Sabtu XXIII, 11 September 2010

1Kor 10: 14-22 +  Mzm 116  +  Luk 6: 43-49

 

Ada dua hal yang dikatakan Yesus dalam InjilNya hari ini.

Pertama, tentang pohon dan buahnya. "Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik; sebab setiap pohon dikenal pada buahnya, karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur".

Benar memang apa yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan ini: kita mengenal pohon dari buahnya, buah mengungkapkan keberadaan pokok pohon yang menghasilkan dirinya.  Demikian juga bagaikan pohon, "orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya". Keluhuran hati seseorang akan tampak dalam aneka kata dan perbuatannya, abundantia cordis os loquitur, begitu juga sebaliknya kejahatan hati seseorang juga tampak dalam tindakan dan karyanya.

Karena itu, Yesus mengajak setiap orang untuk mempunyai hati yang suci dan murni, sebab semuanya itu akan membentuk dan memformat manusia dalam pilihan kata dan tindakan; pemurnian harus dimulai dari akar tindakan, dan bukannya dari tindakan itu sendiri, memangkas rumput tidaklah cukup hanya dari dedaunannya saja, melainkan dari akar-akarnya, sanatio in radice. Dia menegaskan dengan memakai perbandingan hokum Taurat yang mengatakan: 'jangan berzinah, tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya' (Mat 5: 27-28). Perzinahan sudah dimulai oleh seseorang ketika dia menginginkan perempuan yang dilihatnya, dan bukannya ketika ia melakukan tindakan zinah.

'Dari buah kita mengenal pohonnya', dan untuk mendapatkan buah yang baik kita diminta merawatnya, memberinya air dan pupuk agar selalu menghasilkan banyak buah. SabdaNya adalah pupuk kehidupan.

Kedua, tentang bangunan rumah. Yesus bersabda: "mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?". Penyataan Yesus ini sungguh-sungguh menegaskan kepada kita agar kita berani melaksanakan kehendakNya, karena memang yang menentukan hidup seseorang bukanlah seruan dan tindakan kita, tidak ada orang yang berjasa terhadap Tuhan, melakukan kehendak dan permintaanNya. Kita boleh berdoa dan berdoa, kita boleh berseru dan berseru, bahkan memuji dan sembah bakti kepadaNya, semuanya itu tidak menambah kemuliaan Tuhan, kita malahan memang dianjurkan untuk selalu rajin berdoa kepadaNya, tetapi bagiNya melaksanakan kehendakNya itulah yang menjadi kesukaan hatiNya, malahan kita diangkat menjadi saudara dan saudariNya. 'Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya' (Luk 8: 21).

Karena itu, tegasNya: "setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu, ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun; akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar, ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya". Sabda Tuhan Yesus adalah batu dasar kehidupan bagi setiap orang.

Mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakan itu berarti kita berpaut dan mengandalkan kekuatan hidup daripadaNya dan bukan dari yang lain. Hanya kepada orang yang kita percayai kita biasanya tunduk dan taat, demikian juga hanya kepada Tuhan Yesus yang adalah Empunya kehidupan kita percaya dan berserah diri, maka apa yang dikatakanNya itulah yang menjadi panutan kehidupan kita. Paulus dalam bacaan pertama dengan bahasanya sendiri, mengajak kita untuk selalu mengandalkan kekuatan hidup hanya pada Tuhan; menduakan Dia akan mendatangkan celaka bagi kita sendiri. Tegas Paulus: "aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat; kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat; kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat; atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?".

Yesus Kristus, perdengarkanlah suaraMu selalu dalam hati kami, agar kami menjadi pelaksana-pelaksana sabdaMu dan bukan hanya pendengar yang menipu diri; semoga keberanian kami untuk selalu mendengarkan dan mendengarkan sabdaMu membuat hati kami menjadi kudus seperti Engkau sendiri kudus.

Yesus, kuduskanlah hati dan pikiran kami, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening