Senin XXIV, 13 September 2010

1Kor 11: 17-26 +  Mzm 40  +  Luk 7: 1-10

 

Di Kapernaum ada seorang perwira, perwira Roma tentunya, yang dikenal baik dan suka menolong dan penuh perhatian terhadap sesamanya. Ia seorang perwira, tapi mau mengusahakan kesembuhan untuk hambanya yang sedang sakit keras dan hampir mati. Ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi pergi kepada Yesus untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Ia meminta para tua-tua Yahudi yang menjumpai Yesus, dan bukan hamba-hambanya yang lain, karena sepertinya dia serius memintanya dan dia juga menghormati siapakah Yesus itu. Mereka amat apresiatif kepada perwira itu; hal tampak dari permohonan mereka kepada Yesus, katanya: "ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami". Belaskasih mengalahkan sekat-sekat sosial.

Lalu pergilah Yesus bersama-sama dengan mereka.

Ketika Yesus tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepadaNya: "tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu". Terjawablah, kenapa dia tidak datang sendiri kepada Yesus meminta bantuanNya, tetapi dengan memohon bantuan orang lain, perwira itu sungguh-sungguh merasa tidak layak dan pantas berjumpa dengan Yesus. Apalah dirinya!  Namun dia yakin bahwa Yesus mampu menyembuhkan hambanya itu hanya dengan sabdaNya, "katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh". Inilah kehebatan sang perwira ini, dia adalah seorang yang beriman!

"Aku sendiri hanyalah seorang bawahan", tegas perwira itu, "memang di bawahku ada pula prajurit; jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya". Dengan jujur ia mengakui siapakah dirinya.

Ternyata ada sesuatu yang indah di Kapernaum!

Yesus pun heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!". Israel mendapatkan perhatian, karena seharusnya orang-orang seperti perwira Roma ini ada banyak di tengah-tengah orang-orang Israel, karena memang mereka bangsa terpilih, umat milik Allah sendiri; dan selama ini Yesus belum pernah menjumpainya.

Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali. Tidak diceritakan sama sekali: apakah Yesus mengatakan pulanglah anakmu sudah sembuh atau bangkit dan berdirilah, tetapi yang jelas 'didapatinya hamba itu telah sehat kembali'. Iman kepercayaan sang perwira itu sungguh-sungguh telah menyembuhkan hambanya yang sakit, minimal berkat iman kepercayaannya itu kesembuhan didapatkan sang perwira bagi hambanya, sebab memang iman kepercayaanlah yang dicari dan diperhitungkan oleh Tuhan Yesus; Yesus datang untuk menaburkan iman kepercayaan kepada semua orang, Ia mewartakan bahwa Allah itu berbelaskasih, kesembuhan adalah sebuah resiko dari sebuah iman kepercayaan.

Bagaimana dengan kita semua yang sudah mempunyai iman?

Imanmu telah menyelamatkan engkau! Rumusan inilah yang selalu dikemukakan Yesus kepada setiap orang yang datang kepadaNya. Apakah kita pernah memprotes penyataan Yesus ini? Atau pernahkah kita melihat ada orang yang memprotes penegasan Yesus ini, sebab kita telah percaya tetapi ada banyak permohonan kita yang tidak diindahkanNya? 

Kiranya ada baiknya kira kontemplasikan dalam hidup kita, sebagaimana yang sudah kita renungkan beberapa hari lalu, bahwa dengan beriman kepada Yesus, kita diajak untuk menjadi orang-orang yang berani memandang masa depan dengan baik, menjadi orang-orang yang berani berusaha dan berusaha, menjadi pejuang-pejuang kehidupan, dan bukannya pengemis kehidupan. Kita pun dengan iman yang kita miliki malahan diajak untuk berani mensyukuri segala anugerah yang kita terima daripadaNya dan siap sedia membagikannya kepada sesame sebagaimana dimaksudkan dengan pemberianNya itu.

Paulus dalam bacaan pertama mengajak kita agar kita semakin menjadi sesame bagi orang lain, kita harus ungkapkan dan kita nyatakan dalam persekutuan di mana kita berada dan tinggal. Paulus menegur orang-orang yang mencari kepuasan diri dalam hidup bersama, dan semuanya itu sepertinya harus terjadi guna menemukan orang-orang yang setia dalam kasih hidupnya dan yang tekun menjabarkan iman kasihnya terhadap sesame. Kata Paulus: "di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji, sebab apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan, pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji". Iman harus tertumpah dalam hidup bersama; demikianlah iman sang perwira tadi sempat dirasakan orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama oleh hambanya yang sakit keras itu.

Ya Yesus, semoga iman kami semakin hari semakin tumbuh dan berkembang, sebab Engkau sendiri menginginkannya. Maka semangatilah iman kepercayaan kami ini dengan rahmat dan kasihMu, sehingga diri kami ini semakin hari dengan tambahnya usia semakin tertarik kepadaMu.

Yesus, teguhkanlah iman kepercayaan saudara-saudari kami yang sakit dan berkesusahan, yang miskin dan menderita, yang mengalami rintangan dan kesulitan, mereka yang tidak banyak menikmati anugerah dan karuniaMu, agar mereka tetap percaya dan yakin bahwa Engkau tetap mendampingi mereka, Engkau tetap mempunyai maksud tertentu dengan kondisi mereka, dan Engkau tidak meninggalkan mereka. Yesus Kristus, berkatilah dan kasihilah mereka selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening