Sabtu XXIV, 18 September 2010

1Kor 15: 35-49 +  Mzm 56  +  Luk 8: 4-15

 

"Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan", surat Lukas dalam Injilnya hari ini. Mengapa Yesus mengemukakan sebuah perumpamaan, pasti ada maksudNya, kita lihat saja. Yang jelas, Yesus diikuti oleh banyak orang dari pelbagai daerah, mereka datang berduyun-duyun, dan mereka pasti juga mempunyai maksud tertentu rupanya.

PerumpamaanNya:

"ada seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya, pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis,

yakni orang yang telah mendengar firman, kemudian datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air,

yaitu mereka yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat,

ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan".

Setelah berkata demikian Yesus berseru: "siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!". Sepertinya Yesus mengingatkan mereka semua yang berduyun-duyun datang kepadaNya. Semua orang itu tertarik kepada Yesus, tertarik pada ajaranNya; tetapi tidak semua orang mempunyai kualitas ketertarikan yang sama, yang satu berbeda dengan yang lain. Namun begitu, Yesus tidak bermain kuasa dalam ketertarikan seseorang kepadaNya. Tuhan Yesus tidak bermain kuasa dalam iman kepercayaan seseorang, Dia tidak pernah main kekerasan untuk memaksa seseorang percaya dan mengikutiNya. Sebaiknya para pengikutNya tidak perlu memaksa seseorang untuk menjadi anggota Gerejanya, apalagi dengan memamerkan anugerah-anugerah yang dimiliknya, akan lebih baik kalau mereka yang mendapatkan pewartaan itu mampu 'melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga' (Mat 5: 16).

Kita termasuk jenis tanah yang mana?

Pasti tidaklah seperti benih yang tertabur dan jatuh di pinggir jalan, yang terinjak-injak banyak orang dan dimakan burung-burung di udara, karena memang kita mempunyai iman dan kepercayaan kepada Dia yang penuh kasih, bahkan kita menikmati aneka karuniaNya. Demikian juga, tanpa maksud meremehkan dan menyepelekan, kita pun ternyata belum juga sampai menjadi tanah subur yang menghasilkan banyak buah; sudah menghasilkan banyak buah memang, tetapi belumlah memenuhi harapanNya yang "tumbuh berbuah seratus kali lipat", namun semuanya tetap harus kita syukuri karena buahnya yang melimpah dan memberikan harapan.

Namun apakah ada di antara kita bagaikan tanah yang berbatu-batu? Tidak ada juga tentunya, karena memang kita adalah orang-orang yang tahu berterima kasih kepadaNya. Dia adalah Tuhan yang berbelaskasih.

Bagaimana dengan tanah yang dipenuhi dengan semak berduri? Kiranya kita masing-masing dapat merenungkannya? Bagaimana tanah kehidupan kita? Kita masing-masing dapat menjawabnya, karena memang kita yang menghidupinya; namun dalam hidup bersama, kita semakin mampu menemukan diri kita masing-masing.

Berbicara soal tanah, tubuh jasad kita pun pada akhirnya akan kembali kepada ibu pertiwi, semuanya terjadi karena warisan Adam yang kita terima, bukan untuk menyalahkan dia, bapa Adam, tetapi sebagai refleksi akan keterbatasan dan kelemahan kita sebagai ciptaanNya yang termakan waktu dan tempat. Manusia hanyalah debu tanah yang dapat hembusan daripadaNya. Namun pada akhirnya kita harus tetap berpegangteguh pada iman dan harapan kita untuk menikmati kehidupan kekal melalui kebangkitan bersamaNya.

Palus menuliskan: "saudara-saudariku, apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu; dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati; ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan, ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan, ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah; jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi".

Kasih Allah yang mengundang dan mengundang dapat kita bandingkan dunia pertanian sekarang ini yang makin hari makin modern yang memang membuat tanah menjadi subur dan menghasilkan banyak buah. Demikianlah tanah kehidupan kita pun dapat makin hari makin subur dan menghasilkan banyak buah, kalau kita mau menggunakan air dan pupuk kehidupan yakni sabda dan kehendak Dia sendiri yang memberi kehidupan.

Yesus Kristus, suburkanlah tanah hidup kami agar siap sedia menumbuhkan benih yang Engkau tabur, dan bahkan menghasilkan banyak buah. Demikian juga saudara-saudari kami di daerah pedalaman yang jauh dari dunia informasi dan modernisasi, semoga kemiskinan dan ketertinggalan mereka tidak merebak pada kemiskinan hati dan budi mereka untuk mengenal Engkau.

Yesus, gemburkanlah tanah kehidupan kami, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening