Kamis XXI, 2 September 2010

1Kor 3: 18-23  +  Mzm 24  +  Luk 5: 1-11

 

"Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu". Itulah memang perutusanNya: mewartakan Injil Kerajaan Allah, dan bukan yang lain.

Setelah mengajar di mana orang-orang dengan penuh perhatian mendengarkan, Ia berkata kepada Simon: "bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan".

"Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa", sahut Simon. Dia berkata begitu, karena memang karakternya yang spontan-emosional, tetapi juga karena memang dia lebih tahu keadaan dan situasi pekerjaan mereka, mereka adalah nelayan-nelayan unggul dan berpengalaman. "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" tegas Simon; sebuah ketaatan seorang murid pada Gurunya.

Tak dapat disangkal memang bila ada yang mengatakan bahwa tindakan Simon itu adalah kebodohan, karena dia memang lebih pandai dari Yesus dalam pekerjaannya. Simon adalah seorang nelayan dan Yesus adalah seorang anak tukang kayu. Namun iman Simon tampaknya semakin tumbuh hari demi hari; Simon memang pandai dalam menangkap ikan, lagipula ia 'telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa', tetapi sepertinya Dia lebih pandai dalam hidup ini. Simon merunduk sebagaimana direnungkan Paulus dalam bacaan pertama tadi: "jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat; karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah".

Ketaatan mendatangkan keselamatan! Ketaatan menurunkan berkat!  Sebab, "setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak". Berkat kepercayaannya, Simon mendapatkan banyak rejeki; setelah mereka mendengarkan sabdaNya, mereka beroleh berkat dan kasihNya; inilah yang kiranya dimaksudkan dengan mencari KerajaanNya terlebih dahulu maka yang lain akan ditambahkan kepada kita.

Apakah semuanya ini boleh kita sebut sebagai keegoisan Tuhan?

Boleh aja, tinggal menyebutNya! Ingat, semuanya itu dilakukan bukan untuk kepuasan diriNya melainkan untuk mereka yang mentaatiNya sebagaimana telah dinikmati oleh hamba yang menerima lima talenta dari 'tuan yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menanam', seperti kita renungkan di hari Sabtu akhir bulan kemarin.

Simon Petrus adalah seorang nelayan yang pandai dan mengenal tempat di mana dia berkerja, namun dia mengakui ternyata Orang yang dihadapainya, sang Guru lebih pandai daripadanya, ia percaya dan mengakuitNya, ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa". Kasih dan anuegrah Allah memang seharusnya semakin membuat orng merunduk di hadapanNya, karena memang Dia itu lebih utama dan Dia memang membuat segala sesuatu baik adanya.

"Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia", kata Yesus kepada mereka semua. "Sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus". Mereka memang tidak tahu apa maksudnya tugas 'menjala manusia', namun kepercayaan akan sabda dan kehendakNya membuat mereka berani meninggalkan segala dan mengikuti Dia. Inilah iman!

Yesus, buatlah kami semakin percaya kepadaMu, sebab tak jarang akal budi kami lebih sering mengatakan  bahwa kami ini orang yang pandai, sudah pernah 'makan sekolah'. Yesus ajarilah kami dengan kasihMu agar kami semakin berani mendengarkan suaraMu yang Engkau bisikan kepada sesame kami untuk mengatakan 'tebarkanlah jalamu di tempat yang lebih dalam'.

Yesus Kristus, semoga segala kebaikan yang Engkau taburkan dalam hidup kami semakin membuat kami merunduk dan bertekuklutut di hadapanMu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening