Rabu XXIV, 15 September 2010

Peringatan Maria berdukacita 

Ibr 5: 7-9 +  Mzm 33  +  Luk 7: 31-35

 

Berjumpa dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah hal biasa bagi Yesus, karena memang mereka selelu mengikutiNya bukan supaya percaya, melainkan karena mereka mengamat-amati dan mencari kesempatan untuk mempersalahkan dan menangkap Yesus. Ketegaran dan kemunafikan diri itulah yang menghinggapi mereka semua, dan secara tegas "mereka menolak maksud Allah terhadap diri mereka".

"Mereka itu", kata Yesus, "seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis". Jadi mereka itu bertindak atas dasar kemauan diri sendiri, id quod volo (aku mau seperti ini) amat kuat, keras kepala dan kepala batu, jugul kata orang-orang Parongil di Sumatera Utara.

Ketika "Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: ia kerasukan setan; dan saat Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa". Mereka berbicara semau mereka sendiri, mereka tidak mencari tahu siapakah Yesus dan siapakah Yohanes Pembaptis itu; mereka mengenal Yesus dan Yohanes Pembaptis bukan menurut kodrat dan keberadaan pribadi Yesus dan Yohanes Pembaptis, melainkan menurut gambaran dan pemikiran mereka sendiri, dan lebih parah lagi menurut gambaran mereka yang memang sengaja dibuat negative dan menjerumuskan: dia yang datang, tetapi tidak makan roti dan tidak minum anggur adalah seorang kerasukan setan; dan Dia Anak Manusia itu yang makan dan minum adalah seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Sebutan seturut kemauan mereka yang melihatNya terus bergema, apa boleh buat, bahkan sampai akhir hidupNya. Dia itu 'seorang penjahat, maka kami menyerahkan-Nya kepadamu!' (Yoh 18: 30), 'Dia harus dihukum mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah' (Yoh 19: 7), Dia ini adalah 'orang yang menyesatkan bangsa kami dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diriNya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja. Ia menghasut rakyat dengan ajaran-Nya di seluruh Yudea, Ia mulai di Galilea dan sudah sampai ke sini' (Luk 23: 2.5), Dia adalah seorang 'penyamun, maka kami datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkapNya', dan Dia 'akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan mendirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia' (Mrk 14:48.58). Dia ini si Anak tukang kayu dari Nazaret yang memang sering membikin onar dengan tidak mentaati hokum Sabat di mana-mana.

Yang sering terjadi sekarang ini demikian juga, kita mengenal dan menyebut seseorang seturut kemauan kita sendiri atau menurut 'kata orang', kita ingin mengenal seseorang  tetapi tidak menanyakan kepada dia siapakah dia sebenarnya, kita menyebut seseorang sesuai dengan kacamata diri kita sendiri. Gunawan itu katanya gundul tapi menawan, padahal tidaklah demikian yang kulihat, bersyukurlah dia seharusnya karena masih ada orang mau berkawan dengan dia; Gunawan si kurus itu, dia yang stress berat dan mengandung aneka banyak penyakit, yang akrab dengan teman-teman virus sehingga memberikan tubuhnya dinikmati oleh teman-temannya, o gunawan-gunawan yang tiada guna dan tidak berawan.

Mari mengenal sesame kita apa adanya. Kita mengenal seseorang sesuai dengan bleger-nya dan keunikan dia, itulah dia apa adanya.

Terlebih mari kita mengenal Dia apa AdaNya.

Sebab Dia Yesus Kristus adalah Tuhan, kata rasul Paulus, Dia "yang dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan; dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya".

Yesus, terangilah dan sucikan mata hati kami agar kami dapat melihat, memandang dan mengenal sesame kami dengan tepat dan benar, terlebih dalam mengenal Engkau yang penuh  kasih. Semoga Roh kebijaksanaanMu juga menyertai kami sehingga kami dapat memilah-milah pendengaran kami dalam hidup bersama.

Ya Maria, kedukaanMu dapat kami rasakan bila kami mengikuti perjalanan salib PuteraMu; engkau berduka karena engkau mengenal dengan baik Siapakah Puteramu itu, engkau mengenal dan menerima Dia apa AdaNya, bahkan ketika Dia menantang engkau ketikan menemukan Dia di Yerusalem 'mengapa engkau mencari Aku, bukankahAku harus di rumah BapaKu', engkau tidak bergeming tetap mengikutiNya, bahkan merenungkan kemauanNya dalam hatimu.

Maria, bantulah kami dalam memahami dan menerima Puteramu apa AdaNya, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening