berkuasa atas alam semesta!

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret, banyak orang yang sakit dibawa kepada-Nya dan disembuhkan. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya, dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Semuanya ini terjadi karena kepercayaan orang-orang Genesaret kepadaNya. Kepercayaan mendatangkan keselamatan. Bacaan Yeremia tadi juga memberikan contoh pengalaman Israel. "Beginilah firman TUHAN: sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli. Aku akan membuat mereka dipermuliakan dan mereka tidak akan dihina lagi. Anak-anak mereka akan menjadi seperti dahulu kala, dan perkumpulan mereka akan tinggal tetap di hadapan-Ku; Aku akan menghukum semua orang yang menindas mereka. Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu".

Yesus, pengalaman para muridMu sungguh indah dan menarik perhatian. Teguhkanlah hati kami dalam setiap langkah hidup kami, semoga kepercayaan kami yang kecil ini semakin hari semakin tumbuh dan berkembang, sebab kepercayaan kami mendatangkan hujan belaskasihMu.

Yesus, suburkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening