Kamis XXIII, 9 September 2010

1Kor 8: 1-13 +  Mzm 139  +  Luk 6: 27-38

 

"Aku berkata: kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu", tegas Yesus kepada para muridNya. Tidak jelas alasannya, mengapa Yesus tiba-tiba berbicara seperti ini. Ia langsung meminta semua orang untuk berbuat baik kepada semua orang, tanpa terkecuali; tidak ada label lagi 'musuh' yang dikenakan pada diri seseorang, kita harus juga berani berbagi kasih kepada mereka.

Konkritnya dengan:

'meminta berkat bagi orang yang mengutuk kamu

'berdoalah bagi orang yang mencaci kamu;

'bila ada yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain

'barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu;

'berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu;

'dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Seorang musuh memang harus kita lawan dan kita binasakan! Ini wajar. Permintaan Yesus ini sebenarnya bukan soal sampai pada musuh, mereka yang sudah berseberangan dan melawan kita pun harus kita perhatikan dan kita beri pelayanan; kita harus berani memberkati dan mendoakan mereka yang melawan kita; kita harus memberi lebih kepada seseorang yang meminta sesuatu dari kita.

Sebab "jikalau kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian!"

Yesus membandingkan semuanya tadi dengan kebiasaan orang-orang berdosa. Kalau orang berdosa, orang yang melawan Allah masih mampu berbuat baik, maka tentunya orang yang sependapat dengan Allah, orang yang mengandalkan kekuatan dari Allah, harus mampu berbuat lebih baik lagi, lebih banyak dan lebih berkualitas perbuatan baik daripada mereka orang-orang berdosa itu.

Bagaimana caranya?  Yesus menegaskan:

'kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka

'pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan

'janganlah kamu menghakimi atau menghukum, malahan ampunilah

'dan berilah dan kamu akan diberi

Kasih itu memberi, menghargai, menghormati dan melayani; dengan kasih, seseorang keluar dari dirinya dan selalu memperhatikan sesamanya.

Apakah kita bisa melakukan itu?

Berat memang untuk mengatakan bisa atau tidak bisa! Kita latih dan kita usahakan, sebab Tuhan Yesus tidak memasang target pada diri setiap orang: ada yang mampu masuk di pagi hari, ada yang siang, bahkan ada yang baru masuk sore hari. Sebab bila kita melihat dan yakin bahwa Tuhan memasang target, siapakah yang dapat tahan dekat nyala api abadi. Tuhan Bapa di surge bukanlah seorang pedagang yang memasang harga pada setiap hal yang dimilikiNya, Dia malahan mau memberikannya kepada setiap orang yang berharap dan datang kepadaNya.

Namun kiranya, yang hendaknya menjadikan motivasi dan kekuatan kita untuk berusaha melakukan semuanya itu adalah 'berpikir dan bertindak seperti Allah sendiri'. Yesus menganjurkan hidup kasih tadi, tujuannya hanya satu yakni: "hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati, sehingga kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat".

Inilah kontemplasi! Berpikir dan bertindak seperti Allah!

Santo Paulus dalam bacaan pertama sedikit memberi contoh bagaimana mengarahkan diri untuk bertindak seperti Allah bertindak. Katanya: "makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah; kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan", tetapi janganlah kita sembarangan makan, karena tidaklah demikian dengan banyak orang, yang tidak sama seperti kita. Sebanding dengan kebebasan kita untuk menikmati aneka makanan, hendaknya "kebebasanmu untuk bertindak ini dan itu janganlah menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah, yaitu saudara-saudarimu, yang untuk mereka Kristus telah mati, menjadi binasa karena kebebasan dan pengetahuanmu. Jika engkau melakukannya, engkau berdosa terhadap saudara-saudarimu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus!".

Sikap mau menahan diri dan tidak mencelakakan orang lain adalah sikap seperti Tuhan Bapa di surge yang menghendaki semua umatNya selamat!

Ya Yesus Kristus, terangilah hati kami dengan Roh kudusMu dan latihlah kami dalam bertindak yang benar dan penuh kasih, agar kami semakin merasakan predikat diri sebagai putera-puteri Bapa di surge yang menerbitkan matahari untu semua orang tanpa terkecuali.

Yesus, buatlah kami siap berbagi kasih dengan semua orang, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening