Jumat XXIII, 10 September 2010

1Kor 9: 16-27 +  Mzm 84 +  Luk 6: 39-42

 

Yesus berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarNya: "mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?". Aneh memang, sesuatu yang kecil dan jauh dari dirinya hendak dilihatnya, tetapi sesuatu yang besar di depan kelopak matanya tidak mau dilihatnya. Perumpamaan ini tentunya sebuah kritikan, sepertinya disampaikan kepada orang-orang yang dengan enaknya melihat dan berkomentar terhadap kesalahan kecil sesamanya tetapi tidak mau tahu dan acuh tak acuh dengan kekurangan diri sendiri.

"Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu", tegas Yesus.

Bukannya kita tidak boleh mengkritisi orang lain, kita pun harus berani menasehati sesame, tetapi hendaknya kita tidak mencari-cari dan mengumbar kesalahan orang lain. Yesus dalam InjilNya hari ini tidak mengajak kita untuk berkata-kata tentang kesalahan dan kekurangan orang lain, Dia hanya mengingatkan kalau tokh kita melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, hendaknya kita tidak mudah dan lancar memberi komentar, malahan menjadi sebuah refleksi bagi kita untuk melihat diri kita sendiri yang mudah jatuh dalam dosa dan salah yang sama. Pengetahuan kita akan kelemahan dan keterbatasan orang lain seharusnya membuat kita untuk tidak berbuat dan melakukan tindakan yang sama seperti itu, pengetahuan itu pun hendaknya tidak kita pakai untuk menjatuhkan dia; malahan keberadaan saudara kita itu menjadi cermin hidup bagi kita untuk berani mawas diri dalam bersikap dan bertindak.

Keberanian kita untuk mawas diri akan membuat kita tidak jatuh dalam kesalahan dan dosa yang sama, keberanian itu akan menyucikan diri dan membuat kita semakin dewasa dalam hidup. 'Kesucian' inilah, kalau boleh kita sebut demikian, yang kiranya menjadi bekal bagi kita untuk menuntun orang lain menuju masa depan yang lebih baik; 'kesucian' inilah yang dapat menepis sindiran Yesus tadi: "dapatkah orang buta menuntun orang buta? bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?".

Kehidupan orang-orang munafik memang bersifat mandeg, mereka berkutat pada diri sendiri, tiada usaha untuk hidup lebih baik, malahan justru mereka mencari pembenaran-pembenaran diri dan menghias diri bagaikan makam dengan aneka asersoris, mereka menaruh beban-beban berat pada bahu orang lain, tetapi mereka tidak mau menyentuhnya sedikitpun dengan jarinya, malahan yang lebih parah lagi mereka menghalang-halangi orang untuk menjadi baik, 'menutup pintu orang yang mau masuk kerajaan surga' (Mat 23: 13). Celaka sungguh memang hidup mereka orang-orang munafik. Lebih baik tidak menjadi orang-orang munafik!

Sadar akan kelemahan diri, dan bila tidak ada pengendalian diri akan jatuh binasa, Paulus dalam bacaan pertama tadi mengajak kita untuk berani berjuang dan berjuang mendekati Dia, bukan melakukan tindakan pilon seperti orang-orang munafik; perjuangan itulah yang kiranya menjadi perhitungan Tuhan Yesus, dan bukannya berdasar pada segala kemampuan, dan bahkan keterbatasan, yang kita miliki, sebab Ia Mahabaik dan selalu memperhatikan pertobatan, datang dan usaha mendekatkan diri kepadaNya. Paulus mengingatkan: "tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul, tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya jangan aku sendiri ditolak".

Kita ikuti ajakan santo Paulus Rasul itu.

Ya Yesus Kristus, dalam hidup bersama kami mudah jatuh dalam mencari pembenaran diri, kami takut kalau kesalahan kami diketahui oleh orang lain. Ajarilah kami ya Yesus, agar kami selalu siap memandang sesame kami baik adanya, dan bahkan lebih baik dari kami.

Sekaligus, ajarilah kami untuk selalu berlomba-lomba dalam mengejar kebaikan, dan terlebih mengejar Engkau sendiri. Yesus, bantulah dalam gelanggang pertandingan ini, amin.

Yesus Kristus, semoga Engkau juga semakin melimpahkan rahmat dan kasihMu kepada saudara-saudari kami yang baru saja menyelesaikan puasanya selama 30 hari. Semoga usaha pengudusan diri mereka Engkau tanggapi dan menurunkan ganjaran rahmat yang menyejukkan hati. Semoga kedamaian dan sukacita mereka, sebagaimana fitrah kami semua di hadapanMu, semakin mewarnai kehidupan negara dan bangsa kami. Amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening