Jumat XXV, 24 September 2010

Pengk 3: 1-11 +  Mzm 144  +  Luk 9: 18-22

 

"Kata orang banyak, siapakah Aku ini?", tanya Yesus kepada para muridNya. Jawaban banyak orang pada saat itu sama persis yang diperdengarkan kepada Herodes ketika dia menanyakan siapa itu Yesus. Ada yang menyebut Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, ada pula yang mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.

Sepertinya Yesus selama ini belum pernah menyatakan siapakah diriNya, sepertinya Yesus pun belum pernah mengatakan siapakah namaNya, Dia tidak pernah berkata: Akulah Yesus, Allah yang menyelamatkan, atau malahan menyatakan siapakah DiriNya yang sebenarnya dan apa tugas perutusanNya. Orang-orang sekampungNya saja tidak tahu dengan baik, mereka hanya mengenal Dia itu sepertinya anak tukang kayu, 'bukankah Ia ini anak Yusuf?' (Luk  4 :22).

"Menurut kamu, siapakah Aku ini?", tanya Yesus kepada mereka.

"Mesias dari Allah", jawab Petrus mewakili teman-temannya. Petrus berkata demikian karena dia telah berkumpul setiap hari dengan Yesus, ia mengamati dan mengamati apa yang dikatakan dan diperbuat Yesus, dan sekarang ia memberi sebuah kesimpulan.

Dan "Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun". Yesus tidak ingin orang-orang mengenal diriNya hanya karena 'kata orang', mereka diminta mengenal DiriNya dengan melihat dan mengalamiNya, Yesus meminta orang mengenal diriNya apa AdaNya, mereka harus mengamati dan mengamati sebagaimana pengalaman Petrus dalam mengenal Dia. Pengenalan sejati akan Yesus terjadi, bila orang merasakan dan melihat sendiri, memandang dan mendengarkan Dia, bergaul dengan Dia dan bercakap-cakap denganNya; dari dalam hati, orang itu akan berkata-kata siapakah Dia bagi diri dan hidupnya.

Yesus menambahkan: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga". Yesus menyampaikan pola hidupNya, Ia akan mengalami penolakan dan perlawanan dari orang-orang penatua Yahudi, orang-orang yang pegang peranan dalam hidup sosial dan religius di tengah-tengah masyarakat, bahkan oleh orang-orang yang tahu banyak tentang Kitab Suci, yakni para ahli Taurat; bahkan Dia harus mengalami kematian, yang di luar kebiasaan pada umumnya, Ia akan dibunuh, sebuah peristiwa yang tidak mengenakan untuk didengar, ya Ia harus dibunuh.

Namun Ia akan bangkit pada hari ketiga! Inilah yang kiranya  semakin membingungkan orang-orang pada jaman itu; bagaimana semua itu bisa terjadi? Bagaimana Dia bisa memastikan bahwa pada hari ketiga Dia akan bangkit, kekuatan dari mana yang Dia peroleh? Bukankah kebangkitan itu terjadi di akhir jaman, dan semuanya itu adalah kehendak Tuhan Allah Bapa di surge? Yesus secara sengaja tampaknya membuka wacana baru tentang Mesias; Ia memurnikan juga pengenalan Petrus tentang Dia sebagai Mesias; tak dapat disangkal gambaran Mesias pada waktu itu benar-benar diharapkan datang sebagai seorang pahlawan nasional yang membela bangsa dari kuasa asing; pada saat itu kaum Yahudi adalah jajahan bangsa Romawi

Kita semua bukanlah para murid Kristus yang hidup dalam penjajahan bangsa Romawi, kita adalah orang-orang pengikut Kristus yang sudah menikmati rahmat kebangkitan melalui sakramen baptis yang kita terima daripadaNya. Kita adalah orang-orang yang menerima pelbagai anugerahNya, dengan demikian pengenalan kita akan Kristus seharusnya semakin sempurna dibandingkan dengan pengenalan para murid pada jaman itu, karena kita memang menerima lebih banyak dan melimpah daripadaNya, terlebih lagi kita adalah orang-orang pasca-kebangkitan, kita adalah orang-orang buah-buah kematian dan kebangkitan Kristus, sang Mesias!

Tapi tak dapat disangkal, pikiran dan kemauan kita ini amat terikat oleh ruang dan waktu, kita amat payah diajak untuk melihat hari esok, kita ingin mendapatkan kepuasan di sini dan hari ini; diperparah lagi bahwa kita pun termasuk bangsa pelupa yang dengan mudahnya menghilangkan sejarah pengalaman hidup, kita lupa "ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai".

Kita adalah bangsa pelupa! Atau memang sengaja melupakan?

Itu kebodohan! Itu kesia-siaan!

Padahal "Ia Tuhan yang Mahakuasa itu membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka, tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir". Kita manusia beriman tetapi malas untuk berkontemplasi akan kehadiranNya.

Ya Tuhan Yesus, semoga pengenalan kami kepadaMu semakin hari semakin sempurna, karena memang Engkau selalu menggenapi kami dengan aneka karuniaMu. Semoga peristiwa demi peristiwa kehidupan ini semakin membantu kami untuk melihat dan memandang kehadiranMu yang sungguh agung di tengah-tengah kami.

Yesus, jadikanlah kami orang-orang kontemplatif,

Amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening