Kamis XXV, 23 September 2010

Pengk 1: 2-11 +  Mzm 90  +  Luk 9: 7-9

 

"Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati; ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit". Ada perasaan cemas dan kuatir dalam diri Herodes akan kehadiran dan penampilan Yesus, apalagi dengan tidak ada kepastian siapakah Dia itu. Dia pasti orang hebat dan luar biasa! Apakah Yohanes Pembaptis, atau Elia yang terangkat ke surge dalam kemuliaan? Yang jelas Dia adalah seorang dari antara para Nabi yang bangkit dan hadir di tengah-tengah umatNya.

"Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?", tanya-tanya Herodes pada dirinya sendiri. Dia bersikap dan bertindak demikian, karena sepertinya perasaan bersalah menghantui dirinya: ia telah membunuh Yohanes. Menghabisi nyawa seseorang adalah pelanggaran terhadap kehendak Tuhan yang menghendaki kehidupan, tak ada seorangpun atau lembaga apapun yang berhak menghabisi nyawa seseorang. Euthanasia pun memerlukan pertimbangan moral yang amat kuat, tidak semudah membalik tangan. Hidup adalah hak azasi setiap orang!

"Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus". Ia ingin bertemu Yesus bukan karena kerinduan, melainkan karena kecemasan dan kegelisahan diri setelah melakukan kejahatan, ia merasa terusik dengan kehadiran Yesus, 'yang kabarnya melakukan hal-hal demikian'. Jangan-jangan ia akan mengganggu kekuasaan dan kemampanan hidup ini, bukankah selama-lama ini para nabi selalu berhadapan dengan para raja, dan mereka mengganggu gerak langkah, kebijakan dan kenyamanan hidup para raja, dan kehadiran mereka itu, para nabi, menjadi duri dalam kehidupan sehari-hari? Tak dapat disangkal keinginan bertemu Yesus adalah untuk membinasakanNya

Adakah di antara kita yang merasa gelisah dengan kehadiran Yesus?

Keterlaluan bila ada!

"Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka", mengutip bacaan pertama tadi. Sebab Dia memang bukan saja menciptakan segala sesuatu Dia juga memperbaharuinya dalam karya penebusan; Dialah Yesus Kristus, sang Penyelamat yang hadir dan memperbaharui dunia dengan segala isinya. Serpaan angin dan aliran air serta teriknya matahari adalah kebiasaan dunia menyapa umat Allah; dia menyapa karena memang mereka membutuhkan sentuhan kasih dari umatNya, bukankah semua telah dikuasakan kepada manusia, agar manusia merawat dan menjaganya sebagai tempat dan sumber kehidupan?

Kemampuan menikmati alam semesta dengan segala keindahannya adalah sebuah ungkapan syukur kepadaNya sang Pencipta alam semesta.

Kesia-siaanlah semuanya itu, bila tidak bisa melihat tanda perhatian Tuhan yang berbelaskasih kepada umatNya. Semuanya hanya dilihat dan dilihat, "matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali; angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali; semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar".

Kejemuan memandang dan merasakan keindahan alam semesta bila terus-menerus diikuti akan menjadikannya sebuah penolakan akan segala bentuk kehidupan yang memang telah dijadikan baik adanya. Kegelisahan Herodes akan bangkit kembali dalam bentuk yang amat halus, keinginan untuk menjumpai Yesus yang bukan karena kerinduan, melainkan untuk merusak dan membinasakan, sebagaimana dikatakan dalam Injil tadi dan seperti yang terjadi pada saat kelahiranNya dengan mengatakan 'pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia' (Mat 2: 8), muncul dan merusak.

Ini adalah kebodohan.

Ini juga kesia-siaan!

Mari, sebagai orang-orang yang mengenal Kristus, walau belum sempurna pengenalan kita kepadaNya, kita semakin hari semakin berani memperdalam kerinduan kita untuk berjumpa denganNya, sebab kerinduan akan Dia sungguh-sungguh menyenangkan hati dan melegakan jiwa, kerinduan kita mengarahkan langkah kita ke masa depan yang lebih baik; hanya orang-orang yang dikuasai akan kerinduan kepadaNya akan berani dan siap sedia menerima kehadiranNya, yang tak jarang kehadiranNya itu membersikan dan memurnikan diri umatNya.

Oh…. Tuhan Yesus, hadirlah,….hadirlah di tengah-tengah kami, bila tidak, 'katakan saja sepatah kata' (Mat 8: 8), maka hambaMu akan mendengarkan dan merenungkanNya. Amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening