Minggu XXIV, 12 September 2010

Kel 32: 7-14 +  1Tim 1: 12-17  +  Luk 15: 1-10

 

Ada banyak tindakan Yesus yang sering menjadi ganjalan bagi banyak orang pada jaman itu; satu di antaranya adalah pergaulan Yesus dengan orang-orang yang dianggap kaum pendosa. Diceritakan tadi : "para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia, maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka".

Interupsi, jauh-jauh sebelum Paulus yang mengajak setiap orang untuk tidak menjadi batu sandungan bagi sesamanya, Yesus sudah terlebih dahulu selalu menjadi batu sandungan bagi banyak orang pada waktu itu!

Sulit dimengerti dan sebuah perlawanan terhadap budaya agamis, kalau ada seseorang yang baik bergaul dengan orang-orang najis, orang-orang berdosa, para penjahat; dan terlebih sekarang ini di depan mata mereka, orang-orang yang dituakan dan pengemuka bangsa serta orang-orang yang ahli dalam hokum Taurat: Yesus bergaul dan makan minum dengan orang-orang berdosa. Bukankah Dia seorang Guru, yang dengan penuh kuasa dan wibawa mengajar banyak orang? Bukankah Dia yang mempunyai kekuatan  untuk mengadakan mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan untuk mengusir setan? Bukankah Dia ini Orang hebat, Orang baik dan Orang Suci?

Kaum pendosa haruslah dihukum! Dalam Perjanjian Lama Allah, seperti dalam bacaan pertama tadi, bersabda kepada bangsa Israel yang mulai berpaling daripadaNya: "telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka".

Yesus itu memang batu sandungan! Ia bergaul akrab dengan orang-orang yang seharusnya dihukum!

Yesus menanggapi mereka semua dengan mengatakan beberapa perumpamaan, kataNya:

Pertama, "siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan".

Kedua, "atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan".

Yesus-lah sang Pemilik domba-domba dan Pemilik dirham!

Dengan perumpamaanNya itu, Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan sekarang ini adalah mencari domba yang yang tersesat atau dirham yang hilang. Ia mencari dan mencari; Ia tidak mau kehilangan apa yang dimilikiNya. Pergaulan dan sapaanNya terhadap orang-orang berdosa adalah untuk memanggil mereka, agar mereka kembali kepada pangkuan Bapa yang Maharahim. Ia tidak menanti datangnya orang yang berdosa, Ia malahan mencari dan mencarinya. Yesus Tuhan bagaikan 'seorang ayah yang ketika melihat anaknya kembali danu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, ia berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Ia sepertinya mengabaikan pengakuan anaknya: bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa, ia malahan berkata kepada hamba-hambanya: lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya,  ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita, sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali' (Mat 15: 20-24).

Kembalinya orang berdosa membuat sukacita surgawi. "Aku berkata kepadamu bahwa:  akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita orang-orang benar yang tidak memerlukan pertobatan".

Sungguh jelas dalam Injil hari ini bahwa: dalam realitas keselamatan, yang menjadi titik tolak dan sekaligus yang menjadi tolok ukur adalah Tuhan Allah sendiri!

Dengan pergaulanNya bersama orang-orang harus dihukum, Yesus mengkonkritkan tindakan "Tuhan Allah yang menyesal karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya", seperti dikatakan dalam bacaan pertama tadi, dan malahan lebih dari itu, Yesus bertindak bukan karena penyesalan, melainkan sungguh-sungguh sebuah tindakan awal, Dia yang memulai, Dia yang mengawali; bukan reaksi tetapi aksi.

Injil hari ini mengajak kita, pertama agar kita berani bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus. Hendaknya kita bersyukur kepadaNya, karena kita adalah orang-orang yang diselamatkan, orang yang telah dicari dan dicariNya. 'Bukan kamu yang milih Aku, tetapi Akulah yang telah memilih kamu!'. Yesus telah memilih kita masing-masing, mungkin melalui kedua orangtua atau saudara kita, melalui pendidikan atau pekerjaan kita atau karena kita melihat sendiri pancaran kasihNya yang sungguh nyata, Ia memilih kita agar kita selamat. Layaklah kita bersyukur dan bersyukur kepadaNya.

Paulus pun bersyukur atas keterpilihannya dengan mengatakan: "aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman, malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Sunggu benar: Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal".

Kedua, sebagaimana Yesus mencari mereka yang hilang, demikianpun hendaknya kita juga berani ikut serta dalam usaha pencarian itu, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Dia, yang telah mencari dan menyelamatkan kita. Kita kunjungi dan kita sapa mereka teman-teman kita, yang mulai menjauh dan jarang muncul dalam persekutuan kita, sebab memang tak jarang kesibukan kerja harian, yang benar-benar membuat capek dan lelah menghilangkan perhatian kita kepada Tuhan dan  menambah keengganan diri untuk bertemu dengan sesame; tak jarang memang mereka membutuhkan tangan-tangan kasih yang mengajak dan menuntun mereka untuk menikmati kembali fitrah-nya, sebagai umat yang menjadi milikNya. Tidak perlu takut dan gelisah dengan komentar orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menjadi warga negara Indonesia dan tinggal di antara kita, kita adalah orang-orang yang didapatkanNya, baiklah kita juga berusaha untuk mendapatkannya.

Yesus, Engkau Maharahim yang tidak memperhitungkan kelemahan dan dosa kami, sebaliknya kemauan diri untuk kembali dan datang kepadaMu  malahan membawa sukcita bagiMu. Yesus, tumbuhkan dan kembangkan semangat kami untuk kembali kepadaMu. Demikian juga, agar keberanian kami untuk mengajak dan mengajak orang datang kepadaMu semakin Engkau perteguh dan Engkau kuatkan.

Yesus, tambahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening