Jumat XXIV, 17 September 2010

Pesta Santo Albertus dari Yerusalem

Ef  6: 10-18 +  Mzm 119  +  Mat 20: 25-28

 

Yesus memanggil para muridNya dan berkata: "kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka, tetapi tidaklah demikian di antara kamu". Pernyataan Yesus ini mengingatkan banyak orang bahwa selama ini, minimal pada jaman itu, para anggota pemerintahan sudah terbiasa memimpin bangsa dan negara dengan main kuasa dan kekerasan; sebagai pembesar yang berkuasa, mereka bertindak sebagai penguasa dan berhak melakukan segala sesuatu dengan bebas, mereka bertindak dengan tangan besi dan menjalankan kuasanya dengan keras.

Bagaimana sekarang ini?

Tidak boleh disangkal, kita sebagai rakyat mengetahui dan merasakan, karena memang mengalami, tetapi tidaklah demikian dengan kaum yang duduk dalam kursi pemerintahan, mereka tidak mau mengakui dan bahkan menyangkal walau mereka mengalami, bahwasannya banyak dari mereka yang duduk di jajaran pemerintah bertindak dengan tangan besi dan menjalankan kuasanya dengan keras dalam wujud upeti dan uang. Dengan seenak dan kehendaknya sendiri mereka meminta pada masyarakat menyelesaikan segala sesuatu dengan uang; segala sesuatu dapat diselesaikan dengan cepat dan terkendali bila disisipkan uang di dalamnya; ada banyak istilah: uang administrasi, uang pelicin, uang lelah, sekedar ucapan terima kasih, bahkan seseorang petugas kantor dengan halus dan lembutnya pernah mengatakan kepada seorang ibu sewaktu mengambil uang pensiun: ibu, ini uang pensiunnya ya, saya tidak mengambilnya, uang ini utuh sesuai dengan yang tertulis, tidak baik saya bila memotongnya, ibu terima ya, tetapi kalau ibu mau memberi saya, saya ucapkan terima kasih sebelumnya. Amat halus memang, bebas dari jerat hokum, tidak ada permintaan, apalagi paksaan; sebagai seorang ibu yang sudah berusia akan terundang untuk berbelaskasih kepada seseorang yang mengungkapkan kejujuran.

"Tidaklah demikian di antara kamu! Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" tegas Yesus. PenyataanNya sungguh-sungguh jelas, bila seseorang ingin menjadi besar dan terkemuka, harus berani melayani, dia harus merangkak dari bawah, harus berani berusaha dan berjuang; dia akan tersohor dan mempunyai nama yang harum karena memang dia suka melayani, mengabdi dan suka gaul dengan sesamanya, dia suka mendengarkan pendapat orang lain dan tidak suka main perintah; ia ada untuk orang lain, dan bukan sebaliknya orang lain ada untuk dia.

Hendaknya kita siap melayani sesame, "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang". Inilah Spiritualitas Pelayanan, bukan untuk mendapatkan sesuatu, malahan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, bahkan bila diminta nyawa harus dipersembahkannya.

Berani melayani sesame adalah ungkapan cinta kasih seseorang!

'Ungkapan cintah kasih' adalah sebuah pernyataan yang harus dimengerti dengan baik. Saya ingin melayani sebagaimana dikehendaki hokum cinta kasih, tetapi bila saya mengabaikan yang lain, terlebih kekuatan dan swadaya diri, maka akan memunculkan kesia-siaan diri dan merupakan tindakan yang bodoh. Sadar akan keterbatasan dan kelemahan diri, maka akan lebih baik bila saya mempersenjatai diri, istilah santo Paulus dalam bacaan pertama tadi; karena sebuah pelayanan sejati bukannnya kita pergi ke sebuah pesta untuk berhura-hura, melainkan 'bagaikan domba pergi ke tengah-tengah serigala'. Kita harus mempersenjatai diri bukan dengan tangan besi dan kekerasan, melainkan dengan perlengkapan senjata Allah sendiri.

Kata santo Paulus: "kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan".

Persenjatan ilahi inilah yang diharapkan dikenakan oleh para karmelit dalam melayani umat Allah yang hidup di tengah-tengah dunia. Santo Albertus dari Yerusalem, yang kita rayakan hari ini pestanya, menuliskan semuanya ini dalam sebuah Regula para saudara yang tinggal dan berasal dari Gunung Karmel, yang berlindung pada keibuan Perawan Maria. Albertus memang bukanlah seorang karmelit, tetapi sebagai seorang Uskup yang bertanggungjawab atas umat yang dipercayakan kepadanya, ia menuliskan cara hidup yang dihayati para karmelit awal yang tinggal di gunung Karmel dan berdasarkan sabda dan kehendak Tuhan Yesus sendiri. Santo Albertus mengharapkan agar para karmelit sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang menggunakan persenjataan Allah dalam melayani sesamanya.

Tentunya bukan hanya para karmelit, setiap orang harus berani mengenakan persenjataan ilahi ini untuk tinggal dan menikmati hidup di dunia yang penuh gejolak kehidupan, bergaul dengan sesamanya, membangun dunia, dan siap selalu 'melawan singa yang mengaum-ngaum mencari mangsanya'.

Ya Yesus, berkatilah dan kuasailah dengan sabda dan kehendakMu semua orang yang berharap kepadaMu, khususnya para saudara dan saudari Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, agar mereka siap sedia mengabdi sesamanya dan bekerja segiat-giatnya demi Engkau sendiri. Yesus semoga spiritualitas pelayananMu menjadi semangat hidup bagi semua orang yang berkenan kepadaMu.

Ya Santo Albertus, doakanlah kami.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening