Senin XX, 16 Agustus 2010

Yeh 24: 15-24  +  Mzm  +  Mat 19: 16-22

 

Ada seorang muda datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?". Dari pertanyaannya ini, orang ini pasti seseorang yang baik dan suci, padahal dia masih muda sudah memikirkan kehidupan kekal, 'apakah kaum muda sekarang ini tidak memikirkannya?', sebab bukan soal studi atau pekerjaan yang ditanyakan, melainkan soal kehidupan yang akan datang, yakni kehidupan kekal yang tidak dikuasai oleh kebinasaan.

Jawab Yesus: "apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik, tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah". Yesus tidak memberi jawaban pasti. Apa yang dimaksudkan dengan 'hanya Satu yang baik'? Apakah yang hanya satu itu cinta kasih, sebab Allah adalah kasih, sebagaimana diajarkan kepada kita semua?

'Turutilah segala perintah Allah' yakni: "jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kata Yesus.

Orang muda ini memang orang yang baik dan suci! Sebab, "semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?". Menuruti perintah Allah bukanlah hal yan sulit, semuanya sudah saya lalukan!

"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku", tegas Yesus.

Mengapa Yesus kemudian menegaskan hal ini? Apakah Yesus merasa kecolongan dengan ucapan orang muda tadi? Karena memang orang muda ini sudah menuruti apa yang diminta Yesus, ia telah menuruti segala perintah Allah! Apa yang diminta Yesus telah dipenuhinya. Apakah Yesus tidak mengenal orang muda ini dengan baik? Mengapa Yesus tidak mengungkapkan persoalan harta benda ini semenjak semula? Mengapa Yesus sekarang tiba-tiba berbicara soal kesempurnaan? Apakah kesempurnaan itu berbeda dengan kehidupan kekal? Memang perintah-perintah Allah tadi tidak menyebut soal harta benda, apakah perintah-perintah tadi lebih penting daripada soal harta benda, atau malahan sebaliknya? Perintah-perintah Allah tadi itu kurang sempurna?

Tembakan Yesus kali ini memang tepat mengenai sasaran, sebab "ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya". Sikap orang muda ini menunjukkan bahwa perintah-perintah Allah dalam Perjanjian Lama tadi bisa berseberangan dengan perhatian akan harta benda. Orang dapat menghayati perintah-perintah Allah sebagaimana diminta Yesus tadi, tetapi dia bisa menenggelamkan diri dalam kekayaannya yang melimpah. Sikap orang muda ini juga menunjukkan bahwa dalam mengikuti Dia kita tidak bisa membatasi diri dalam melaksanakan kehendak Tuhan, kita tidak bisa melakukan sebagian  atay per bagian dari kehendakNya, kita harus melakukan semua kehendak dan kemauanNya untuk mendapatkan kesempurnaan.

Kemauan Tuhan memang tidak selalu menyenangkan hati setiap orang, namun yang pasti kemauan dan kehendakNya itu menyelamatkan; bagaikan pil pahit yang harus diminum agar mendapatkan kesembuhan. Pil pahit harus diminum oleh Yehezkiel sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama tadi: "hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata. Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan ratapan kematian; lilitkanlah destarmu dan pakailah kasutmu, jangan tutupi mukamu dan jangan makan roti perkabungan". Tuhan yang berbelaskasih itu, bukannya meminta harta benda Yehezkiel sebagaimana dialami anak muda tadi, melainkan justru isteri dan keluarganya.

Kehendak Tuhan memang tidak selalu manis rasanya! Kita pun tidak bisa pilih-pilih melaksanakannya. Apa yang dikehendakiNya itulah yang harus kita laksanakan! Seorang muda tadi sepertinya terlalu mengarahkan hatinya kepada kekayaan dan harta bendanya, ia juga mempunyai perhatian terhadap sesamanya, bahkan mungkin harta benda yang dimilikinya mempermudah dia memberi perhatian terhadap sesame atau dia mau meperhatikan sesamenya manusia karena dia hidup berkecukupan. Mungkin dia kurang perhatian terhadap sesamanya bila tidak berke-cukup-an hidupnya? Namun yang jelas, sekarang dia merasa berat melaksanakan permintaan dan kehendak Tuhan, dia tidak mau menerima pil pahit untuk mendapatkan kehidupan kekal.

Ya Tuhan Yesus, semoga kami semakin hari semakin berani mendengarkan sabda dan kehendakMu, yang tak jarang bagaikan pil pahit yang harus kami minum, walau kami tidak sakit. Yesus, semoga kerinduan kami akan hidup kekal juga semakin hari semakin tumbuh dan berkembang.

Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening