Selasa XXVI, 28 September 2010

Ayb 3: 11-17  +  Mzm 88  +  Luk 9: 51-56

 

"Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya".

Yesus mempersiapkan segala sesuatu yang akan terjadi pada diriNya; dan semuanya akan terjadi di Yerusalem, sebuah kota yang memang sudah menjadi incaran dan sasaran banyak orang, dan bahkan dunia. Yerusalem menjadi tempat pujian dan kebanggaan bagi banyak orang, tetapi tak dapat disangkal, Yerusalem juga mendapatkan kecaman dari Tuhan sendiri: 'Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau'. Yerusalem menjadi tempat terpenuhinya dan penggenapan dari tugas perutusan Yesus.

Namun sedikit aneh dalam pernyataan Lukas tadi, dikatakan 'ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem'. Mengapa yang menjadi tekanan akhir dari dari seluruh rencana perjalananNya adalah waktu Dia 'diangkat ke sorga'; tak dapat disangkal dan benar memang bahwa Yesus akan naik ke surga, namun mengapa tidak menyebut sama sekali inti dari tugas perutusan Yesus yang adalah kematian dan kebangkitanNya? Itulah karya penebusan. Bukankah Dia menampakkan kemuliaanNya ketika ditinggikan di salib? Apakah Lukas hanya ingin menyebut memang bahwa akhir perjalanan Yesus sebagai manusia sama seperti kita di dunia itu adalah ketika Dia terangkat ke surge?

"Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem". Mereka orang Samaria tidak mempunyai perhatian kepada Yerusalem, mereka tidak berkiblat kepada Yerusalem, sebab memang mereka mempunyai keyakinan bahwa Allah hadir di gunungNya yang kudus, dan bukan di Yerusalem, dan 'nenek moyang kami menyembahNya di atas gunung ini' (Yoh 4: 20). Kepergian Yesus ke Yerusalem tidak sesuai dan bertolakbelakang  dengan pandangan hidup keagamaan mereka; sudah sewajarnya mereka menolak  Yesus.

Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, dan bukannya Petrus yang temperamental itu, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?". Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.

Dasar penerimaan akan Yesus adalah sukarela dan bukan paksaan. Yesus Tuhan tidak pernah memaksa orang untuk percaya kepadaNya. Di sinilah keindahan Tuhan Allah sang Empunya kehidupan ini, Ia mempunyai kekuasaan penuh terhadap umat milikNya, umat penggembalaanNya, tetapi Dia tidak pernah bermain tangan besi, Dia tidak pernah bermain dengan kekerasan dan paksaan terhadap umatNya. Pewartaan akan keselamatan dengan menggunakan kekerasan amatlah kontra-produktif, bila tokh berhasil hanya bersifat sementara. Adalah hak orang-orang Samaria untuk menolak Yesus!

Masih adakah pewartaan keselamatan seperti itu sekarang ini?

Tidak ada!

Mungkin pewartaan agama semacam itu masih ada.

Ditolak adalah pengalaman yang pahit dan tidak mengenakkan; tetapi seperti Allah Bapa yang Murah hati, yang memberi hujan dan matahari bukan saja kepada orang-orang benar tetapi juga untuk mereka yang kurang benar, demikianlah hendaknya kita semua yang percaya kepadaNya.

Allah berbuat baik kepada semua orang, tanpa terkecuali. Orang yang berkesusahan pun masih diberi pepadang supoyo ora cupet pikirane, sebagaimana dikatakan dalam bacaan Ayub hari ini.  "Terang masih diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati; yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam; yang bersukaria dan bersorak-sorai dan senang, bila mereka menemukan kubur; kepada orang laki-laki yang jalannya tersembunyi, yang dikepung Allah", supaya mereka bangkit dari keterpurukan hidup, hidup kembali, dan berbalik kepada Allah.

Sebagaimana penggenapan karya penyelamatan Allah terpenuhi di Yerusalem, dan tidak di tempat lain, aneka tantangan dan rintangan tetap dihadapiNya dengan kasih, demikianlah kiranya yang menjadi pesan Injil kepada kita hari ini. Cita-cita hidup harus kita gapai, ada tantangan ada rintangan itu soal biasa, dan tidak perlu ditanggapi secara emosional, supaya kita pun tidak ditegur Yesus; semuanya harus kita hadapi dengan kepala dingin dan penuh kasih. Yesus mengajak para muridNya mencari jalan lain untuk mencapai Yerusalem. There is a will, there is a way.

Terlebih lagi, pewartaan keselamatan harus dengan dan dalam kasih.

Yesus, teguhkanlah semua orang dalam mengejar cita-cita, usaha dan karya, dan perkuatlah daya juang kami untuk memperoleh sesuatu keindahan hidup, semoga kami semua menjadi orang-orang yang ulet dan tidak mudah putus asa.

Yesus, balut dan bungkuslah semangat kami dengan kasihMu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening