Selasa XXIV, 14 September 2010

Pesta Pengangkatan Salib Suci 

Bil 21: 4-9 +  Mzm 78  +  Yoh 3: 13-17

 

"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia", tegas Yesus dalam Injil hari ini. Bagaimana dengan Henokh, bagaimana dengan Elia?  Mudah dimengerti mungkin dengan terangkatnya Maria ke surge, sebab memang misteri kenaikannya ke surga tidaka akan bisa terjadi bila dilepaskan dari peran sang Puteranya; tidaklah demikian dengan Henokh dan Elia yang mendahuluiNya. Kiranya kita berani berkata : tidak ada yang mustahil bagi Allah, sebab realitas keselamatan bertumpu pada kasih Allah dan bukannya kemauan manusia. Karya penebusan Kristus tidak berlaku saja ke depan tetapi juga ke belakang, sepanjang perjalanan hidup manusia.

"Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal". Penyataan Yesus ini memang terpenuhi sungguh, ketika Dia bergantung di kayu salib; pada saat itulah Dia menyatakan kemuliaanNya, pada saat itulah Dia menyatakan siapakah diriNya. KeberadaanNya di kayu salib menyatakan bahwa: "begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia".

Bila dalam bacaan pertama mengetengahkan pengalaman bangsa Israel yang berkeluhkesah kepada Tuhan dan sama sekali tidak berterima kasih kepadaNya, dan Tuhan Allah menegur mereka melalui Musa dengan berkata: "buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup", kini dengan peninggian Yesus di kayu salib, Dia bukan lagi sebagai lambang karya Allah yang menyelamatkan, melainkan Dia sendiri yang adalah Allah datang dan menyelamatkan umatNya sebagai imam yang menyampaikan kurban dan sekaligus  menjadikan diriNya sebagai kurban tebusan bagi banyak orang. Yesus sungguh-sungguh menyatakan diriNya menyatakan kemuliaan kodrat diriNya yang memang sungguh-sungguh Allah mau menjadi manusia hanya untuk menebus dan menyelamatkan umat manusi dan dunia.

Semuanya ini harus terjadi bukan di Betlehem atau Nazaret atau di Kapernaum, melainkan di Yerusalem, tepatnya di kayu salib. Karena itu, Ia tidak meminta orang untuk mengadakan tapak tilas dengan pergi ke Betlehem atau Nazaret atau ke Kapernaum atau ke Yerusalem, Ia meminta semua orang yang percaya dan mengikutiNya untuk memandangNya yang bergantung di kayu salib; dan untuk semakin merasakan keindahanNya adalah dengan tinggal di dalam salibNya yang kudus.

'Tinggal di dalam salibNya yang kudus' berarti berani bertindak seperti Yesus yang akrab dengan salibNya. Ia menerima salibNya dan kemudian memanggulnya, dan pada akhir perjalanan hidupNya salib menerima Dia dan mentakhtakanNya; pertama salib ada di bahuNya dan kemudian Dia ada di bahu salib dan pada saat itulah Ia menyerahkan hidupNya kepada Bapa di surge guna keselamatan dan kehidupan semua murid yang dikasihiNya.

O Salib indah mulia

Yang dihias darah Raja

Kau terima kehormatan

Menjadi tumpuhan Tuhan

Bahagialah lenganmu

Gantungan tangan terpaku

Yang lemas namun kuasa

Merebut mangsa neraka

Sungguh mulia panji Raja

Salib suci bercahaya

Padamu Pencipta kita

Dipaku tidak berdaya

Padamu Kristus beradu

Lambung ditikam serdadu

Mengalirkan air darah

Mencuci dosa yang parah

Salam altar salam kurban

Sebab padamu Pahlawan

Mengalami kematian

Yang membawa kehidupan

Pujian atas Salib Tuhan ini sungguh indah dan menenangkan jiwa, karena kita diberi kepastian bahwa memang Dia telah memberikan nyawa bagi umatNya.

Sungguh menakjubkan bagi setiap orang yang berani mengenakan salib dan membuat tanda salib dalam setiap langkah hidupnya, ia percaya Tuhan yang tersalib akan mendampinginya, ia siap mengawali dan memanggul salib kehidupannya. Ini iman!

Mengikuti Yesus berarti menjadi orang-orang yang berani tersalib, dan bukan orang-orang terpuji!

Salib dahulu adalah tanda cela dan penghinaan, karena memang orang-orang terkutuk yang harus menjalani kematian bersamanya, namun bentuk itulah yang dipilih sang Kehidupan guna menjadikan mereka yang mati karena dosa hidup kembali, Ia secara sengaja turun ke alam maut dan ke tempat penantian, dan mengangkat orang dari sana. Sekarang salib adalah tanda kehidupan dan kemenangan.

'Barangsiapa ingin menjadi muridKu, ia harus menyangkal diri, memanggul salibnya dan mengikuti Aku'.

Yesus Krsitus, berilah kami kekuatan untuk memanggul salib kehidupan kami, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening