Kamis XXIV, 16 September 2010

1Kor 15: 1-11 +  Mzm 118  +  Luk 7: 36-50

 

Suatu hari ada seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Saat itu datanglah seorang perempuan yang punya nama jelek di kota itu, dan "sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu". Suatu kejadian yang sungguh-sungguh mengejutkan: seorang perempuan dengan mesranya mencuci kaki Yesus dengan minyak dan menyeka dengan rambutnya; dan tanpa banyak komentar Yesus berdiam diri membiarkan perempuan itu melakukan semuanya itu.  

Keterlaluan!

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa". Benar memang yang dikatakan orang Farisi itu; entah orang baik atau jahat, tua atau muda,  bahkan kalau pun tokh itu seorang suster (maaf) ataupun saudarinya sendiri mencuci kaki seseorang laki-laki, kita pun pasti risau kalau hal itu terjadi sekarang ini. Yesus sengaja mendiamkan diri dan membiarkan perempuan itu bertindak demikian.

Sekali lagi, keterlaluan!

Yesus tahu apa yang dipikirkan dalam hati orang Farisi ini, umpanNya: "ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu; siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"

"Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya", jawab orang Farisi itu. "Betul pendapatmu itu", jawab Yesus, dan itulah yang sekarang dilakukan perempuan ini, lihat "ketika Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi". Perempuan ini membagikan pengalaman kasihNya, sebab ia telah menerima, ia mendapatkan dan ia mempunyai, maka kini ia membagikannya, nemo dat quod non habet!

Karena itu, "Aku berkata kepadamu: dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih".

Perkiraan kita adalah perempuan itu berbuat demikian, berbuat dan berbagi kasih karena ia telah merasakan dan mendapatkan rahmat pengampunan; pengampunan Tuhan mendahului perbuatan kasih perempuan itu, sehingga 'orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih', impas;  namun di lain pihak Yesus juga menegaskan orang yang banyak berbagi kasih karena ia telah mendapatkan pengampunan, sehingga 'dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih'.

Tak dapat disangkal dua penyataan yang sepertinya bertentangan satu dengan lainnya itu ternyata saling melengkapi, kasih dan pengampunan bagaikan dua keping uang logam yang tidak dipisahkan satu sama lainnya, yang satu mengandaikan lainnya, yang satu ada selalu bersama lainnya; demikianlah kasih dan pengampunan. Tak dapat disangkal bahwa Yesus berkata kepada perempuan itu: "dosamu telah diampuni", setelah dia berbuat kasih kepadaNya, namun juga kita harus berani mengakui bahwa perempuan itu pun telah merasakan pengampunan terlebih dahulu, dia yakin lebih awal bahwa Dia akan mengampuni bila dia berbuat kasih, dia telah mendapatkan merasakan pengampunan dalam iman kepercayaannya. Rahmat pengampunan secara iman atau telah terasa dalam hati itu mendahului tindakan kasihnya, dan secara konkrit atau yang terucapkan itu, tindakan kasih mendahului rahmat pengampunan. Pengampunan  dan kasih saling mengandaikan satu sama lainnya.

Perempuan berbuat semuanya itu karena memang ia mempunyai iman!  "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!", tegas Yesus kepada perempuan beriman itu.

Kepercayaan itu memang menihilkan segala sesuatu, bukannya seseorang bertindak tanpa perhitungan, semuanya sudah dikalkulasi, dan kesimpulan sementara akan selalu mengatakan: 'aku tidak mampu melakukannya, ada banyak keterbatasan ada banyak kelemahan', tetapi kerinduan hati untuk mendapatkannya tak dapat dibendung, aku ingin selamat. Kiranya kepercayaan seperti itu juga menjadi kekuatan bagi perempuan dalam Injil tadi untuk berani mendekati Yesus, saya memberanikan diri merenungkannya begitu,  dia mengabaikan ke-tidak-layak-an, ke-tidak-mungkin-an dan ke-tidak-bisa-dimengerti-an diri sendiri ataupun orang lain; walaupun dia seorang yang mapan dan waras, semua yang dibawanya membuktikan siapakah dia, dia tidak mau tahu dengan omongan banyak orang dan tanpa malu-malu dia maju terus, 'saya ingin berjumpa dengan Dia'.

Bagaimana dengan kita?

Kita adalah orang-orang yang selalu dicari dan dicari oleh Tuhan, dan bahkan kita telah diselamatkanNya, ada baiknya kita juga memberanikan diri untuk semakin dekat padaNya, mendengarkan suaraNya, sebab dalam Dia ada kehidupan. Paulus dalam bacaan pertama mengajak kita juga untuk mendengarkan Dia, sebab sabdaNya menjadi pedoman dan kekuatan bagi setiap langkah hidup kita. "Sekarang, saudara-saudariku", kata Paulus, "aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya".

Kita memang harus banyak belajar dari kaum perempuan dalam mengenal Tuhan!

Yesus Kristus, perdalamlah pengenalan kami kepadaMu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening