Senin XX, 16 Agustus 2010

Malam 17 Agustusan Republika

1Taw 15: 3-4.15-16  +  1Kor 15: 54-57  +  Luk 11: 27-28

 

Suatu ketika berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak kepada Yesus: "berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau". Sebuah pujian kepada orangtua Yesus yang telah membimbing dan menghantar Yesus sehingga sekarang ini Dia mempunyai kemampuan seperti sekarang ini. Betapa bahagia seorang ayah atau seorang ibu, bila mempunyai seorang anak yang patut dibanggakan, mempunyai gelar tinggi dan harum namanya, mempunyai kepandaian dan digemari banyak orang!

Apakah seruan itu pujian kepada Maria? Bisa saja! Namun orang itu tidak mengenal Maria

"Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya" jawab Yesus.

Kebahagiaan seseorang tidaklah bergantung pada kepemilikan yang bersifat badani, inderawi ataupun bendawi. Kebahagiaan yang dikatakan Yesus di sini mengatasi rasa gembira ataupun senang yang melulu emosional. Jawaban Yesus 'yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya' lebih mengarah pada kebahagiaan yang sungguh-sungguh menenangkan dan mendamaikan jiwa dan batin seseorang, dan lebih-lebih lagi yang mengarahkan kepada keselamatan. Ada rasa senang dan gembira yang hanya memberi kepuasan diri, tetapi tidak memberikan damai kepada hati. Sukacita dan damai itulah yang diharapkan oleh Yesus kepada semua orang yang percaya kepadaNya, sebuah pengalaman yang menghantar orang kepada persekutuan dengan Yesus sendiri.

Dalam persiapan perayaan kemerdekaan Indonesia, bangsa dan negara kita, kita diajak untuk berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan atas anugerah luhur yang diberikan Tuhan yang Mahaesa kepada bangsa dan negara kita, yakni kemerdekaan; kita diajak bergembira dan bersyukur seperti bangsa Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Tanpa mengabaikan jasa para pahlawan, karena memang mereka telah berjuang dan berjuang, dan bahkan kita harus mendoakan mereka yang telah berjasa agar mereka menikmati kebahagiaan sejati di surga, kita pada malam tujuhbelas Agustus ini diajak untuk mengenang segala kebaikan yang Tuhan beri melalui para pahlawan kita. Sebagai orang beriman, sudah layak dan sepantasnya lantunan syukur dan pujian kita lambungkan kepada Tuhan, karena memang Dialah yang memberi kebebasan dan kemerdekaan kepada kita. Dialah yang memberi semangat dan kekuatan kepada para pahlawan untuk mengusir para penjajah kemerdekaan manusia dan bangsa Indonesia yang beradab; Dialah yang melemahkan para penjajah untuk terus-menerus menginjak-injak bangsa dan negara kita. Karena itu, hanya syukur kepada Tuhan kita sampaikan, Dialah Empunya kehidupan. Paulus menegaskan kepada kita dalam bacaan kedua tadi: "syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita".

Lalu apa yang dapat kita buat dengan kemerdekaan ini?

Paulus pun menasehatkan: "saudara-saudariku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia". Paulus mengajak agar kita tetap bertahan dalam kemerdekaan, kita diajak menggunakan kemenangan yang kita miliki, kita harus tetap berdiri teguh dalam karya dan usaha, tentunya dalam kasih dan cinta kepada teman-teman sebangsa dan negara. Dan itulah artinya giat selalu dalam pekerjaan Tuhan. Kita tidak cukup hanya bangga dengan kemerdekaan, melainkan harus menggunakan kemerdekaan itu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik bagi bangsa dan negara, sebagaimana dikehendaki Tuhan sendiri dengan 'tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak mengucapkan saksi dusta, menghormat orangtua dan para pejuang dan leluhur dan mengasihi sesama manusia'. Ini berarti kita tidak hanya bangga dan bangga terhadap 'ibu yang telah mengandung engkau dan susu yang telah menyusui engkau' sehingga engkau bebas dan merdeka dan menjadi negara yang berdaulat dengan segala kekayaan alam yang dimiliki', melainkan 'mendengarkan firman Allah dan  melaksanakannya' sebab Dia sang Pemberi kemerdekaan dan kedaulatan menghendaki agar semua umatNya bahagia dan selamat.

Kemenangan dan kejayaan yang dialami bangsa Israel sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama juga demikian; mereka beranggapan dan yakin bahwa semuanya itu berasal dari Tuhan Allah Yahwe yang  memang selalu memperhatikan umaNya. Maka sebagai rasa sukacita atas kemenangan itu, "tabut Allah itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tengah-tengah kemah yang dipasang Daud untuk itu, kemudian mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan Allah. Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN".

Ya Tuhan Yesus, kami bersyukur kepadaMu atas anugerah luhur yang Engkau limpahkan kepada kami bangsa dan negara Indonesia. Kami bersyukur kepadaMu, ya Yesus, sebab Engkau memberikan yang terindah dalam perjalanan bangsa kami.

Semoga Ketuhanan yang Mahaesa dalam bangsa kami semakin hari  semakin tumbuh dan berkembang, sehingga menjiwai bangsa dan negara kami dalam memanfaatkan kemerdekaan, kekayaan alam semesta dan rahmat kasihMu menjadi bekal dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Yesus, hujankanlah keadilan dan damai bagi bangsa dan negara kami, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening