Jumat XXVI, 1 Oktober 2010

Pesta Santa Teresia Lisieux

Yes 66: 10-14  +  Mzm 131  +  Mat 18: 1-5

 

"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"

Itulah pertanyaan para murid. Aneh memang bagi kita yang mendengarkannya sekarang ini. Belum sampailah kita memikirkan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, paling sedikit siapalah yang masuk dalam Kerajaan Surga. Boleh masuk di rumahNya yang kudus dan bahkan tinggal bersamaNya sudahlah menjadi anugerah yang luar biasa dan menyenangkan, dan itulah yang kita damba-dambakan. Para murid GR dengan menjadi pengikutNya,  sepertinya sudah merasa dan yakin kelak masuk Kerajaan Surga, bukankah mereka juga orang-orang yang sama dengan kita?

"Aku berkata kepadamu", jawab Yesus kepada mereka semua, "sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga".

Jawaban Yesus sungguh tegas; pertama, orang dapat masuk surge, langkah pertama memang, kalau dia sungguh-sungguh mau bertobat dan bertobat, sebab bertobat berarti selalu mengarahkan diri hanya kepadaNya, dia taat dan merunduk ke bawah pimpinanNya, mentaati apa yang dikehendaki dan dikatakanNya; ketaatan dan kepatuhan seperti anak kecil itulah yang menjadi syarat bagi setiap orang untuk boleh masuk dalam KerajaanNya. Ketaatan seorang anak kecil kepada orangtua dan kemauannya itulah menjadi pola dan patrun bagi setiap orang yang mau tinggal di rumahNya yang kudus.

Kedua, dan mereka yang merendahkan diri seperti anak kecil, dialah yang akan menjadi terbesar dalam Kerajaan Surga. Kesadaran diri seperti anak kecil adalah kesadaran akan diri pribadi yang tidak berdaya dan lemah, dia dapat bergerak dan hidup hanya karena bantuan orang lain, ketidak-berdayaannya inilah yang membuat dia hanya bersandar pada kasih Tuhan Allah dalam setiap karyanya; dan janganlah juga dimengerti bahwa dia tidak mau berbuat sesuatu apapun atau reaktif saja, dia orang yang aktif, dia mempunyai hati kepada orang lain yang diungkapkannya dengan ringan tangan-nya dalam membantu sesame, 'aku hanyalah bisa membantu dan membantu saja, apalah aku' katanya setiap kali merunduk kepada sesamanya. Merendahkan diri seperti anak kecil inilah yang menjadi prasyarat bagi seseorang yang ingin menjadi terbesar dalam Kerajaan Surga.

Dan indahnya lagi, orang yang mau bergaul dan menerima mereka orang-orang yang dengan jujur dan polos membantu sesamanya, yakni orang-orang yang bersikap seperti anak kecil pun mendapatkan berkah dari Tuhan sendiri. Yesus menegaskan tadi: "barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku". Yesus memberi perhatian dan berkat bagi orang-orang yang mau menerima dan bergaul dengan orang-orang yang bersikap seperti anak kecil, karena memang dalam kenyataan sosial pergaulan dengan mereka itu tidak membawa keuntungan, dan tak jarang malahan menjadi beban, karena kita pun dituntut untuk bersikap seperti mereka.

Dalam hal ini, kita tentunya harus berani belajar kepada santa Teresia Lisieux, seorang muda yang berani mengandalkan kekuatan dan bantuan dari Tuhan Yesus. 'Aku menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam tangan Yesus', itulah ungkapan penyerahan dirinya kepada sang Kekasih jiwanya. Teresia bertindak seperti itu karena dia mengenal siapakah dirinya, dan hanya dalam kasih Allah dia akan dapat berbuat sesuatu dengan baik.

'Inilah permohonanku: agar Yesus menarik aku ke dalam nyala cintaNya, mempersatukan aku dalam dengan diriNya, sehingga hanya Dialah yang hidup dan bekerja dalam diriku', kata Teresia dari Kanak-kanak Yesus ini. Hanya dalam diri Yesus dan bersandar padaNya, Teresia merasa hidup dan berdaya.

Memang mengikuti Yesus itu beroleh banyak berkat, Dia tidak hanya menghendaki semua orang beroleh selamat, juga hidup sekarang ini sudah dibuatNya bahagia adanya. Teresia telah merasakan dan menikmatinya, karena dia percaya akan apa yang disabdakan Yesus sendiri kepadanya. Janji yang memberikan kenikmatan itu juga kita dengar dalam bacaan pertama hari ini. Beginilah firman TUHAN: "sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem. Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat; maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya".

Bagaimana dengan kita?

Bila kita menghendaki tinggal dalam KerajaanNya yang kudus, baiklah kita ikuti teladan Teresia Kecil yang memang terus-menerus berusaha seperti anak kecil dalam mengikuti kehendak Yesus sendiri. 'Yesus sudah puas dengan kemauan baikku'. Ucapan Teresia ini bergema terus dalam hidupnya, dan kemauan baiknya terus dikembangkan dan diungkapkannya dalam kata dan tindakan, sikap dan pikiran hidupnya.

Ya Yesus, bantulah kami untuk mempunyai sikap tobat dan patuh sebagaimana Engkau kehendaki. Kami merindukan tinggal dalam KerajaanMu, tetapi tak jarang kami malas berusaha dan malahan menyombongkan diri dengan segala kemampuan yang kami miliki, padahal apalah kemampuan kami ini bila dibandingkan dengan kasihMu.

Yesus Kristus, bantulah kami selalu,

Yesus limpahkanlah damai dan keadilan bagi bangsa dan negara kami, dan agar Pancasila yang kami hayati sebagai jiwa bangsa kami sungguh-sungguh nyata dan nampak dalam kehidupan sehari-hari. Semoga seluruh bangsa Indonesia semakin menjadi orang-orang Pancasilais. Amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening