Senin XXI, 30 Agustus 2010

1Kor 2: 1-5  +  Mzm 119  +  Luk 4: 16-30

 

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang", penyataan diri Yesus kepada orang-orang yang mendengarkan Dia. Ia menyatakan siapakah diriNya dan apa yang menjadi tugas perutusanNya. Yesus diutus kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan bantuan, yakni orang-orang miskin, orang-orang tawanan, orang-orang buta, orang-orang yang tertindas, dan bukan kepada orang-orang lain, apalagi orang-orang munafik.

Kemudian Ia mengajar mereka dengan wibawa dan penuh kuasa, dan sepertinya banyak orang yang kagum dan terperangah kepadaNya. Sungguh hebat dan luar biasa Orang satu ini!

"Bukankah Ia ini anak Yusuf?" sela mereka. Sulit dimengerti kehebatan Yesus ini oleh orang-orang sekampungNya. Matius lebih tajam menguraikannya dengan mengatakan: 'darimana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?' (Mat 13: 54-56).

"Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKu: hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri; perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!", kata Yesus kepada mereka. Apakah Yesus membela diri? Sepertinya, dan pasti, Yesus sudah tahu akan penolakan mereka, karena itu Dia jarang kali dan mungkin tak pernah mengadakan pengajaran di Nazaret daerahNya sendiri, 'perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini', juga karena Dia tidak mau menekankan ke-berasalan-keluarga dalam karya penyelamatan,  'sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku' (Mat 12: 47-50), lagi pula "tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya".

Kemudian Yesus mengingatkan: "Aku berkata kepadamu, dan kataKu ini benar: pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri, tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon; dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu".

Penolakan akan kehadiranNya tidak mendatangkan berkat!

Penyataan Yesus amat menyakitkan orang-orang yang mendengarNya, karena mereka merasa dianggap dan dituduh bahwa mereka semua, orang-orang yang dipilih menjadi bangsaNya yang kudus, telah berlainan arah dan melawan Tuhan Allah; mereka merasa tidak pernah murtad dari Allah; bagaimana ini, mereka hanya melawan dan menolak Yesus yang adalah seorang Anak muda, Orang sekampung sendiri, Anak Yusuf, tapi diartikan sama dengan orang-orang yang melawan Allah!

"Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu". Orang semacam ini baiklah mati dengan sia-sia, terlempar dari tebing gunung tak ubahnya terlempar ke dunia orang mati.

Namun Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Ia datang bukan untuk binasa, Ia datang untuk hidup dan bahkan memberi kehidupan baru bagi semua orang yang percaya kepadaNya. Yesus tahu bahwa Dia memang akan mati, tetapi pada hari ketiga Dia akan bangkit. Ia akan mati demi kehidupan, bukan untuk binasa, karena itu  'Dia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka'.

Kita semua tentunya bukan orang-orang Nazaret!

Kita sekarang ini adalah orang-orang yang sudah percaya dan mengenal Kristus, semakin lama mengenal Dia tentunya semakin berani berserah diri kepadaNya. SabdaNya setiap hari kita dengarkan, semakin mengenal suaraNya semakin akrab dengan Dia, tak ubahnya kalau kita sering bertelepon dengan orangtua kita atau siapun, walau mungkin berjauhan jaraknya dan kita tidak berjumpa melihatnya, hanya dengan mendengar  suara pertama yang menyapa hallo kita langsung mengenal dan akrab dengan Dia; demikianlah keseringan kita mendengarkan suaraNya. Suara Dia yang menyapa, suaraNya yang memanggil itulah yang kiranya amat penting kita pahami dan kita mengerti, dan bukan kesaksian tentang suaraNya yang perlu kita ingat.

Karena itu Paulus dengan yakin meneguhkan: "ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu; baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah".

Tak jarang kelemahan kita, baik sang pengkotbah ataupun sang pendengar, hanya mengingat dan mengulang-ulang kiasan gambaran, perbandingan, gurauan dan lelucon yang mewarnai sebuah pewartaan sabda. Romo Wibi itu lucu dan sering banyol, sehingga kita tidak ngantuk, dan kita suka, kalau dia menyampaikan kotbah; apa isi dan pesan sabda tidak tersampaikan dan tidak teringat. Inilah kelemahan kita. Paulus berusaha menghindari penyampaian hikmat dalam karya pewartaan, karena memang SabdaNya yang menyelamatkan, SuaraNya adalah kekuatan hidup bagi setiap orang dalam perziarahan ini.

Yesus Kristus, buatlah kami ini menjadi orang-orang yang semakin kagum akan Engkau, sebab Engkau memang membuat segalanya menjadi baik adanya; kiranya juga kami mampu berani menerima kehadiranMu dalam diri sesame kami yang tampil di hadapan kami dengan segala kelebihan dan kemahirannya.

Yesus, bantulah kami selalu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening