Sabtu XXI, 4 September 2010

1Kor 4: 6-15  +  Mzm 145  +  Luk 6: 1-5

 

"Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya". Apa yang dilakukan para murid Yesus ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh, mungkin asal-ambil aja sekedar main-main, karena memang mereka berjalan ramai-ramai, atau mungkin lapar. Dan mereka, juga semua orang, diijinkan memetik dan mengambilnya. Ada peraturannya, bunyinya: 'apabila engkau melalui kebun anggur sesamamu, engkau boleh makan buah anggur sepuas-puas hatimu, tetapi tidak boleh kaumasukkan ke dalam bungkusanmu. Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu' (Ul 23: 24-25). Suatu peraturan yang amat baik, sepertinya belum pernah terjadi aturan semacam itu di kampong kami. Kalaulah orang mau mengambil dan memakannya, berapa banyaklah dia mampu memakannya.

Melihat apa yang dilakukan mereka para murid, berkomentarlah beberapa orang Farisi, kata mereka: "mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?".  Bukankah 'enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada perhentian kudus bagimu, yakni sabat, hari perhentian penuh bagi TUHAN; setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, haruslah dihukum mati?' (Kel  35: 2).

Mereka kaum Farisi memang beranggapan bahwa pada hari Sabat, seseorang tidak boleh melakukan segala sesuatu, hari Sabat dikhususkan untuk pergi ke rumah ibadat dan berdoa, sebagaimana pada hari ke tujuh, Tuhan Allah juga beristirahat; termasuk hal yang paling ringan, 'memikul tilam' pun jangan  (Yoh 5: 10). Sebetulnya, berjalan jauh pun juga harus dilarang, karena melelahkan dan berkeringat, bukankah tidak ada angkot atau taxi pada waktu itu.

Lalu Yesus menanggapi mereka, kataNya: "tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?". Ada peraturan memang, yang semuanya dibuat demi ketertiban bersama, agar semua orang tidak bertindak semaunya sendiri; betapa repotnya di simpang empat bila tidak ada tanda-tanda lalu lintas, semuanya saling berebut dan ingin mendahului, tetapi tidaklah demikian untuk mereka yang berada dalam keadaan darurat dan membutuhkan pertolongan segera; demikian juga untuk penghormatan aparat negara, ada keistimewaan.

Apakah yang dilakukan para murid melanggar hari Sabat, merugikan orang lain, dan bahkan melanggar kehendak Tuhan?

Tidak!

Yesus ada di situ! Kalau mereka bersalah dan bahkan melawan kehendak ilahi, kalau mereka melanggar hari Sabat, maka tentunya Dia akan menegur mereka; tidak berbuat baik kepada orang lain saja mereka diingatkan dan dinasehatiNya, apalagi bila mereka melawan kehendak Allah. Yesus menegaskan kepada mereka: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat".

Penafsiran yang berlebih-lebihan itulah yang seringkali juga terjadi pada sekarang ini; sekarang ini ada banyak kaum Farisi sekarang ini, seringkali kita menambahkan pada aturan yang sudah tertulis sebuah penafsiran pribadi yang menguntungkan dan meringankan diri sendiri tetapi membebani orang lain; di balik penafsiran-penafsiran semacam ini, seringkali berisikan kesombongan dan kesewenang-wenangan yang merasa diri tahu segalanya dan menguasai hokum. "Jangan melampaui yang ada tertulis", tulis santo Paulus dalam bacaan pertama hari ini, sekali lagi jangan sampai ada orang-orang yang merasa diri penting dan berkuasa atas segalanya. 'Jangan melampaui yang ada tertulis' dinyatakan supaya jangan ada yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain, kemudian menyepelekan dan merendahkan yang lain.

Pesan apa untuk kita bacaan-bacaan suci kepada kita hari ini?

Mari kita menghormati hari Tuhan, bukan seperti orang-orang Yahudi yang menghormati hari Sabat, yang secara khusus kita rayakan pada hari Minggu, hari kebangkitan Paskah, hari raya kemenangan, sebab dengan menghormati dan merayakannya berarti kita ambil bagian dalam kematian dan kebangkitanNya; kita menghadirkan dan merindukan perjamuan kekal surgawi, sebab dalam perayaan hari Minggu Kristus Tuhan sendiri yang memimpin perayaan, di mana Dia sendiri Tuan Rumah Perjamuan Abadi di surge.

Kita merayakan hari Minggu bukan berarti kita tidak melakukan segala kegiatan apapun, tetapi kemauan berhari libur sebagai anggota keluarga hendaknya kita perhatikan bersama, saat inilah kita menggunakan waktu bersama keluarga untuk beristirahat dan merayakannya sebagai keutuhan keluarga. Bukankah dengan menerima Dia sebagai Putera sulung kebangkitan, kita menjadi anak-anak Bapa di surge, kita menjadi keluargaNya yang kudus?

Kesadaran kita akan kehadiranNya akan membuat kita tidak sempat membuat pelanggaran terhadap kehendak ilahi, bagaima kita akan melanggar kehendakNya kalau kita memang selalu berada di dekatNya; bila kita melakukan laranganNya maka Dia akan menegur dan memarahi kita; seperti itulah tadi pengalaman para murid yang tinggal dekat dengan Yesus.

Ya Tuhan Yesus, semoga Engkau menerangi kami dengan Roh KudusMu, agar dalam setiap langkah hidup ini, kami dapat bertindak dan berkata benar.

Tuhan Yesus, berikanlah kesempatan sebanyak-banyaknya bagi saudara-saudari kami yang merindukan selalu perjamuan bersama Engkau di setiap hari Minggu, karena memang mereka telah percaya kepadaMu dan selalu mengharapkan kehadiranMu, amin.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening