Senin Masa Biasa XVIII, 2 Agustus 2010

Yer 28: 1-17  +  Mzm 119   +  Mat 14: 13-21

 

"Setelah Yesus mendengar kematian Yohanes Pembaptis, menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi". Tidak diterangkan oleh Matius untuk apa Yesus mengasingkan diri ke tempat yang sunyi. Yesus pasti bersedih dengan kematian Yohanes, sebab memang dialah bagaikan fajar yang mendahului siang. Yesus tahu benar siapakah Yohanes Pembaptis itu. Ia pasti bersedih! Dengan kepergiannya berati 'tugas sepenuhnya karya penyelamatan itu' diterima olehNya dan harus siap melaksanakannya. Tanpa upacara seremonial, Yesus memenuhi tugas perutusanNya, sebab Yohanes merasa tidak mampu dan merasa hina di hadapanNya, 'membuka tali sandalNya pun, aku tidak layak' (Mat 2: 11).

Namun "ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, yang diam-diam mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka, dan tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit". Ke-bersatu-an mereka semua dalam mengikutiNya mendatangkan berkat dan rahmat bagi mereka; kemauan dan keberanian untuk mengikutiNya ke mana Dia pergi membuat Yesus 'tergerak hati-Nya oleh belas kasihan' kepada mereka yang mengikutiNya.

Melakukan sesuatu tanpa persiapan membuat acara berantakan dan kacau, lebih baik menolaknya! Itulah yang disadari oleh para muridNya ketika Yesus meminta mereka memberi makan orang yang sebanyak "kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak". Di jaman yang serba modern ini saja, kita bisa kelabakan melakukan sesuatu tanpa persiapan, apalagi menyiapkan makanan bagi orang sejumlah besar itu, lagi pula di tempat yang jauh dari keramaian. "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan", tegas mereka kepada Yesus; sebuah ungkapan kejujuran tetapi juga sebagai penolakan atas permintaanNya tadi.

"Bawalah ke mari kepada-Ku" sahut Yesus kepada para muridNya. Lalu Ia "mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak, dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh".

Mukjizat itu sungguh nyata! Semuanya terjadi karena Yesus memintanya, dan para murid membawa semua itu kepada Yesus.

Kiranya memberi pelajaran bagi kita bersama untuk berani membawa segala kelemahan, ketidakmampuan dan keterbatasan kita kepada Yesus. 'Lima roti dan dua ikan' adalah bentuk keterbatasan dan kemampuan para murid dalam melayani sesamanya, mereka jujur dan mengatakan apa adanya. 'Bawalah ke mari kepada-Ku' adalah peringatan dan teguran, sekaligus peneguhan Yesus kepada mereka para muridNya, dan tentunya kepada kita semua yang sering lupa membawa segala kemampuan kita kepadaNya, agar kita dapat melakukan segala sesuatu yang berguna bagi banyak orang dan  menghasilkan banyak buah.

Sedikit interupsi,  kiranya juga menjadi pemahaman kita bersama bahwa pemberian Tuhan yang penuh belaskasih itu tidak selalu berupa 'pergandaan roti', demikian juga banyak buah tidaklah harus diartikan 'berlimpahnya roti sampai duabelas bakul', sebab tak jarang demi keselamatan umatNya, Allah yang penuh kasih itu harus mengirim dan mengutus "nabi-nabi yang ada sebelum aku dan sebelum engkau dari dahulu kala telah bernubuat kepada banyak negeri dan terhadap kerajaan-kerajaan yang besar tentang perang dan malapetaka dan penyakit sampar" sebagaimana kita dengar dalam bacaan pertama tadi. Tak jarang, Tuhan yang tahu isi hati manusia ciptaanNya memberikan pil pahit yang harus diminum demi kesembuhan umatNya.

Apakah 'ke-lupa-an kita membawa' segala yang kita miliki kepada Yesus merupakan ketidakpercayaan kita kepadaNya?

Kiranya demikian!

Orang yang percaya sungguh kepada Tuhan Yesus adalah orang yang selalu minta bantuan kepadaNya, apapun yang akan dilakukan, selalu dia meminta dan meminta bantuan dan penyertaanNya terlebih dahulu. 'Bukannya dia tidak mampu melakukan sesuatu', dia bisa melakukan dan membuatnya, tetapi dia merasa yakin dan damai, dia semakin merasa pede (=percaya diri) dan apa yang dilakukannya akan menghasilkan banyak buah, bila dia terlebih dahulu berseru 'Yesus, bantulah aku' sambil membuat tanda salib di dahi dn dadanya.

Ya Yesus yang berbelaskasih, Engkau berbaik hati kepada semua orang yang mengikuti Engkau. Ajarilah dan ingatkanlah kami selalu untuk berani meminta bantuan kepadaMu. Yesus, bantulah aku selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening