Sabtu XXV, 25 September 2010

Pengk 11: 9 – 12:8 +  Mzm 90  +  Luk 9: 43-45

 

Hari demi hari Yesus yang tidak memperkenalkan siapakah DiriNya, ternyata semakin hari semakin banyak dikenal orang, karena memang mereka mendengar dan melihat Yesus, mereka terbuat kagum kepadaNya; orang-orang tarhonjar (terpesona) kepada Yesus dengan segala kata dan perbuatan yang dilakukanNya.

Apa memang disengaja oleh Yesus untuk mendapatkan perhatian dari banyak orang?

Tidak!  Yesus tidak pernah mencari sensasi!

Bukan saya membelaNya, tidak ada gunanya membela Yesus! Sebab memang Dia lebih hebat.

"Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia". Sepertinya Yesus menyurutkan kekaguman dan keheranan orang-orang yang mendengarkanNya, Dia 'tidak bergembira, tidak tertarik dan tidak tergiur' kekaguman orang-orang yang mengikutiNya, karena memang bukan untuk itu Dia datang; Dia tidak mencari sensasi, Dia tidak mencari pujian. Dengan penyataanNya itu, Dia menegaskan Orang yang mereka kagumi itu bukanlah seperti seorang pahlawan yang mereka damba-dambakan, Dia hanya seorang 'Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia'. Dia dirundukkan ke bawah kuasa manusia yang dapat dikalahkan dan dapat mati.

Konkritnya seperti Injil hari kemarin Yesus menegaskan: 'Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga'.

Dan inilah kelemahan kita manusia, malu bertanya sesat di jalan, sebab ketika mendengar penyataanNya itu, "mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya".

Sabda Tuhan adalah pelita kehidupan, maka kiranya kesetiaan kita untuk berani bertanya dan bertanya kepada Tuhan; bertanya kepada Tuhan Yesus, bukanlah berarti kita ngelamak atau melawan kehendak dan kemauanNya, bertanya kepada Tuhan berarti adanya tanggapan dari pihak kita manusia yang memang membutuhkan kasih dan kerahimanNya. Bagaimana keberanian Abraham berdoa dan berdoa dan bahkan menawar kemurahan hati Allah yang akan mengganjar dengan hukuman bagi orang-orang Gomora (Kej 18: 20-33), berapa kali Musa 'meluluhkan hati' Tuhan Allah yang hendak menghukum umat Israel yang telah dipilihNya (Kel 32: 7-14), betapa kagetnya Elizabeth dan bertanya-tanya dalam hatinya: 'siapakah aku ini, sehingga ibu Tuhanku mengunjungi aku' (Luk 1: 43), dan Maria sendiri yang dengan berani bertanya 'bagaimana semua ini bisa terjadi karena aku belum bersuami?' (Luk 1: 34).

Bertanya kepada Tuhan Yesus berarti adanya kemauan dan usaha seseorang untuk menanggapi kehendakNya, seseorang bertanya karena adanya sesuatu yang baik yang dikejarnya. Sebaliknya, Pengkotbah dalam bacaan pertama hari ini mengingatkan: orang yang mengabaikan kehendak Tuhan dan kurang menaruh perhatian padaNya, malahan mencari kesenangan diri akan mendatangkan persoalan bagi dirinya. Katanya: "bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!", atau bahkan dalam perputaran waktu, seseorang tidak merasakan sesuatu sentuhan apapun terhadap dirinya, "tak ada kesenangan bagiku di dalamnya! Semuanya sia-sia!".

Ketidakpeduliaan seseorang terhadap Allah, menjadi perhitungan bagi Allah sendiri, Ia, 'Allah akan membawa engkau ke pengadilan'.

Hari-hari ini, banyak orang bangga dan kagum kepada Yesus, bersyukur selalu atas segala anugerah yang diterima mereka, bersyukur selalu atas kesempatan untuk berdoa dan mendengarkan sabda Tuhan; mereka bangga dan berterimakasih atas semuanya itu, dan mereka menyempatkan diri membentuk komunitas-komunitas. Kebanggaan dan kekaguman mereka atas segala karunia yang telah diterimanya tanpa sengaja dijadikan sebuah bendera yang menyatukan komunitas-komunitas mereka. Itu amat baik! Namun kiranya pembicaraan tidak sebatas dan seluas relasi antar komunitas dan persoalan mereka, dunia ini tak seluas daun kelor. Ke-tidak-mau-tahu-an akan realitas di luar komunitas adalah suatu bentuk penutupan diri akan segala kebaikan Tuhan yang terpancar di segenap ciptaanNya, atau bahkan 'Anak Manusia yang akan diserahkan ke dalam tangan manusia' akan terasa kabur, karena memang tangan-tangan manusia itu pasti bukanlah tangan-tangan mereka yang berada di dalam komunitas. Ke-tidak-mau-tahu-an akan realitas di luar komunitas berarti pengabaian akan kehendak 'Anak Manusia yang rela diserahkan ke dalam tangan manusia'.

Ya Yesus, buatlah kami menjadi orang-orang yang tidak berhenti pada rasa kekaguman terhadap Engkau, melainkan semakin berani mendekati Engkau dalam setiap peristiwa hidup kami, mengenal Engkau apa AdaNya yang memang mau rela hadir dalam diri sesame, bahkan alam ciptaan semuanya ini.

Yesus, bantulah kami selalu, amin

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening