Senin XXI, 23 Agustus 2010

2Tes 1: 1-5.11-12  +  Mzm 96  +  Mat 23: 13-22

 

Injil hari ini berisikan kecaman Yesus kepada orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan mereka orang-orang munafik. KataNya: 

Celakalah kamu,

karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang.

Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu,

sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang.

Celakalah kamu,

sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

Celakalah kamu,

Sebab kamu berkata: bersumpah demi bait suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas bait suci, sumpah itu mengikat,

Apakah yang lebih penting, emas atau bait suci yang menguduskan emas itu?

Barangsiapa bersumpah demi bait suci, ia bersumpah demi bait suci dan juga demi Dia, yang diam di situ; dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.

Jahat sungguh mereka itu! Mereka sama sekali tidak melayani orang-orang yang seharusnya mereka layani, mereka hanya mencari keuntungan dan kepuasan diri, mereka bukannya membuat orang semakin baik, malahan sebaliknya membuat orang-orang semakin jahat daripada mereka. Kepandaian, gelar dan status sosial tidak membuat mereka semakin berani melayani, melainkan semakin minta dilayani. Mereka adalah orang-orang yang mencari muka, orang-orang munafik, pemain-pemain sandiwara kehidupan!

Kehadiran Yesus memang menantang keberadaan mereka, tetapi bukannya Yesus menolak kehadiran dan peran mereka, Yesus sangat menghormati mereka malahan agar semua orang mendegarkan pengajaran mereka; Yesus hanya melawan kemunafikan mereka, mereka seharusnya melayani karena pilihan hidup dan kesempatan pelayanan yang mereka nikmati, tetapi justru sebaliknya. Format hidup Yesus yang hanyalah kasih yakni dengan memberikan nyawa menjadi tebusan bagi setiap orang, kiranya menjadi format hidup atau spiritualitas kehidupan bagi orang-orang yang ingin beroleh kehidupan kekal; sebab memang tidak ada jalan lain untuk mencapainya, pemberian diri yang adalah kasih menjadi pola kehidupan bagi semua. Akulah Jalan, tidak ada orang yang sampai kepada Bapa, kepada keselamatan kekal, tanpa harus melalui Aku.

Bacaan pertama dari rasul Paulus memberi contoh: bagaimana seseorang yang mendapatkan kesempatan untuk melayani itu harus menunjukkan diri secara nyata dalam kehidupan bersama. Seseorang akan siap melayani dan terjun dalam karya pewartaan, kalau memang dia semenjak semula mempunyai rasa syukur dan bangga pada mereka yang dilayaninya, bahkan dia terpanggil untuk mendoakan selalu orang-orang yang dilayani agar mereka semua semakin tumbuh berkembang, karena memang Allah telah memilih mereka untuk hidup dalam kasih, dan karena pelayanan mereka itu hanya untuk kemuliaan Allah. Ia dipanggil untuk mengembangkan Kerajaan Allah, dan inilah yang kiranya patut disyukuri. Paulus menegaskan: " kami wajib selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudari semua, dan memang patutlah demikian, karena imanmu makin bertambah dan kasihmu seorang akan yang lain makin kuat di antara kamu; kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus".

Apa yang dapat kita buat dengan pesan Injil hari in?

Spiritualitas hidup Yesus kiranya menjadi pedoman hidup bagi kita semua, tidak ada yang lain; kalaupun tokh dalam kenyataan hidup bersama, dalam Gereja khususnya, kita harus berhadapan dengan orang-orang seperti para ahli Taurat dan kaum Farisi. Kita harus tetap menghormati mereka, tetapi tidak mengikuti cara hidup, pikiran dan perbuatan mereka; kalau pun harus dikatakan: berapa lamalah mereka harus hidup, dan bukan karena merekalah kita hidup, mereka bagaikan bunga di padang, di pagi hari mereka tumbuh dan berkembang, di sore hari layulah mereka. Yesus, satu-satunya Jalan hidup kita.

Kedua, kiranya kita tidak mengikuti cara hidup mereka, para ahli Taurat dan kaum Farisi. Semakin lebar kesempatan yang diberikan kepada kita untuk melayani, apalagi dengan aneka karunia yang kita terima, dan bahkan pelbagai fasilitas kehidupan yang ada, kiranya semakin berani kita menggunakannya dan membaginya dalam kasih persaudaraan, sebab makin banyak kita menerima semakin banyak pula kita diminta. Kalau kita melaksanakannya berarti kita menyetujui apa yang disabdakan Injil beberapa Minggu lalu yang menegaskan: 'hendaknya kita juga kaya di hadapan Tuhan'.

Ya Yesus, ajarilah kami semakin menghayati spiritualitas pelayanan yang telah Engkau berikan kepada kami. Kami lemah ya Tuhan, kami orang lemah, maka bantulah kami selalu dan arahkanlah hati dan pikiran kami sehingga kami selalu melakukan apa yang menjadi tugas dan kewajiban kami.

Yesus, jadikanlah kami ini pelayan-pelayan kasihMu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening