Rabu XXV, 22 September 2010

Ams 30: 5-9 +  Mzm 119  +  Luk 9: 1-6

 

Yesus memanggil kedua belas muridNya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Yesus tidak hanya pandai menyuruh, tetapi juga memberikan bekal kepada mereka. Perbekalan yang mereka perlukan itulah yang harus dan perlu dibawa, karena itu kata Yesus: "jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju".

"Apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ, tetapi kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka", tambah Yesus. Yesus menyuruh mereka pergi, dan tidak meminta mereka bermain tangan besi ataupun mempermainkan perbekalan yang telah diberikanNya. Mereka harus pergi tanpa ikatan apa-apa.

Bagaimana dengan pewarta-pewarta sekarang ini? Apa yang mereka bawa, bila mereka mendapatkan tugas baru?

"Yesus mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang".

Jelas perutusan Yesus: memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Berbeda dengan tekanan yang diberikan oleh Matius dan Markus dalam Injil mereka masing-masing. Lukas sebagai seorang yang tahu banyak akan perihal kesehatan menempatan karya penyembuhan sama dengan karya pewartaan Kerajaan Allah. Injil sebagai tulisan seorang manusia, tak mungkin lepas dari gaya dan inspirasi pribadi yang diterimanya dari Sang Ilahi. Di sinilah bisa kita lihat peranan manusiawi dalam tulisan Injil, bukan sebuah kesalahan ataupun kelemahan, tetapi itulah Injil, sebuah pengalaman seseorang mengenal Tuhan Yesus. Di situlah, lebih luas lagi: pengenalan akan Yesus tidak terbatas pada apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Kemuliaan dan keagungan Tuhan kita Yesus Kristus tidak bisa dibatasi hanya dalam Kitab Suci,  non sola scriptura. Keagungan Tuhan terpancar dan mengatasi semua ciptaanNya!

Mens sana in corpore sano, dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Pemahaman ini amat-amat terbatas! Namun kiranya, sedikit banyak, amat membantu kita dalam mengerti adanya relasi kehidupan sehari-hari dengan kehidupan rohani seseorang; dan saya memberanikan diri bahwa pemahaman ini mengacu pada perintah Yesus melalui Lukas tadi:  'pergilah untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang'. Sebab seseorang yang sakit seringkali kurang dapat berpikir dengan jernih dan baik, tak jarang dia berkata-kata sembarang tanpa adanya kendali diri, dia berkata-kata secara emosional melulu, tidaklah demikian dengan mereka yang mempunyai kondisi sehat, ia akan mampu berpikir dengan jernih dan berkata-kata dengan benar, ia mampu merenungkan pengalaman hidup dengan amat reflektif; dan sebaliknya, pikiran yang reflektif mampu mengendalikan tindak dan kata-kata seseorang, karena dia mampu memberikan evaluasi tindakan mana yang berguna bagi tubuh atau tidak.

Karena itu, ada baiknya pewartaan Kerajaan Allah dikaitkan dengan penyembuhan, anugerah kesembuhan akan membangkitkan seseorang untuk berani bersyukur kepada Tuhan sebagai satu-satu Sumber Kehidupan; Dialah yang berkuasa, Dialah yang memberi, sudah layak dan sepantasnya kita hanya mengabdi kepadaNya.  Proses  penyembuhan tak jarang membangkitkan semangat seseorang dari keterpurukan hidup yang paling pahit mengarah pada kehidupan yang penuh pengharapan.

"Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat".

Pewartaan Kerajaan Allah mengarahkan seseorang untuk mencari Kerajaan Allah sebagai 'mutiara yang bernilai dan berharga', dia diminta untuk tidak mencari yang lain; semuanya ditinggalkan dan bila perlu dijual untuk mendapatkan 'mutiara yang bernilai dan berharga' itu. Demikian badan dan jiwa yang sehat dimiliki orang yang berani membatasi diri dan yang hanya perlu dan penting bagi hidupnya; apalah kekayaan kalau saya tidak bisa menguasai diri, apalah kemiskinan kalau membuat hati ini menggerutu. Secara indah Amsal hari ini mengajarkan kepada kita: "dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan, jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan; biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku, supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: siapa TUHAN itu? atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku".

Yesus pun membekali kita. Bila kita berani menyadarinya, kita pun akan berani membagikannya dengan penuh sukacita, sebab memang itulah yang diberikan kepada kita sebagai bekal perjalanan hidup ini.

Yesus, berkatilah saudara-saudari kami yang bekerja di daerah-daerah pedalaman, yang jauh dari keramaian, jauh dari layanan komunikasi dan aneka hiburan. Semoga Engkau sendiri menjadi penghiburan dan kekuatan bagi mereka.

Yesus, dampingilah mereka selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening