Senin XXIII, 6 September 2010

1Kor 5: 1-8  +  Mzm 5  +  Luk 6: 6-11

 

Lagi-lagi tentang hari Sabat.

"Bangunlah dan berdirilah di tengah!", tantang Yesus kepada orang-orang Farisi dengan mengajak orang yang lumpuh tangannya berdiri, "Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?". Semua diam, tidak komentar! Semuanya dikatakanNya sekaligus sebagai reaksi Yesus memang terhadap mereka, 'Ia mengetahui pikiran mereka', sebab seperti diceritakan dalam Injil tadi, "ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia".

Persoalan diletakkan bukan pada boleh atau tidak melakukan sesuatu pada hari Sabat, melainkan pada adanya seseorang yang harus diselamatkan.

Ketika pertanyaan tadi diungkapkan, tak ada seorang yang berani menjawabNya; dan tentunya semua akan menjawab: 'menyelamatkan', orang bodoh pun tahu! Namun mengapa tidak boleh dilakukan pada hari Sabat?

Sekarang pun sering terjadi di antara kita berkenaan dengan waktu: banyak orang taat secara kaku pada waktu-waktu tertentu yang berbau 'mistis dan tahyul' daripada taat pada waktu-waktu yang memang diperlukan kedisiplinan diri. 'Tindakan ini' harus kita lakukan pada jam tertentu, tidak boleh pada waktu lain; menurut perhitungan tanggal, semua perhelatan kita ini hanya bisa dilakukan pada jam 3 sore; siapa yang mengharuskan? Mereka menentukan waktu tanpa memperhitungkan aspek sosial dari keputusan itu, suatu keputusan yang sulit ditolerir. Sebaliknya, mereka semua tidak berani mengharuskan diri dan tegas bahwa sebuah pertemuan bersama harus dilakukan tepat pada waktunya dan tidak molor! Tidak bisakah kita berbuat baik di luar saat yang berbau mistis itu, apakah yang menyelamatkan dan mengabulkan sebuah permohonan itu karena ketepatan waktu? Lebih baik,  mari kita disiplin dan tepat waktu dalam pertemuan-pertemuan bersama.

Kembali pada hari Sabat tadi, dikatakan dalam kitab Keluaran 20:  'hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu'. Apa arti pekerjaan yang dimaksudkan, tidak boleh lembur, tidak boleh melakukan pekerjaan yang memang itu adalah pekerjaan sehari-hari? Tidak jelas memang. Menyembuhkan adalah suatu pekerjaan, maka tentunya Yesus harus dilarang mengadakan penyembuhan pada hari Sabat. Sebenarnya, ahli-ahli Taurat juga dilakukan membacakan Kitab Suci pada hari Sabat, bukankah membacakan kitab suci juga merupakan pekerjaan harian mereka?  Tidak dapat disangkal, hari Sabat diperjualbelikan hanya untuk mempersalahkan dan menangkap Yesus!

"Ulurkanlah tanganmu!", perintah Yesus kepada orang yang lumpuh tangannya. Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya.

Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Yesus berani melawan arus demi keselamatan orang lain. Ia tertuduh sering membikin onar di tengah masyarakat sosial, terlebih di hadapan tua-tua masyarakat.

Apa yang dibuat Yesus adalah mau memberi wacana hidup baru kepada umat pilihanNya, sebuah wacana hidup yang lebih manusiawi, bahkan bewarna ilahi, karena berdasarkan semangat Kristus sendiri yang memberi kehidupan baru. Istilah Paulus dalam bacaan pertama adalah bahwa Yesus memberikan ragi baru sehingga menjadi adonan yang baru pula. Kata Paulus: "buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran".

'Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat'. Segala sesuatu yang kita lakukan tidak akan bertentangan dengan hari Sabat sejauh kita mengikuti sang Anak Manusia yang Empunya hari Sabat. Begitulah perbandingannya.

Kiranya setiap langkah hidup kita selalu menjadi berkat bagi orang lain, segala yang kita lakukan hendaknya tidak membungkam, menjadi batu sandungan, dan bahkan membinasakan sesame kita, malahan justru menyelamatkan mereka, sehingga mereka memuji Dia sang Empunya kehidupan, Bapa di surge.

Semoga.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening