Selasa XXV, 21 September 2010

Pesta Rasul Matius

Ef 4: 1-13 +  Mzm 19  +  Mat 9: 9-13

 

Ketika  melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai,  Yesus berkata kepadanya: "ikutlah Aku", maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Matius mendengar panggilanNya langsung berdiri dan mengikutiNya. Itulah iman yang sejati, hari ini mendengar hari ini juga berdiri dan mengikutiNya. Dan Yesus memanggil Matius karena Dia tahu siapakah Matius itu, Ia memanggilnya, karena itulah kemauanNya, bukan berlandaskan keberadaan ataupun kemampuan si Matius, 'bukan engkau yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih engkau'.

Dikatakan Matius langsung mengikutiNya, tetapi di lain pihak ternyata Yesus masih sempat singgah di rumahnya dan makan bersama-sama; mungkin Matius mengadakan acara perpisahan dengan teman-temannya. Diceritakan tadi, 'ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya'. Makan bersama mengandaikan adanya persaudaraan yang akrab dan setia di antara mereka; makan bersama mendamaikan segala sesuatu.

Namun sebaliknya, tindakan Yesus mengundang pertanyaan bagi banyak orang: "mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?". Memang tidak layak Orang setenar dan sehebat ini harus bergaul dengan mereka kaum pendosa dan pemungut cukai.

Yesus meluruskan pandangan yang ada selama itu, kataNya: "bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa". Ia datang bukan untuk orang benar, Ia datang dan mengajak orang berdosa kembali kepadaNya.

Di hari pesta santo Matius Rasul, Gereja kembali diingatkan bahwa peranan Allah dalam karya penyelamatan amatlah penting dan tak tergantikan; Allah yang berkarya dan menentukan, Allah yang menghendaki agar semua orang beroleh selamat, Ia tidak menghendaki umatNya hilang dan binasa, apapun realitas umatNya tidaklah menjadi  ukuran, kemauan dan kehendakNya satu-satunya entry point dan ukuran seseorang beroleh selamat. Allah yang berkehendak!

Bila demikian kita bebas bertindak begini dan begitu, bukankah keberadaan dan kondisi tidak menjadi perhitungan, melainkan hanya kehendak dan kemauanNya?

Benar memang!

Matius pun demikian.

Bukan dia yang memilih Yesus, melainkan Yesus yang memilihnya, panggilan Matius bertitiktolak dari kemauan Tuhan Yesus sendiri; Yesus yang memanggil: ikutlah Aku; dan keunggulan Matius adalah reaksi pendengarannya yang langsung berdiri dan mengikutiNya, ia melupakan dan meninggalkan ketidakberdayaan dan kelemahannya, ia hanya tahu sekarang ada Seseorang yang memanggilnya dan membuat hatinya baru, ia merasakan ada Seseorang yang telah mengubah hatinya.

Kita adalah orang-orang yang dipanggilNya juga, seperti Matius yang 'melupakan dan meninggalkan ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan hanya tahu sekarang ada Seseorang yang memanggilnya dan membuat hatinya baru', demikianlah kita semua. Baiklah kita dengar suaraNya dan kita ikuti. Paulus dalam bacaan pertama menasehatkan: "sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu, hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu, dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua".

Apakah ajakan Paulus ini hanya mengarahkan kita pada hidup yang baik dan berpadanan dengan hidup Kristus? Apakah ajakan ini tidak mengikat kita sehingga kita tidak bisa bertindak sekehendak kemauan diri kita? Adakah kebebasan yang lain?

Ajakan Paulus tadi adalah sebuah undangan, dan bukannya paksaan; ia hanya mengharapkan dan mengharapkan; apalah Paulus, apalah Apolos? Yesus pun bertindak demikian, Ia memanggil dan memanggil, Ia mengajak mereka orang-orang berdosa untuk datang dan datang kepadaNya, makan bersama-sama denganNya; kemauan baik yang memanggil semua orang datang kepadaNya itu menghapus keberadaan dan segala pengalaman lampau, Ia tidak memperhitungkannya kembali dan tidak mengingat-ingat pengalaman lampau; kiranya orang-orang yang ingin tetap hidup dan selamat, sebagaimana pengalaman bendahara yang tidak jujur kemarin,  berbalik arah kepada Yesus dan mengikutiNya, karena memang aku tidak mau mati, aku ingin tetap hidup, aku harus tetap makan, aku harus selamat!

Kiranya semangat Matius menjadi semangat kita dalam mengikutiNya, yang walaupun kemapanan diri sebagai seorang pemungut cukai lebih enak dan menggiurkan untuk hidup sekarang ini, semuanya terpenuhi, ditinggalkannya karena Dia yang memanggilnya.

Siapakah Dia itu sesungguhnya bagi saya?

Santo Matius Rasul, doakan dan bantulah kami untuk beranjak mengikuti Dia.

Amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening