Senin XXVI, 27 September 2010

Ayb 1: 6-22  +  Mzm 17  +  Luk 9: 46-50

 

Suatu ketika "timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka".

Suatu hal yang biasa dalam hidup bersama memang, ada daya tarik satu sama lain dan sekaligus daya tolak satu terhadap yang lain, adanya keinginan pribadi untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari yang lain, adanya perasaan mampu dan keinginan untuk menjaga dan mempersatukan semua sebagai komunitas. Keberadaan dan tekanan keinginan dan daya-daya tadi pada setiap orang berbeda satu dengan lainnya. Kalau sekarang ini terjadi di antara para murid Yesus, itu adalah hal yang wajar dan lumrah. Bukankah orang-orang yang semenjak awal dipanggilNya adalah orang-orang sama seperti kita, mereka semua bukanlah orang-orang baik dan berdedikasi; tentu kita tahu siapakah itu Petrus yang emosional dan pernah menyangkal sang Gurunya, Yakobus dan Yohanes yang meminta agar diperkenankan duduk di sebelah kiri dan kanan dalam KerajaanNya kelak, Simon orang Zelot dan bahkan Yudas Iskariot?

Yesus yang mengetahui pikiran mereka, mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, lalu berkata kepada mereka: "barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar".

Yang terbesar di antara mereka adalah seorang yang mempunyai pengaruh kuat terhadap sesame murid, seorang yang mampu mengomandani teman-temannya yang lain, seorang yang mampu menghadapi sesamanya dengan ide-ide dan gagasan, kata-kata yang bijak dan bernada, tindakan dan perbuatan yang mengayomi semua. Itulah orang yang terbesar di antara mereka.

Ingat, yang terbesar di antara mereka tidaklah terbesar di hadapanNya!

Seorang yang  mampu berbicara, menemani dan bergaul dengan anak-anak kecil, dialah yang terbesar di hadapanNya. Sebab apalah anak-anak kecil, dan apalah orang-orang seperti mereka, apa yang dapat diperoleh dengan  menemani dan memperhatikan orang-orang seperti anak-anak kecil itu, kita tidak mendapatkan apa-apa dari mereka, malahan tak dapat disangkal, kita harus mengeluarkan sesuatu buat mereka, perhatian, tenaga, waktu, bahkan biaya. Perhatian terhadap anak kecil berarti juga membuat kita harus keluar dari diri kita, kita tidak mengenakan pakaian siapa aku sekarang, kita harus berpikir dan bertindak ala gaya, pikiran dan bahasa anak-anak, memperhatikan mereka berarti kita memasuki dunia anak-anak, kita tidak membawa mereka kepada dan ke dalam dunia kita, sebaliknya kitalah yang harus memasuki dan menyelami dunia mereka; bukannya kita bersifat kekanak-kanakan, melainkan kita berbicara dalam bahasa dan kata-kata mereka; kita harus sungguh-sungguh turun dalam diri mereka, kita harus merendahkan diri seperti mereka.

Itulah perhatian terhadap orang-orang seperti anak-anak kecil.

Namun kalau kita berani menyambut, memperhatikan dan melayani mereka, di sinilah indahnya,  kita menyambut Kristus sendiri dan sekaligus menyambut Dia, yang mengutus Kristus, yakni Bapa di surge. Tepatlah juga memang dengan sabda yang pernah dikatakan 'kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap pikiranmu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu'. Ternyata kita akan mendapatkan anugerah yang luar biasa dan mulia, bila berani menyambut, memperhatikan dan menemani orang-orang seperti anak kecil, yakni menyambut dan berjumpa bersama Dia sendiri sang Empunya kehidupan ini. Mereka yang berani mendampingi dan memperhatikan orang-orang seperti anal-anak kecil itu ternyata adalah orang-orang yang paling beruntung, karena mereka mendapatkan anugerah yang luhur dan mulia.

Tiba-tiba Yohanes menyela, katanya kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita". Perasaan diri paling sempurna dan unggul, adanya kemampuan bisa berbuat baik,  demikian juga yang dimiliki kelompok yang diikutinya, sebagaimana awal renungan kita tadi, tidaklah hilang serentak dengan permintaan Yesus untuk berani merendahkan diri terhadap orang-orang seperti anak kecil tadi. Perasaan itulah yang mendorong Yohanes berkomentar adanya orang-orang di luar kelompoknya yang mampu berbuat baik seperti mereka; seharusnya dia bangga dengan kemampuan yang dimiliki oleh orang lain itu, juga dimiliki oleh dirinya, tetapi justru sebaliknya, 'kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita'. Saya dan kita kelompok ini, kami satu komunitas ini yang dapat dan boleh melakukan tindakan ini, kamilah yang memiliki, kelompok lain tidak, dan kelompok lain janganlah melakukan seperti kami.

Inilah yang sering terjadi dan terdengar juga sekarang ini. Ini sektarian!

Jawab Yesus kepadanya: "jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu". Penyataan Yesus sungguh menegaskan bahwa dengan banyaknya orang yang dapat melakukan sesuatu yang baik seperti yang kita lakukan berarti semakin banyaklah orang di pihak kita, yakni satu pihak dengan Allah.

Sebagaimana ucapan syukur Ayub tadi, yang kita dengar dalam bacaan pertama, kiranya juga menjadi ucapan syukur kita, bila memang ada banyak orang menerima anugerah Tuhan seperti yang telah kita nikmati: "TUHAN yang memberi aku, dan TUHAN pula yang telah memberikan anugerah yang sama kepada sahabat-sahabatku, terpujilah nama TUHAN!".

Ya Tuhan, ajarilah kami berani sungguh merendahkan diri seperti orang-orang yang harus kami perhatikan dan kami layani, sebagaimana Engkau sendiri merendahkan diri seperti kami manusia, kecuali dalam dosa, sebab hanya dengan bersikap seperti itulah, karya pelayanan kami dapat tepat guna dan mengenai sasaran.

Ya Tuhan Yesus, semoga juga aneka komunitas yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Indonesia semakin Engkau limpahi berkatMu, dan buatlah kehadiran komunitas-komunitas itu semakin membuat kami dikuatkan dan diteguhkan, bahwasannya ternyata semakin banyak orang berpihak dengan Engkau.

Tuhan Yesus, berkatilah kami selalu, amin.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Selasa dalam Pekan Paskah VI, 30 Mei 2017

Sabtu Hening