Jumat XXI, 3 September 2010

1Kor 3: 1-5  +  Mzm 37  +  Luk 5: 33-39

 

Dalam tradisi keagamaan sudah tertata kebiasaan untuk berpuasa, demikian juga dalam agama Yahudi: ada saatnya orang-orang harus berpuasa. Orang-orang Farisi pun ikut ambilbagian di dalamnya, mereka ikut aktif dan berperan. Gelisahlah mereka, ketika melihat para murid sang Guru dari Nazaret itu tidak ikut ambil bagian di dalamnya, itu berarti sebuah pelanggaran dan  perlawanan terhadap tradisi keagamaan; karena itu mereka menuntut: "murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum". Sebagai orang-orang Yahudi sangatlah baik dan keharusan bagi mereka untuk mengikuti tradisi keagamaan yang ada.

"Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa", jawab Yesus.

Penyataan ini sungguh-sungguh memberi penegasan dan pengertian baru tentang berpuasa. Pertama, sepertinya Yesus tidak pernah menganjurkan para muridNya untuk tetap berpuasa sebagaimana adanya selama ini. Kedua, selama berkumpul dan bersatu dengan Dia, seseorang tidak perlu berpuasa; sebab kiranya yang dimaksudkan dengan sang mempelai laki-laki adalah Dia sendiri yang sekarang berbicara. Intense berpuasa adalah adanya kepentingan dengan Dia yang adalah Tuhan.

Sekarang mereka para murid tidak perlu berpuasa karena mereka tinggal bersama dengan Dia, nanti mereka akan berpuasa bila sang mempelai tidak bersama dengan mereka, 'sebab tak mungkin seseorang menambalkannya secara kain baru pada baju yang tua atau mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua', segala-galanya ada waktunya.

Dengan demikian, apa artinya berpuasa?

Berpuasa bukan soal makan dan minum, berpuasa itu adalah kegiatan seseorang dalam kaitannya dengan Tuhan. Selama seseorang merasakan dan menyadari kehadiranNya ia tidak perlu berpuasa; berpuasa bukan soal tidak makan atau minum, atau mengurangi makanan, pantang dari aneka makanan atau minuman tertentu; apalah artinya mengurangi dan tidak menikmati makanan kalau tidak menyadari kehadiranNya? Bukannya orang yang berpuasa yang merasakan kehadiranNya, orang yang tidak lapar dan tidak haus akan makanan pun bisa merasakan kehadiranNya! Sebab orang yang merasa dan menikmati kehadiranNya adalah orang-orang yang mengikuti dan melaksanakan kehendakNya; apa yang disabdakan, apa yang diminta oleh Dia itulah yang harus dihidupi. Pengalaman akan kehadiran Allah adalah mendengarkan Dia dan melaksanakannya, pengalaman akan Dia tidak ditentukan oleh makanan dan minuman, lapar atau kenyang seseorang, sehat atau sakit seseorang, kaya atau miskin, pandai atau bodoh, laki-laki atau perempuan, tua atau muda.

Apakah kita tidak perlu berpuasa?

Berpuasa itu dimaksudkan: agar kita tidak dikuasai dan dikendalikan oleh makanan dan minuman, ataupun bahkan oleh kebiasaan keseharian kita. Ada orang tidak bisa bekerja kalau tidak minum kopi, ada seorang ibu tidak bisa masak siang hari kalau tidak menonton sinetron terlebih dahulu. Inilah perhambaan, inilah kebodohan, inilah kungkungan! Kenapa kita hidup dikendalikan oleh makanan dan minuman atau kebiasaan keseharian kita, seharusnya dan memang kita harus mampu mengendalikan semuanya itu. Manusia adalah raja atas dirinya, dan berkuasa atas semua ciptaan.

Tak ada yang boleh mengendalikan kita di dunia ini, hanya Dia sang Empunya kehidupan ini yang boleh mengendalikan hidup kita, malahan kita memang harus berani merundukkan diri di hadapanNya. Inilah kiranya makna terdalam dari sebuah tindakan berpuasa; kemampuan kita mengendalikan diri dan tidak dikuasai oleh segala sesuatu, baik oleh aneka makanan dan minuman ataupun segala kecenderungan insane kita, akan menghantar dan mengkondisikan diri pribadi untuk dikuasai oleh sang Sumber hidup itu sendiri yakni Yesus Kristus Tuhan kita.

Semuanya ini harus dilakukan oleh setiap orang yang memang telah menyerahkan diri menjadi milikNya, menjadi umatNya yang kudus, terlebih semenjak menyatukan diri dalam sakramen baptis. 'Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh' (Gal 5: 24-25). Menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya inilah arti murni dari sebuah puasa.

Yesus Kristus, bantulah kami selalu dalam berpuasa, dalam memanggul salib kehidupan ini, sebab tak jarang kami meletakkan salib kami di tengah jalan, kami duduk-duduk sambil memandangi keindahan taman dan kesejukan udara.

Yesus, teguhkanlah hati kami, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening