Selasa XX, 17 Agustus 2010

Hari Raya Kemerdekaan

             Negara Republik Indonesia

Sir 10: 1-8  +  1Pet 2: 13-17  +  Mat 22: 15-21

 

"Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" tanya orang-orang Farisi kepada Yesus untuk mencobaiNya.

Pertanyaan semacam itu memang layak diungkapkan kepada Yesus, karena memang Yesus bersama para muridNya bergerak dalam bidang rohani, dalam pengajaran dalam mencari Allah. Tak jarang ajaran kelompok-kelompok semacam mereka ini fanatic dan mudah kali bergesekan dengan pemerintahan dan penguasa yang ada. Pembinasaan terhadap kelompok-kelompok semacam ini seringkali memang dikonfrontasikan dengan kebijakan penguasa setempat.

Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu". Uang dimintanya karena memang uang adalah alat penukar yang sah, dan kewajiban membayar pajak dilakukan dengan mata uang setempat.

Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "gambar dan tulisan siapakah ini?". Lucunya, mengapa mereka tidak segera membalik Yesus dengan mengatakan 'mengapa sampai sejauh ini Guru belum tahu gambar dan tulisan ini? Guru tidak pernah melihat, berarti Guru tidak pernah memegangnya atau memang kamu tidak ada perhatian, dan pasti Guru tidak pernah membayar pajak!'. Mereka semua tidak berpikir sampai ke situ, mereka semuanya sepertinya sudah mengharapkan jawaban sebagaimana perkiraan mereka sendiri. Dan dalam hal ini sepertinya Yesus juga tidak pernah memegang uang dinar itu!

"Gambar dan tulisan Kaisar" jawab mereka semua.

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah" tegas Yesus.

Jawaban Yesus memang tidak langsung memberi jawaban atas pertanyaan orang-orang tadi, malahan Yesus membuka wawasan baru. 'Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar' adalah suatu ajakan agar kita mentaati pemerintah, karena memang kita adalah anggota masyarakat, hidup dalam kebersamaan, di mana kita harus taat dan tunduk kepada mereka yang memimpin kita; 'dan berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah' adalah suatu ajakan agar kitapun terlebih taat kepada Allah yang adalah Empunya dan Penguasa atas hidup ini.

Orang-orang yang mencari dan mencari pengalaman hidup rohani tetap terpanggil untuk mentaati segala bentuk pemerintahan, karena memang kecintaan akan hidup rohani tidak mengabaikan atau menyepelekan hidup sosial, barangsiapa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa, ia juga harus mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Demikian sebaliknya, orang yang aktif dalam hidup sosial harus selalu berani menimba kekuatan dari Tuhan sendiri.

Ketaatan kepada Tuhan dan kepada kaisar diterjemahkan Paulus dalam bacaan kedua dengan mengatakan: "tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik"; dan sebaliknya: "pemerintah yang bijak mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur. Seperti penguasa bangsa demikianpun para pegawainya, dan seperti pemerintah kota demikian pula semua penduduknya".

Apa yang dapat kita buat dengan hari raya kemerdekaan bangsa dan negara kita yang ke-65 kali ini?

Banyak hal yang dapat kita buat!

Namun, tentunya sekarang bukanlah saat kita memerincinya. Sebagai orang-orang yang menikmati kemerdekaan bangsa, "hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah". Seorang hamba Allah adalah seorang yang selalu siap membantu dan melayani sesamanya, sebab sebagaimana Allah sendiri hadir dalam diri manusia dan melayani mereka sampai menyerahkan hidup bagi sesamanya, demikianlah orang yang menjadi hamba Allah.

Bagaimana apakah anak-anak bangsa kita ini menggunakan kemerdekaannya sebagai orang-orang yang merdeka, tetapi tidak 'menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka?' Minimal bagaimana dengan kasus-kasus terakhir ini yang begitu semarak di tengah-tengah bangsa kita? Kitalah yang melihatnya dan kitalah yang mengomentarinya masing-masing.

Bacaan pertama bagus juga kita renungkan:

Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi,

dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya.

Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seorang manusia,

dan kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya.

Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya,

tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.

Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang.

Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya,

dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu.

Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun oleh manusia,

dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah.

Ya Yesus, berkatilah bangsa dan negara kami yang boleh merayakan hari ulangtahunnya yang ke-65, semoga bangsa dan negara kami semakin menampakkan umatMu yang adil dan sejahtera. Yesus, jadikanlah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kudus, sebuah bangsa umat milikMu sendiri. Amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening