Senin XXV, 20 September 2010

Ams 3: 27-34 +  Mzm 15  +  Luk 8: 16-18

 

"Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya", kata Yesus kepada para muridNya. Orang akan memakai segala sesuatu sesuai dengan kegunaannya, demikian juga pelita tadi.

Demikianlah tentang misteri Kerajaan Allah dan maksud kehendakNya, sekarang kita mendengar dan mendengarNya, ada yang bisa langsung kita mengerti ada yang tidak, atau bahkan pemahaman kita akan sabda dan kehendakNya belumlah sampai pada pengertian yang sempurna, tetapi semuanya akan kita mengerti dan kita pahami pada waktunya, segala-galanya ada waktunya. Kita yakin di kemudian hari misteri itu akan kita mengerti, Yesus pun menegaskannya: "tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan". Semuanya akan disampaikan pada hari dan saatnya.

Kapan itu terjadi? Serentak secara bersama-sama atau sendiri-sendiri?

Kiranya agar tetap menjadi pengharapan kita, baiklah setiap dari kita berjaga dan siap sedia setiap saat untuk mendengar dan menerima penyataanNya. Keberanian untuk mendengarkan dan menerimanya, malahan sepertinya menjadi perhitunganNya, maka dalam penyataanNya tadi Yesus menegaskan: "karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya". Dengan adanya kemampuan untuk mendengar dengan baik, mari kita dengarkan, adanya kemapuan untuk melihat, mari kita gunakan untuk melihat, adanya hati untuk merasakan, mari kita gunakan untuk merasakannya. Inilah kemampuan yang kita miliki, mari kita gunakan sehingga kemampuan itu akan semakin bertambah dan bertambah.

'Bersabdalah ya Tuhan, hambaMu siap mendengarkan', kata Samuel yang menampakkan kemampuannya untuk mendengarkan.

Pemahaman kita akan sabda dan kehendakNya atau misteri KerajaanNya tidak jarang dapat kita pahami dan mengerti, ketika kita berani mengkontemplasikan segala pengalaman hidup kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam peristiwa sehari-hari itulah seringkali Tuhan Allah menterjemahkan sabda dan kehendakNya. Sekedar contoh dari renungan Minggu kemarin, yang mengajak kita untuk menggunakan segala anugerah yang kita miliki itu untuk kepentingan sesame, diungkapkan dalam bacaan pertama hari ini. Kata Amsal dalam bacaan pertama tadi: "janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya; dan janganlah engkau berkata kepada sesamamu: pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi, sedangkan yang diminta ada padamu".  Jujur segala kemampuan dan fasilitas yang kita miliki adalah anugerah dan pemberian Tuhan, tak disangkal memang kita harus dan telah banyak  berusaha untuk mendapatkannya, dan dengan adanya kemampuan tadi, baiklah kita gunakan sebagai kesempatan untuk berbuat baik dan membantu sesame, kita gunakan selama itu masih dapat, kita manfaatkan persabatan dengan mammon yang tidak jujur itu selama mereka dapat kita gunakan, karena itu 'janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal kita mampu melakukannya'.

Kepada mereka 'yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya'. Ini semua akan semakin kita mengerti, kalau kita memang mau berbagi kasih dengan kemampuan yang kita miliki. Orang yang benar akan semakin diberkati dan mereka yang rendah hati semakin dikasihiNya. Amsal tadi menambahkan: "kutuk  TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya;  dan apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Ia pun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya".

Kiranya baik juga, kalau kita harus semakin hari semakin berani mengkontemplasikan hidup keseharian kita; kita melihat, memandang, mendengar dan merasakan bahwa Dia hadir dalam setiap peristiwa hidup kita dalam setiap pergaulan kita, maka di situlah kita akan semakin lama semakin mengerti bahwa: segala yang disabdakanNya kepada kita itu, untuk dihidupi dan bukannya dihafalkan; kita pun mau menjadi pelaksana-pelaksana sabda dan bukannya pendengar yang menipu diri.

Ada keluarga yang setiap jam delapan malam mereka bersatu dalam doa, mereka duduk bersama dan berdoa; pertama, mereka sejenak melihat pengalaman hidup selama hari ini, apa yang telah dapat mereka buat, ada keberhasilan ada kegagalan, lalu mereka bersyukur kepadaNya atas pendampinganNya dan sekaligus memohon ampun atas segala kekurangan yang dimilikinya, kedua, mereka membaca Kitab Suci yang hendak mereka rayakan dalam misa pagi atau hanya dalam doa bersama, minimal mereka berharap bahwa sabda yang mereka dengar itu memberikan arahan buat langkah mereka di hari esok.

Tuhan Yesus, Engkau memperhatikan kami, Engkaupun membuka selubung misteri kehadiranMu hari demi hari, sebab tak mungkin Engkau menaruh pelita di bawah tempat tidur. Karena itu ya Yesus, terangilah kami dengan Roh KudusMu agar kami semakin berani merasakan dan mengalami kehadiran dalam pergauluan hidup kami sehari-hari, amin.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening