Rabu XXIII, 8 September 2010

Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Mi 5: 1-4 +  Mzm 13  +  Mat 1: 18-23

 

"Pada waktu Maria, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri". Kata dan peran Roh Kudus mendamaikan kenyataan hidup antara Maria dan Yusuf; bagaimana bisa ditolerir mereka yang belum terikat sebagai suami isteri, Maria sudah dalam keadaan mengandung, ini sulit dimengerti. Namun itulah kehendak Allah, sebab semuanya terjadi karena peran Roh Kudus Allah yang datang kepada Maria.

"Yusuf, anak Daud", tegas malaikat Tuhan kepada Yusuf yang memang hendak menolak kehadiran Maria yang memang ternyata sudah mengandung itu, Yusuf mengungkapkan otoritas kaum adam yang dimiliknya, "janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Maria, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan diberi nama Dia Imanuel, Allah menyertai kita".

Jawaban itu sungguh-sungguh menegaskan kepada Yusuf siapakah Maria tunangannya itu, dan siapa Anak yang ada dalam rahimnya itu. Mereka bukanlah orang-orang sembarangan, mereka adalah orang-orang terpanggil dan terpilih. Maria, seorang gadis yang tak banyak bersuara itu ternyata mengemban misi perutusan yang sangat mulia dan luar biasa. Yusuf, yang nantinya sebagai 'pemilik keluarga di mana sang Anak itu lahir', diminta dengan tegas agar pada saat kelahiranNya nanti dia diminta memberiNya nama Yesus, 'karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka'.

Tak dapat disangkal memang jawaban Maria 'aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu' adalah jawaban seorang pribadi yang percaya kepada kebaikan Tuhan; dan tak dapat disangkal juga jawaban itu menggenapi apa yang sudah dikehendaki Tuhan Allah semenjak awal mula, 'anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan diberi nama Dia Imanuel, Allah menyertai kita'. Jawaban Maria menggenapi kehendak Tuhan. Tak dapat disangkal bahwa jawaban Maria juga diamini oleh Yusuf keturunan Daud, yang memasukkan sang Anak dalam urutan dan pelukan keluarga orang-orang terpilih. Tak dapat disangkal bahwa Allah juga menyiapkan tempat di mana perempuan muda itu kelak nanti akan melahirkan sang Anak, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Mikha tadi: "hai engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel, dan Dia menjadi damai sejahtera".

Omnia parata!  Segalanya sudah tersedia!

Patutlah kita bergembira atas kehadiran dan peran Maria, terlebih atas teladan imannya kepada Tuhan yang Mahakuasa. Suaranya 'aku ini hamba Tuhan', memang amat menentukan sejarah manusia, tetapi tak dapat disangkal kehadiran Maria semenjak hari kelahirannya sudah menjadi fajar yang menerangi dunia. Dia datang, dia lahir di antara kita sebagaimana adanya. Hari ini Gereja mengenangkan kelahiran Maria yang membawa warna baru dalam perjalanan hidup manusia.

Sebagaimana jawaban Maria yang mengamini kabar sukacita yang dibawa seorang Malaikat itu memenuhi kehendak Tuhan yang hadir dalam sejarah manusia, kiranya kemauan baik kita untuk selalu berani menjadi pendengar dan pelaksana sabdaNya akan menggenapi kehendak Tuhan juga yang menginginkan kita semua menjadi bangsaNya yang kudus, umat milik Allah sendiri, dan tidak seorang pun binasa; tentu amat menarik kehendak dan kemauan Tuhan ini. Selama satu bulan September ini secara khusus kita diminta untuk berlatih dan berlatih menjadi penggemar dan pembaca Kitab Suci; keseringan dan kesetiaan kita membaca Kitab Suci akan mempermudah kita menjawab sapaan Tuhan Allah sebagaimana dicontohkan Maria kepada kita.

Ya Yesus, di hari ulangtahun santa Perawan Maria, kami sungguh-sungguh Engkau ingatkan untuk menjadi orang-orang yang berani mengamini kehendakMu. Maria yang tidak banyak tahu tentang Kitab Suci telah berani menjawab kehendak Bapa dengan menampilkan diri sebagai seorang hamba Tuhan yang siap mendengarkan kehendakNya. Buatlah kami, ya Yesus, menjadi orang-orang yang berani memenuhi kehendak Bapa dengan melaksanakan kehendak yang Engkau sampaikan kepada kami.

Ya Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu. Doakanlah kami ya Maria agar kami juga menjadi hamba-hamba pelaksana sabda Puteramu, Tuhan kita Yesus Kristus, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening